Home / Berita / Pembunuhan Balas Dendam, Dilema Konservasi Satwa Liar

Pembunuhan Balas Dendam, Dilema Konservasi Satwa Liar

Kasus pembantaian 292 ekor buaya di Sorong, Papua Barat, Sabtu, 14 Juli 2018, menjadi bukti bahwa konservasi satwa liar yang dilindungi tidak mudah. Pembunuhan balas dendam adalah dilema dalam konservasi satwa liar di dunia, termasuk di Indonesia.

–Warga melihat ratusan bangkai buaya seusai dibantai warga setempat di Kabupaten Sorong, Papua Barat, Sabtu (14/7/2018). Aksi itu merupakan bentuk kemarahan warga terhadap pengelola penangkaran yang dinilai lalai setelah seorang warga tewas akibat diterkam buaya.–ANTARA/OLHA MULALINDA

Seperti dilaporkan harian Kompas Senin (16/7/2018) di halaman 11, ratusan orang membantai 292 buaya milik penangkaran resmi CV Mitra Lestari Abadi di Kelurahan Klamalu, Distrik Mariat, Kabupaten Sorong, Papua Barat. Buaya yang dibantai terdiri atas sepasang indukan dan 290 buaya anakan. Pembantaian dilakukan beramai-ramai setelah seorang warga, Sugito (48 tahun), tewas setelah diterkam buaya setelah mencari rumput di dekat penangkaran.

Buaya yang dibantai tersebut tidak disebutkan spesiesnya. Namun, ada dua spesies buaya yang dilindungi di Papua dan Papua Barat, yaitu buaya muara (Crocodylus porosus) dan buaya air tawar (Crocodylus novaeguineae). Dari bentuk tubuh dari foto yang dimuat di suratkabar tidak terlihat dengan jelas spesies mana yang dibantai karena sebagian besar masih berupa buaya anakan.

KOMPAS/LUKAS ADI PRASETYA–Buaya-buaya muara yang masih anakan ini berada di penangkaran buaya CV Surya Raya, Teritip, Balikpapan, Kalimantan Timur, Kamis (13/4/2017). Penangkaran ini menampung 1.500-an buaya.
Kompas/Lukas Adi Prasetya (PRA)

Kasus pembunuhan balasan seperti di Sorong itu tergolong spektakuler karena pembunuhan balasan dilakukan terhadap 292 buaya. Kasus ini barangkali kasus pembunuhan balasan terbesar yang pernah terjadi di Indonesia, bahkan mungkin di dunia. Umumnya, pembunuhan balasan dilakukan terhadap satu atau beberapa buaya yang terbukti memakan manusia.

Kasus sebelumnya yang dicatat harian Kompas 1 Oktober 2007 adalah kasus terjadi di Sungai Singkil, Aceh Singkil, dan di Sungai Woyla, Meulaboh, Aceh Barat, Provinsi Aceh.

Ny Ramisah (40), warga Desa Tangkal Pasir, Kecamatan Singkil, tewas setelah diserang buaya saat mencari kerang di Sungai Singkil pada Januari 2007. Jasad korban ditemukan sehari setelahnya. Korban lainnya adalah seorang anak perempuan pelajar SMP berusia 14 tahun yang tewas diterkam saat mencuci di aliran Sungai Woyla. Jasad pelajar SMP itu ditemukan sehari setelah diterkam oleh buaya.

Dalam kasus penangkapan Ny Ramisah, seekor buaya berhasil dipancing keluar lalu ditangkap dan dibunuh. Hasil visum menunjukkan usus buaya terinfeksi pancing.

Harian Kompas 28 Maret 2015 kembali mencatat pembunuhan balas dendam atas buaya yang telah memakan manusia. Setelah sepekan dicari, dan diduga dimangsa buaya, Andry Lukman (5), penduduk Desa Karangan Seberang, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Jumat, 27 Maret 2015, dipastikan meninggal. Jasadnya ditemukan dalam perut seekor buaya muara yang ditangkap oleh pemburu buaya.

DOKUMENTASI BASARNAS BALIKPAPAN–Sudding, warga Nunukan, Kalimantan Utara, yang selamat dari serangan buaya muara, beberapa waktu lalu. Konflik manusia dengan buaya beberapa kali terjadi di Indonesia.

Peristiwa naas itu terjadi saat Andry bersama kakaknya, Jumat pekan sebelumnya, bermain di halaman belakang rumah kakeknya, yang merupakan tepian Sungai Karangan. Diduga saat itu seekor buaya muncul dan menyeretnya ke sungai. Setelah kejadian itu, Andry tidak ditemukan. Buaya yang diperkirakan memangsa Andry ditangkap satu demi satu, lalu dibedah. Namun, hingga enam buaya muara ditangkap, hasilnya nihil. Baru pada buaya ketujuh, ditemukan potongan tubuh manusia yang lalu dipastikan sebagai jenazah Andry. Buaya sepanjang 3 meter itu ditangkap di lokasi sungai yang berjarak sekitar 150 meter dari rumah kakek korban.

Beberapa kasus pembunuhan balas dendam tersebut telah menjadi perhatian para peneliti konservasi satwa liar di dunia. Tidak hanya buaya, di Indonesia pembunuhan balas dendam juga terjadi dalam konflik antara manusia dengan karnivora seperti harimau dan macan tutul atau manusia dengan gajah.

DOK BKSDA ACEH–Satu ekor gajah liar ditemukan mati di areal perkebunan sawit di Desa Jamborehat, Kecamatan Banda Alam, Kabupaten Aceh Timur, Aceh. Belum diketahui penyebab kematian hewan lindung itu.

Dalam kasus harimau dan macan tutul, pembunuhan balasan dilakukan karena harimau dan macan tutul memangsa manusia. Dalam kasus gajah, umumnya pembunuhan balasan terjadi karena gajah mengganggu kebun warga atau kebun perusahaan kelapa sawit.

Konflik manusia dan satwa liar yang berujung pembunuhan balas dendam adalah dilema dalam konservasi satwa liar. Di satu sisi pelestarian satwa liar merupakan masalah yang mendesak, tetapi membiarkan pembunuhan balas dendam terjadi akan menyumbang pada proses kepunahan satwa liar yang dilindungi.

Beberapa solusi ditawarkan peneliti melalui sejumlah riset. Salah satu riset satwa karnivora dilakukan Jennifer R B Miller dari Universitas Cornel, Amerika Serikat, dan kawan-kawan, dengan judul “Persepsi Manusia Cermin Realitas Risiko Serangan Karnivora untuk Ternak: Implikasinya untuk Mengurangi Konflik Manusia-Karnivora”. Hasil riset dimuat dalam jurnal PLOS ONE 12 September 2016.

Miller mengemukakan, metode yang digunakan untuk mengurangi potensi konflik tergantung pada orang yang secara akurat memahami tingkat ancaman dari karnivora yang berbeda untuk dapat menerapkan tindakan perlindungan secara proporsional. Namun, persepsi orang tentang pemangsa tidak selalu sejajar dengan perilaku karnivora karena mereka dapat dibentuk oleh pengaruh sosial dan budaya, tekanan ekonomi, nilai-nilai pribadi, dan peristiwa historis.

DOKUMENTASI BBKSDA RIAU–Harimau Bonita yang memangsa dua manusia.

Indonesia telah melaksanakan mitigasi konflik manusia dan satwa liar ini. Kasus terakhir yang cukup dramatis adalah kasus harimau bernama bonita yang diduga memangsa orang di Riau. Harian Kompas 12 Maret 2018 memberitakan, Yusri Efendi (34), seorang pekerja bangunan, tewas diterkam harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae) di Desa Tanjung Simpang, Pelangiran, Kabupaten Indragiri Hilir, Riau, Sabtu 10 Maret 2018, malam. Yusri adalah korban tewas kedua di Pelagiran akibat terkaman harimau dalam tiga bulan terakhir setelah Jumiati (33), awal Januari 2018.

DOKUMENTASI BBKSDA RIAU–Harimau Bonita ditangani oleh tim dokter dari BBKSDA Riau dan Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera.

Namun, penyelesaian konflik manusia dan harimau ini tidak berakhir dengan pembunuhan balas dendam terhadap bonita. Tim gabungan Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam Riau, seperti diberitakan Kompas.com dan KompasTV 20 April 2018, akhirnya berhasil menangkap dan mengevakuasi Jumat, 20 April 2018. Bonita langsung dibawa ke Pusat Rehabilitasi Harimau Sumatera di Dharmasraya, Sumatera Barat.

Penyelesaian damai seperti ini yang diharapkan menghentikan konflik manusia dan satwa liar yang dilindungi.–SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 16 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: