Pastor Glinka Berjasa Kembangkan Antropologi Ragawi

- Editor

Senin, 27 Agustus 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sepertiga temuan fosil Homo erectus dunia ada di Indonesia. Untuk itu, Nusantara menjadi penting bagi dunia dalam mempelajari evolusi manusia melalui studi antropologi.

Mempertimbangkan potensi tersebut, seorang pastor asal Polandia, sekaligus perintis antropologi ragawi, Prof Habil Josef Glinka, SVD, menginginkan agar Indonesia jangan menjadi tamu di wilayah sendiri dalam berbagai penelitian dan penemuan penting evolusi manusia.

Pastor Glinka sejak 1965 mengabdikan hidupnya di Indonesia. Selama 19 tahun mengajar di Seminari Ledalero, Flores, imam dari kongregasi SVD (Serikat Sabda Allah) ini turut meluluskan 600 pastor yang 14 di antaranya menjadi uskup.
Kemudian, Glinka selama 27 tahun mengajar di Universitas Airlangga dan turut membangun dan mengembangkan Departemen Antropologi dengan telah meluluskan 1.000 antropolog yang 14 di antaranya doktor dan 1 guru besar.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Peluncuran buku berjudul Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD, Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia karya Bernada Rurit, Minggu (26/8/2018) malam, di Surabaya, Jawa Timur.

”Pastor Glinka berjasa dalam pengembangan ilmu antropologi ragawi,” ujar Bernada Rurit, penulis buku, saat meluncurkan karyanya yang berjudul Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD, Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia, Minggu (26/8/2018) malam, di Surabaya.

Pastor Glinka merupakan satu-satunya perintis antropologi ragawi di Indonesia yang masih hidup. Tiga ilmuwan lainnya telah berpulang, yakni Prof CARD Snell (Belanda) dan drg Adi Sukadana dari Universitas Airlangga, serta Prof Teuku Jacob dari Universitas Gadjah Mada.

Pastor Glinka telah menghasilkan puluhan publikasi dan buku tentang antropologi. Dalam penelitiannya, ia membagi penduduk Indonesia atas tiga kelompok rasial, yaitu Protomalayid di Indonesia timur, Deuteromalayid di Indonesia barat, dan Dayakid di Kalimantan, Jambi, dan Filipina utara.

Data etnogenesis berguna untuk mendeteksi afiliasi suatu populasi dengan populasi lainnya. Selain itu, mendeteksi tren penyakit tertentu karena punya hubungan dengan kelompok rasial. Setiap kelompok populasi punya gene pool sendiri yang berkarakter berbeda. Nah, pengelompokan oleh Pastor Glinka menjadi rujukan peneliti antropologi ragawi internasional.

Rurit menulis pandangan palaeoantropolog UGM, Rusyad Adi Suriyanto, yang juga merupakan mahasiswa Prof Glinka. Dengan ditemukannya sepertiga fosil Homo erectus dunia, Indonesia punya harta karun yang teramat mahal bagi dunia. Palaeoantropolog jika ingin menjadi yang terkemuka tidak akan bisa jika mengesampingkan penelitian di Indonesia.
Unik

Antropologi ragawi di Indonesia, khususnya di Unair, dalam perjalanan yang turut dirintis oleh Prof Glinka dipandang unik karena berada dalam Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. Namun, antropologi ragawi itu berkelindan dengan antropologi budaya yang di dalamnya termasuk antropologi kesehatan.

Ini berbeda dengan antropologi ragawi di Eropa yang berada di Fakultas Kedokteran atau di Amerika dan Australia yang berada di bawah Fakultas Kedokteran atau Fakultas Biologi.

Unair mempunyai tiga pakar gemblengan Prof Glinka. Mereka adalah Prof Myrta Artaria, PhD yang pakar antropologi dental, Dr Toetik Koesbardiati yang pakar palaeoantropologi dan antropologi forensik, dan Dr Lucy Dyah Hendrawati yang pakar biososial manusia.

”Antropologi kesehatan masuk dalam antropologi budaya, tetapi bagaimana mengerti kesehatan dari aspek fisik dijelaskan melalui antropologi ragawi,” ujar Toetik.

Dalam pandangan Pastor Glinka, antropologi ragawi mempelajari manusia dari sudut pandang biologis dalam kerangka perkembangan hidup manusia dengan penekanan pada interaksi antara biologi, lingkungan, dan budaya. Kalangan publik kerap keliru memersepsikan antropologi merupakan studi terhadap fosil, batu, bangunan tua, suku terasing, seni tradisional, bahkan diinterpretasikan sebagai ilmu nujum perbintangan.

Padahal, dalam perkembangan zaman, antropologi ragawi dapat secara luas divariasikan dengan menyentuh aspek forensik, industri, militer, olahraga, dan antropogeografi. Dalam forensik, studi antropologi ragawi dapat membantu tim kedokteran forensik menentukan jenis kelamin, ras, dan kelompok etnis seseorang korban kejahatan.

KOMPAS/AMBROSIUS HARTO–Pastor Habil Josef Glinka, SVD menerima pemberian saat peluncuran buku berjudul Prof. Dr. Habil Josef Glinka, SVD, Perintis Antropologi Ragawi di Indonesia dari sang penulis Bernada Rurit, Minggu (26/8/2018) malam, di Surabaya.

Pastor Glinka yang telah 86 tahun dalam kesaksiannya saat menerima buku dari Bernada dari kursi roda mengatakan, perjalanan hidupnya sebagai imam dan pengajar antropologi merupakan panggilan hidup. Ia amat mencintai Indonesia meski status kewarganegaraannya tetap sebagai orang Polandia dengan warna bendera berkebalikan dengan bendera Indonesia. ”Penghargaan buku ini begitu luar biasa,” katanya dengan terbata-bata.–AMBROSIUS HARTO

Sumber: Kompas, 27 Agustus 2018

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Berita Terkait

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya
Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri
PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen
7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya
Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK
Red Walet Majukan Aeromodelling dan Dunia Kedirgantaraan Indonesia
Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu
Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 21 Februari 2024 - 07:30 WIB

Metode Sainte Lague, Cara Hitung Kursi Pileg Pemilu 2024 dan Ilustrasinya

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:23 WIB

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:17 WIB

PT INKA Fokus pada Kereta Api Teknologi Smart Green, Mesin Bertenaga Air Hidrogen

Rabu, 7 Februari 2024 - 14:09 WIB

7 Sesar Aktif di Jawa Barat: Nama, Lokasi, dan Sejarah Kegempaannya

Rabu, 7 Februari 2024 - 13:56 WIB

Anak Non SMA Jangan Kecil Hati, Ini 7 Jalur Masuk UGM Khusus Lulusan SMK

Minggu, 24 Desember 2023 - 15:27 WIB

Penerima Nobel Fisika sepanjang waktu

Selasa, 21 November 2023 - 07:52 WIB

Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

Senin, 13 November 2023 - 13:59 WIB

Meneladani Prof. Dr. Bambang Hariyadi, Guru Besar UTM, Asal Pamekasan, dalam Memperjuangkan Pendidikan

Berita Terbaru

Jack Ma, founder and executive chairman of Alibaba Group, arrives at Trump Tower for meetings with President-elect Donald Trump on January 9, 2017 in New York. / AFP PHOTO / TIMOTHY A. CLARY

Berita

Jack Ma Ditendang dari Perusahaannya Sendiri

Rabu, 7 Feb 2024 - 14:23 WIB