Home / Berita / Pemadaman Tidak Efektif

Pemadaman Tidak Efektif

Masyarakat Minta Langkah Konkret
Kebakaran hutan dan lahan beberapa bulan ini di sejumlah daerah, hingga Selasa (14/10), belum mampu diatasi. Akibatnya, banyak warga terus menderita karena kabut asap. Penanganan kebakaran lahan yang dilakukan pemerintah dinilai kurang efektif.

Kabut asap hingga kemarin masih menyelimuti Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Aceh, Riau, Jambi, Bangka Belitung, dan Sumatera Selatan.

Di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Selasa, jarak pandang hanya sekitar 500 meter. Gara-gara asap pekat itu, helikopter pengebom air Mi8-MTV dan Bolkow tidak dapat beroperasi memadamkan api.

”Helikopter Bolkow bisa terbang jika jarak pandang minimal 700 meter, sedangkan helikopter Mi8-MTV butuh jarak pandang 1.500 meter. Kedua helikopter standby di Bandara Tjilik Riwut,” kata Indiyarto, anggota staf Bidang Perencanaan Posko Darurat Bencana Kebakaran Hutan, Lahan, dan Pekarangan Kalimantan Tengah, di Palangkaraya.

Dari data penerbangan, sejak 13 Juni, helikopter Mi8-MTV sudah melakukan 1.138 kali pengeboman dengan menggunakan 4.552.000 liter air. Setiap kali pengeboman, helikopter tersebut mampu membawa 4.000 liter air. Operasi pengeboman dengan helikopter itu terhenti sejak Minggu lalu karena jarak pandang minim.

Helikopter Bolkow sejak 17 September melakukan 1.265 kali pengeboman dengan menggunakan 632.500 liter air. Sekali pengeboman, helikopter Bolkow hanya mampu membawa 500 liter air. Bolkow berhenti mengebom Senin lalu.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kalimantan Tengah Muchtar mengatakan, pemadaman api saat ini hanya mengandalkan operasi darat yang sering terkendala lokasi yang tidak terjangkau dan tidak ada sumber air di sekitar lokasi kebakaran. ”Kalimantan Tengah sangat membutuhkan pesawat Hercules penyemai hujan buatan karena potensi awan ada di bagian utara, seperti di wilayah Barito. Jika ada hujan, kabut asap bisa sedikit berkurang,” katanya.

Pesawat Hercules A-1317 ditarik dari Kalimantan Tengah, 22 September lalu, untuk penyemaian benih hujan di Palembang, Sumatera Selatan. Pesawat Hercules yang didatangkan ke Kalimantan Tengah awal Agustus itu lalu diterbangkan ke Surabaya.

15405575-jpghKepala Subdirektorat Perencanaan Darurat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Eko Budiman mengatakan, pihaknya sudah berkomunikasi dengan Markas Besar TNI dan dijanjikan akan segera mengirimkan pesawat Hercules ke Kalimantan Tengah.

Gangguan kabut asap yang masih terus terjadi mendorong masyarakat Ketapang, Kalimantan Barat, meminta langkah konkret pemerintah. ”Sudah beberapa bulan ini masyarakat hidup dalam kepungan asap. Saya menilai pemerintah tidak memiliki langkah konkret mengatasi masalah ini, khususnya dalam penegakan hukum kepada pelaku pembakar lahan,” ujar Sugeng Hartanto (25), warga Ketapang, Selasa.

Kepala Seksi Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten Ketapang Maryanto mengakui cukup sulit memadamkan api karena sumber-sumber air mengering akibat kemarau. Apalagi pemadaman masih sangat bergantung kepada BPBD.

Gubernur Kalimantan Barat Cornelis menyatakan, ia telah menginstruksikan Bupati Ketapang Hendrikus agar lebih gencar menangani kabut asap.

Di Jakarta, Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, pemadaman titik api terus dilakukan, baik di darat maupun melalui udara.

”Saat ini sudah ada sembilan helikopter BNPB digunakan untuk pemadaman di Sumatera dan Kalimantan. Dua heli tambahan MI-17 sudah ada di Bandara Halim Perdanakusuma dan segera dikirim. Kami juga akan berusaha menambah lagi dengan menyewa dari luar negeri,” katanya.
Rp 320 miliar

Sutopo menambahkan, upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan saat ini telah menyedot anggaran cukup besar, yaitu Rp 320 miliar, dari total Rp 350 miliar anggaran yang disiapkan untuk tahun ini.

Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin juga menyatakan bahwa semua upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan telah dikerahkan maksimal untuk mengatasi kabut asap. Namun, luasnya lahan gambut yang terbakar ditambah minimnya awan hujan akibat kemarau panjang membuat kabut asap masih terus terjadi.

Alex mengatakan, kebakaran lahan gambut di Sumatera Selatan telah hampir mencapai 7.000 hektar. Dengan kedalaman 2-3 meter, kebakaran lahan gambut ini sulit dipadamkan dengan pemadaman manual. ”Kebakaran lahan gambut seperti ini hanya bisa dipadamkan oleh hujan lebat tujuh hari tujuh malam,” katanya seusai mengikuti shalat Istiska, untuk memohon hujan di halaman Kantor Gubernur Sumatera Selatan, di Palembang, Selasa.

Satu-satunya harapan saat ini, kata Alex, adalah melokalisasi kebakaran agar tak meluas.

Sementara itu, Gubernur Kalimantan Selatan Rudy Ariffin mengimbau warga di daerahnya berdoa dan terus memohon kepada Allah SWT agar segera menurunkan hujan. ”Kita harus berdoa karena upaya yang kita lakukan untuk mengatasi kabut asap sudah optimal,” kata Rudy saat bersama warga Banjarmasin menggelar shalat Istiska, Selasa.

Gubernur Kalimantan Tengah Agustin Teras Narang menyatakan, untuk mengatasi bencana itu, masa tanggap darurat diperpanjang hingga 21 Oktober. ”Pemadaman darat dan udara terus kami giatkan. Penegakan hukum dengan tegas juga kami upayakan agar memberi efek jera bagi pembakar lahan,” ujarnya.

Kerugian
Kerugian ekonomi terus membengkak akibat lambannya pengendalian kabut asap dari aktivitas pembakaran lahan di Sumatera dan Kalimantan. Sejumlah usaha dikhawatirkan kolaps jika kondisi ini dibiarkan.

Kepala Bandara Sultan Thaha Jambi Dorma Manalu mengatakan, 16 penerbangan per hari dibatalkan dari Jambi pada empat hari terakhir ini. Akibatnya, pihak bandara kehilangan potensi pendapatan pajak jasa bandara dari 1.500 orang hingga 2.000 calon penumpang per hari. Nilai potensi pendapatan yang hilang berkisar Rp 300 juta. ”Tak ada pemasukan dari pajak bandara karena penumpang tidak berangkat,” ujar Manalu.

Di Kutai Barat, Kalimantan Timur, transportasi udara pun masih lumpuh seiring dengan belum dibukanya Bandara Melalan.

Kerugian lain yang diderita adalah penyakit yang dialami masyarakat. Penderita infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Palembang, misalnya, terus bertambah. Selama September ada 4.839 pasien ISPA di 39 puskesmas di Palembang. Jumlah itu naik lebih dari 50 persen dibandingkan dengan Agustus.

Ketua Divisi Penyakit Paru akibat Kerja dan Lingkungan, Departemen Pulmonologi dan Ilmu Kedokteran Respirasi, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Agus Dwi Susanto mengemukakan, pada kabut asap ada dua hal yang membahayakan pernapasan, yakni gas dan partikel. Ia menambahkan, asap dari pembakaran bersifat iritatif pada membran mata, hidung, saluran pernapasan, hingga paru. (dka/esa/jum/pra/ire/ita/dri/adh/aik)

Sumber: Kompas, 15 Oktober 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: