Home / Berita / Mengejar Efisiensi Produksi dengan ”Internet of Things” dan Kecerdasan Buatan

Mengejar Efisiensi Produksi dengan ”Internet of Things” dan Kecerdasan Buatan

Separuh jumlah pekerjaan di dunia dipercaya dapat diotomasi dengan tekonologi; menghemat gaji sebesar 15 triliun dollar AS. Namun, ”artificial intelligence” (kecerdasan buatan) juga akan membuka peluang-peluang baru.

Berdasarkan hasil penelitian McKinsey berjudul ”Driving Impact at Scale from Automation dan AI”, aktivitas produksi yang paling rentan mengalami otomasi adalah kegiatan-kegiatan fisik yang terstruktur dan dalam situasi yang dapat terprediksi.

Selain itu, kegiatan seperti pengumpulan dan pengolahan data juga berada dalam posisi yang sama. Jenis-jenis pekerjaan tersebut sangat banyak dalam industri manufaktur. Dalam laporan yang terbit pada 2019, Mckinsey menyatakan bahwa separuh jumlah pekerjaan di dunia dipercaya dapat diotomasi dengan tekonologi; menghemat gaji sebesar 15 triliun dollar AS atau sekitar Rp 205.354 triliun.

Tomoya Soma, senior data analyst dari perusahaan teknologi informasi dan elektronik Jepang NEC, pun membenarkan hal tersebut. Kepada media, pada Selasa (11/2/2020), di East Jakarta Industrial Park (EJIP), Cikarang, Bekasi, Jawa Barat, Tomoya meyakini otomasi berbasis kecerdasan buatan dan big data akan meningkatkan stabilitas produksi sebuah perusahaan, khususnya yang bergerak di bidang manufaktur.

Tomoya mencontohkan, potensi kerusakan ataupun segala anomali dalam proses produksi dapat dimigitasi apabila seluruh elemen produksi dapat terpantau. Jika prinsip internet of things diterapkan ke dalam seluruh elemen produksi—seluruh perpipaan, kabel, temperatur, getaran, voltase listrik, memiliki sensor dan keluaran datanya yang diolah secara terintegrasi—segala anomali akan mudah terdeteksi sebelum berubah menjadi kerusakan.

Dengan sistem milik NEC yang bernama System Invariant Analysis Technology (SIAT), Tomoya mengatakan, sebuah pabrik dapat melakukan perawatan alat produksi dengan lebih efektif dan efisien. Dengan demikian, proses produksi pun lebih stabil.

”Dalam contoh klien NEC di Jepang, perusahaannya dapat menghemat hingga ratusan juta yen,” kata Tomoya melalui penerjemah.

Awal pekan ini, kepada harian bisnis Nikkei, Chief Technology Officer Thales Singapore Herve Jarry mengatakan, kecerdasan buatan akan memungkinkan pihaknya untuk meningkatkan kualitas produksi.

”Dengan kecerdasan buatan, kami akan dapat melakukan tes dengan jumlah yang sangat masif; sekitar dua miliar tes atau setara dengan seratus jam terbang,” kata Jarry.

Thales—perusahaan elektronik bidang pertahanan asal Perancis—pada pertengahan 2019 telah mengakuisisi perusahaan kecerdasan buatan asal Ohio, Amerika Serikat, Psibernetix. Psibernetix dikenal sebagai perusahaan yang menciptakan ALPHA, peranti lunak dengan kecerdasan buatan yang dapat mengalahkan pilot pesawat tempur pada simulasi pertarungan di udara (dogfight).

Yang baru, tumbuh; yang lama, berganti
Meski demikian, efisiensi dan peningatan produktivitas yang dibawa oleh otomasi dan kecerdasan buatan tidak hanya membawa ancaman penghilangan lapangan pekerjaan. Keberadaan kecerdasan buatan dan sistem otomasi justru akan meningkatkan nilai dari sejumlah pekerjaan-pekerjaan yang sudah ada saat ini.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Petugas memperlihatkan cara mengoperasikan mesin yang dipamerkan dalam pameran manufaktur terlengkap dan terbesar di Indonesia, Manufacturing Indonesia 2019, di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, mulai Selasa (4/12/2019) hingga 7 Desember 2019. Pameran yang diikuti lebih dari 1.500 perusahaan dari 39 negara ini menghadirkann mesin, pengolahan, teknologi, servis, dan inovasi terkini.

Hasil penelitian Massachusetts Institute of Technology (MIT) dan perusahaan teknologi IBM pada Oktober 2019 yang berjudul ”The Future of Work: How New Technologies are Transforming Tasks” menunjukkan bahwa nilai dari pekerjaan-pekerjaan yang menekankan pentingnya soft-skill akan meningkat.

Penelitian ini telah menganalisis 170 juta daftar lowongan pekerjaan daring di Amerika Serikat pada periode 2010–2017.

Laporan tersebut menyebutkan bahwa pekerjaan-pekerjaan di sektor jasa personal; seperti penata rambut, instruktur kebugaran; secara rata-rata penghasilannya telah meningkat sekitar 12.000 dollar AS per tahun.

Pekerjaan yang membutuhkan daya berpikir yang inovatif dan kreatif juga dipercaya akan meningkat nilainya. Pekerjaan yang berhubungan dengan desain, seperti desain grafis dan visual, desain industri, dan desain antarmuka (user interface), disebut telah mengalami kenaikan penghasilan sebesar 8.522 dollar AS per tahun.

World Economic Forum pada 2018 dalam laporannya yang berjudul ”The Future of Jobs” memprediksi bahwa keberadaan algoritma dan sistem otomasi akan menciptakan 133 juta pekerjaan baru sekaligus menghilangkan 75 juta pekerjaan yang saat ini telah ada.

Dengan demikian, revolusi industri tidak hanya akan menghilangkan pekerjaan, tetapi juga menciptakan peluang-peluang baru yang belum terbayangkan. Penyesuaian diri terhadap perubahan yang akan datang menjadi hal yang tidak terhindarkan.

Oleh SATRIO PANGARSO WISANGGENI

Editor: KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 11 Februari 2020

Share
x

Check Also

Asal-Usul dan Evolusi Padi hingga ke Nusantara

Beras berevolusi bersama manusia sejak pertama kali didomestifikasi di China sekitar 9.000 tahun lalu. Dengan ...

%d blogger menyukai ini: