Home / Berita / Penanganan Kanker; Jangan Lagi Ada Ironi Gerobak Rosida

Penanganan Kanker; Jangan Lagi Ada Ironi Gerobak Rosida

Rosida adalah ironi di tengah peringatan Hari Kanker Sedunia, 4 Februari. Ibu satu anak penderita kanker dari Cibinong, Kabupaten Bogor, itu sempat “diasingkan” di gerobak. Tetangganya tidak tahan terhadap bau tidak sedap dari luka di payudaranya.

Empat hari lamanya Rosida berada di gerobak di sekitar pabrik batu bata, dekat kamar kontrakannya, di Cibinong, Bogor, Jawa Barat. Perempuan berusia 46 tahun itu tak kuasa berdiri. Dengan kanker di payudara sebelah kanan yang menyebar ke bagian depan tubuhnya, ia tak bisa lagi leluasa bergerak. Buang air besar dan air kecil pun ia lakukan di gerobak.

Setelah suaminya meninggal, Rosida pernah tinggal bersama saudaranya. Anak laki-lakinya tidak diketahui keberadaannya. Karena saudaranya tak sanggup lagi mengurusnya, Rosida akhirnya tinggal di kamar kontrakan. Untuk menyambung hidup, ia menjadi pekerja rumah tangga dan memulung barang bekas.

“Ketika awal kami jemput dan bawa ke rumah sakit, Ibu Rosida sadar dan bisa berkomunikasi. Ia seperti gelandangan, kotor sekali, dengan luka hampir di sekujur badan dan mengeluarkan bau. Setelah berada di rumah sakit, dibersihkan, dan ditangani, ia tampak lebih semangat,” tutur Shanty Persada, salah satu pendiri Love Pink, gerakan sosial penyintas kanker.

Setelah masuk RS Kanker Dharmais, Jakarta, Rosida ditangani tim medis. Ia dibersihkan, diberi albumin untuk mengatasi kekurangan protein, dan transfusi darah untuk mengatasi anemia akutnya. Kini, Rosida menunggu hasil pemeriksaan patologi anatomi untuk mengetahui karakter kanker yang dideritanya.

Setelah dirawat di rumah sakit, ayah Rosida bersama kerabatnya datang menjenguk. Meski demikian, para penyintas kanker tetap menemani Rosida, membantu Rosida melalui hari-hari pertama di rumah sakit.

Saat dibantu makan buah di tempat tidurnya, Selasa (9/2), Rosida menuturkan, “Masih sakit, tetapi saya tetap semangat mau sembuh. Tangan kanan saya masih bengkak.” Rosida menyadari ada benjolan di payudaranya sejak beberapa tahun lalu, tetapi ia tidak segera berobat karena tak punya biaya.

Menurut psikolog klinis dari instalasi rehabilitasi medis RS Dharmais, Nelly Hursapuny, untuk seorang penderita kanker yang terlambat ditangani, kondisi kejiwaan Rosida tergolong kuat. Semangatnya tinggi untuk pulih dari kanker yang dideritanya.

Media sosial
Shanty menjelaskan, pihaknya mengetahui kondisi Rosida, Sabtu (6/2) siang, saat seseorang mengunggah foto Rosida di media sosial. Disebutkan, Rosida terkena kanker payudara sejak empat tahun lalu dan belum pernah berobat. Ia ditempatkan di gerobak oleh tetangganya.

Berbekal informasi yang minim, para penyintas kanker berusaha menemukan Rosida untuk dibawa ke rumah sakit. Akhirnya, upaya itu membuahkan hasil. Sabtu malam, Rosida tiba di RS Dharmais.

Selain membawa ke RS, Shanty dan penyintas kanker lain mendaftarkan Rosida jadi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Pada Selasa, Shanty mengurus kepesertaan Rosida di JKN. Karena tak punya kartu tanda penduduk (KTP), pendaftaran JKN masih menanti pengurusan KTP oleh keluarga Rosida. Jejaring penyintas kanker juga menggalang dana untuk biaya pengobatan Rosida, dan terkumpul sekitar Rp 400 juta.

867cff7014f545f3a7a27dbf64293c5cKOMPAS/ADHITYA RAMADHAN–Rosida (46), pasien kanker payudara terbaring di kamar nomor 603 Ruang Teratai, Rumah Sakit Kanker Dharmais, Jakarta, Selasa (9/2). Sebelum dibawa ke rumah sakit oleh para penyintas kanker, Rosida ditempatkan di gerobak oleh tetangganya karena bau busuk dari luka di payudaranya dianggap telah mengganggu.

Presiden Direktur RS Dharmais Abdul Kadir mengatakan, pihaknya akan membantu menguruskan status kepesertaan Rosida dalam JKN dan registrasi di dinas sosial. Jika dalam pengurusan kepesertaan JKN menghadapi hambatan, RS Dharmais sebagai rumah sakit pemerintah bisa membebaskan biaya pengobatan Rosida.

Kepala Departemen Hubungan Eksternal dan Humas Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan Irfan Humaidi mengatakan, jika Rosida belum jadi peserta JKN dari segmen penerima bantuan iuran (PBI), Dinas Sosial Kabupaten Bogor sebaiknya memasukkan dalam peserta PBI yang iurannya dibayar daerah. Pasien bisa mendaftar sebagai peserta mandiri jika ada donatur yang membayar iurannya selama proses pendaftaran.

Di Indonesia, menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi kanker 1,4 per 1.000 warga (sekitar 330.000 orang). Kanker tertinggi pada perempuan ialah kanker payudara dan leher rahim. Menurut Sistem Informasi RS 2010, kasus rawat inap kanker payudara 12.104 kasus (28,7 persen) dan kanker leher rahim 5.349 kasus (12,8 persen).

Data Instalasi Deteksi Dini dan Onkologi Sosial RS Dharmais menunjukkan, dari sekitar 3.000 pasien baru kanker yang berobat pada 2014, sebanyak 60-70 persen stadium lanjut.

Shanty mengatakan, masih banyak mitos kanker di masyarakat. Misalnya, keluarga Rosida menganggap kanker bisa menular. Kepedulian warga terhadap pasien kanker pun minim.

Dengan tema tahun ini “We Can, I Can”, Hari Kanker Dunia menjadi refleksi bahwa setiap individu bisa berperan mengurangi dampak kanker. Namun, yang terjadi pada Rosida kebalikan dari harapan tersebut.–ADHITYA RAMADHAN
——————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 11 Februari 2016, di halaman 1 dengan judul “Jangan Lagi Ada Ironi Gerobak Rosida”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Peran dan Kontribusi Akademisi Lokal Perlu Ditingkatkan

Hasil riset akademisi memerlukan dukungan akses pasar. Kolaborasi perguruan tinggi dan industri perlu dibangun sedini ...

%d blogger menyukai ini: