Home / Berita / Pencetak Dokter yang Sarat Masalah

Pencetak Dokter yang Sarat Masalah

Sebanyak 260 mahasiswa memadati satu ruang kelas di Fakultas Kedokteran Universitas Cenderawasih, Jayapura, Papua, Selasa (3/5). Suasana itu lebih mirip seminar daripada perkuliahan. Ini dampak berlebihnya jumlah mahasiswa baru yang diterima Fakultas Kedokteran Uncen beberapa tahun belakangan.

Mahasiswa tak bisa menyembunyikan rasa gerah selama kuliah. Penyejuk ruangan yang terpasang tidak mampu membuat udara dalam kelas jadi nyaman untuk belajar. Sebagian mahasiswa mengibas-ngibaskan kertas, buku, ataupun barang lain untuk mengusir panas. Namun, mereka tetap tenang dan memperhatikan penjelasan dokter Astrina, sang dosen.

Beruntung, ruang kuliah dilengkapi pelantang suara nirkabel sehingga Astrina tidak perlu berteriak agar suaranya terdengar hingga mahasiswa di pojok belakang, 15 meter jauhnya. Selain itu, ada tiga proyektor agar materi kuliah Histologi 2 yang ditampilkan bisa dilihat mahasiswa dengan jelas. Hari itu, Astrina memberi kuliah Histologi 2 bagi 400-an mahasiswa.

Kini, mahasiswa FK Uncen angkatan 2013 dan 2014 sama-sama menjalani perkuliahan semester IV. Ini akibat vakumnya perkuliahan di FK Uncen setahun menyusul demonstrasi mahasiswa menuntut perbaikan mutu pendidikan di fakultas ini serta dosen mogok mengajar. Alhasil, mahasiswa angkatan 2013, yang seharusnya mengenyam materi kuliah semester VI tertahan, menumpuk bersama adik angkatannya.

Dekan FK Uncen Trajanus L Yembise mengatakan, dosen di kampus harus bekerja ekstra demi menuntaskan beban masa lalu, yakni penerimaan besar-besaran mahasiswa baru.

Pada 2011, FK Uncen yang akreditasinya masih C menerima 260 mahasiswa baru, pada 2012 bertambah lagi 322 mahasiswa baru, lalu tahun 2013 bertambah 304 mahasiswa, dan tahun 2014 ada 198 orang. Jumlah mahasiswa yang membeludak itu membuat proses perkuliahan tak optimal mengingat jumlah dosen dan ukuran kelas tak memadai.

Melebihi kuota
Jumlah dosen tetap di FK Uncen 37 orang, 20 di antaranya tengah menjalani studi tingkat lanjut, sehingga hanya 17 orang yang mengajar di kampus. Jadi, rasio jumlah dosen dan mahasiswa hampir 1:100. Padahal, rasio ideal 1 dosen berbanding 10 mahasiswa pendidikan sarjana.

Mulai 2015, FK Uncen hanya menerima 50 mahasiswa baru. Kini, total mahasiswa FK Uncen 1.557 orang, terdiri dari 1.057 mahasiswa program akademik menyelesaikan pendidikan sarjana dan 500 mahasiswa program profesi untuk meraih gelar dokter.

Sebelum diprotes mahasiswa dan dosen, FK Uncen hanya punya tiga ruang kelas dengan kapasitas masing-masing 75-100 orang. Kini, ada empat ruang kelas di FK Uncen, yakni ruang 8 x 34 meter berkapasitas 350 orang, ruang 8 x 25 m untuk 250 orang, ruang 8 x 12 m untuk 150 orang, dan ruang 8 x 15 m untuk 60 orang.

Pembatasan mahasiswa baru dan menyiapkan tambahan ruang kelas jadi upaya pembenahan yang dilakukan FK Uncen.

Kompetensi rendah
Ketua Konsil Kedokteran Indonesia Bambang Supriyatno mengatakan, jumlah mahasiswa baru yang melebihi kuota hanya salah satu masalah pendidikan kedokteran di Indonesia. FK yang akreditasinya C dengan tingkat kelulusan ujian kompetensi rendah malah menerima ratusan mahasiswa baru.

Sebenarnya telah ada surat edaran Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi tentang kuota mahasiswa baru program kedokteran. Namun, penegakannya masih belum optimal.

Selain mahasiswa baru berlebih, keterbatasan dosen tetap dan ketersediaan RS pendidikan juga menjadi masalah FK di Indonesia. FK Universitas Malahayati, Lampung, akreditasi C, misalnya, memiliki RS pendidikan utama RS Pertamina Bintang Amin, Lampung, tipe C dengan jumlah dosen klinis terbatas.

Dekan FK Universitas Malahayati Dalfian Adnan mengatakan, jumlah dosen praktik di RS Bintang 10 orang. Artinya, RS itu hanya bisa menampung 50 mahasiswa koasistensi (koas). Padahal, 756 orang dari total 2.801 mahasiswa menempuh pendidikan profesi dokter.

Akhirnya, FK Universitas Malahayati bekerja sama dengan beberapa RS di Medan, Sumatera Utara, serta Tasikmalaya, Ciamis, dan Kuningan, Jawa Barat, untuk jadi RS afiliasi.

Adapun Universitas Tanjungpura di Pontianak dengan akreditasi C tak menempatkan mahasiswa koas di RSUD Dr Soedarso, Pontianak, sebagai RS pendidikan utama. FK Untan menempatkan peserta koas di RSUD Abdul Aziz di Kota Singkawang.

Universitas itu juga kekurangan dosen tetap. ”Sudah tiga tahun terakhir membuka formasi dosen tetap, tetapi tak ada yang mendaftar,” kata Rektor Untan Thamrin Usman. Berbagai masalah pada institusi pencetak dokter itu mencerminkan buruknya tata kelola pendidikan kedokteran di negeri ini. (JOG/FLO/VIO/ADH)
——————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 9 Mei 2016, di halaman 1 dengan judul “Pencetak Dokter yang Sarat Masalah”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: