Home / Berita / Pemanfaatan Kecerdasan Buatan Dorong Perekonomian

Pemanfaatan Kecerdasan Buatan Dorong Perekonomian

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence di berbagai bidang berpotensi memberikan nilai tambah 1 triliun dollar Amerika Serikat terhadap produk domestik bruto Asia Tenggara pada 2030.

Pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence di berbagai bidang berpotensi memberikan nilai tambah 1 triliun dollar Amerika Serikat terhadap produk domestik bruto Asia Tenggara pada 2030. Untuk mewujudkannya, setiap negara harus memiliki visi pengembangan teknologi kecerdasan buatan dalam jangka panjang.

Proyeksi itu keluar dari hasil riset lembaga investasi Dewan Pengembangan Ekonomi Singapura (EDBI) dan perusahaan konsultan manajemen global, AT Kearney.

Riset berjudul ”Racing Towards The Future: Artificial Intelligence in Southeast Asia” tersebut menemukan, pemanfaatan AI di Asia Tenggara berpengaruh besar dalam menggerakkan aktivitas pemasaran, penjualan, dan khususnya rantai pasok.

Dalam diskusi virtual, Kamis (8/10/2020), dijelaskan bahwa implementasi AI dianggap penting oleh lebih dari 70 persen dari sekitar 110 responden, yang terdiri dari pengguna, penyedia, dan investor teknologi. Hal itu terjadi kendati penerapan kecerdasan buatan (AI) di seluruh kawasan Asia Tenggara masih tahap awal dan tertinggal 2-3 tahun dibandingkan China dan Amerika Serikat.

”Riset ini mengungkapkan bahwa Asia Tenggara dapat meraih keuntungan ekonomi yang signifikan jika pengguna dan penyedia di bidang AI dapat mempertajam fokus mereka dalam penggunaan AI,” kata CHU Swee Yeok, CEO dan Presiden EDBI.

Sebagai contoh, CapitaLand, perusahaan real estat terbesar di Asia, memanfaatkan AI untuk layanan bisnis apartemen mereka. AI digunakan untuk memberi pengguna rekomendasi tarif dan minimal durasi penginapan berdasarkan data tren di masa lampau, serta tarif kompetitor. Solusi tersebut mampu meningkatkan omzet CapitaLand secara signifikan.

Di Indonesia, AI telah banyak dimanfaatkan perusahaan teknologi. Salah satunya Tokopedia yang menggunakan AI untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas transaksi pelanggan. Tokopedia disebut mampu meningkatkan nilai transaksi s202 persen dan peningkatan omzet hingga 179 persen setiap bulan.

Dengan program canggih, e-dagang itu menyelaraskan platform mereka dengan perilaku pelanggan yang terus berkembang. Mereka juga menyesuaikan rekomendasi produk kepada setiap pelanggan berdasarkan data perjalanan lintas layar dan perjalanan pembelian.

Berdasarkan riset, adopsi AI di Indonesia berpotensi meningkatkan PDB di 2030 sampai 12 persen atau 366 miliar dollar AS.

AT Kearney Partner, Nikolai Dobberstein, pada kesempatan sama mengatakan, perusahaan-perusahaan harus menyadari bahwa kini model dan penyedia yang cakap di bidang AI telah banyak tersedia. Namun, peningkatan keterampilan tenaga kerja dengan pemahaman bisnis yang relevan juga penting, selain mencari tenaga kerja baru dengan keahlian terkait.

Menghadirkan tenaga kerja dengan keahlian yang relevan tersebut menjadi satu dari lima tantangan di kawasan Asia Tenggara dalam memaksimalkan implementasi AI. Tantangan lainnya, antara lain, fragmentasi dan belum matangnya ekosistem AI, hambatan infrastruktur, regulasi, dan resistensi perusahaan dalam penerapan AI.

”Dengan meningkatnya resistensi penerapan AI, maka diperlukan sebuah visi dan pengembangan keahlian berjangka panjang, baik di tingkat perusahaan maupun di tingkat nasional. Pengembangan keahlian ini dilengkapi dengan pelatihan dan pembentukan ulang keterampilan menggunakan perubahan terencana di dunia pendidikan,” kata Nikolai.

SDM Indonesia
Berdasarkan riset EDBI dan AT Kearney, ada tiga tantangan terbesar adopsi AI di Indonesia. Tantangan pertama adalah mencari mitra AI yang cocok untuk membentuk ekosistem. Kedua, kesulitan mencari dan menarik sumber daya manusia (SDM) atau talenta yang relevan dengan teknologi AI.

Secara terpisah Direktur Jenderal Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nizam mengatakan, jumlah SDM yang menguasai teknologi-teknologi di Indonesia masih kurang.

”Indonesia masih membutuhkan 250.000 SDM di bidang digital dan ini menjadi tantangan bagi pendidikan tinggi di Indonesia untuk merealisasikannya,” katanya dalam keterangan tertulis menanggapi kerja sama dengan perusahaan teknologi Huawei dalam gerakan Strategi Nasional AI, Selasa (6/10/2020).

Penguasaan teknologi digital terdepan seperti AI, analitis mahadata, dan mesin pembelajar, menurut dia, adalah kompetensi-kompetensi baru yang dibutuhkan oleh industri dalam negeri saat ini. Untuk menjawab tantangan itu, semua pihak perlu berkomitmen dalam mendorong generasi muda untuk menguasai teknologi digital terkini.

Salah satu bentuk komitmen bersama ditunjukkan Huawei yang menyelenggarakan Asia Pacific Atlas Edge Computing Indonesia eBootcamp 2020. Acara eBootcamp yang digelar secara daring, akhir September 2020, diikuti perwakilan sejumlah perguruan tinggi di Indonesia.

”Program ini juga merupakan wujud konsistensi Huawei dalam alih pengetahuan dan teknologi, serta memperkuat sinergi bersama dunia pendidikan, pemerintah, industri atau pelaku bisnis, komunitas, dan media,” kata Jason Zhang, President Huawei Cloud & AI Indonesia Business Department.
Oleh ERIKA KURNIA

Editor: M FAJAR MARTA

Sumber: Kompas, 8 Oktober 2020

Share
%d blogger menyukai ini: