Pagar Tanaman Efektif Kurangi Polutan Lalu-lintas

- Editor

Selasa, 8 Januari 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meski saat ini tanaman pagar terkesan hanya sebagai sebuah pemanis dekoratif taman maupun teras, penelitian terkini menunjukkan jenis tanaman tersebut mampu menyerap polusi lebih efektif dibanding pohon-pohon berukuran besar. Setidaknya ini berlaku pada jalur hijau di jalan-jalan kota.

Ini hasil studi terbaru dari University of Surrey di Inggris seperti dimuat Sciencedaily, 4 Januari 2019. Penelitian KV Abhijith dan Prashant Kumar ini berjudul “Field Investigations for Evaluating Green Infrastructure Effects On Air Quality In Open-road Conditions” dalam makalah yang diterbitkan Atmospheric Environment.

Peneliti melihat tiga jenis tanaman pada jalur hijau di pinggir jalan yaitu pohon, pagar tanaman, dan semak-semak yang memengaruhi konsentrasi polusi udara. Pusat Global untuk Penelitian Udara Bersih (GCARE) University of Surrey tersebut menggunakan enam titik di pinggir jalan Kota Guildford, Inggris sebagai lokasi uji.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

LORENZO UNTUK KOMPAS–Kondisi trotoar yang berada di luar GBK. Jalur berwarna hijau di sisi luar trotoar adalah jalur khusus sepeda.

Alat pengukur polusi udara dipasang pada sisi dekat jalan dan pada sisi sebelah pada tanaman yang berada 1-2 meter dari pinggir jalan tersebut. Pengukuran dilakukan pada pagi dan sore hari saat jalanan ramai.

Para peneliti menemukan bahwa pinggir jalan yang hanya memiliki pagar tanaman paling efektif dalam mengurangi paparan polusi dengan mereduksi karbon hitam hingga 63 persen. Partikel sangat halus (PM2,5) atau berdiameter kurang dari 2,5 mikrometer menunjukkan pengurangan paling sedikit di antara semua polutan yang diukur.

Pengurangan maksimum konsentrasi teramati ketika angin sejajar dengan jalan karena efek menyapu, diikuti oleh angin di seberang jalan. Komposisi unsur partikel menunjukkan pengurangan yang cukup besar pada logam berat berbahaya yang berasal dari lalu lintas.

MAKALAH PENELITIAN–Grafis pada makalah penelitian KV Abhijith dan Prashant Kumar ini berjudul Field Investigations for Evaluating Green Infrastructure Effects On Air Quality In Open-road Conditions dalam makalah yang diterbitkan jurnal Atmospheric Environment.

Hanya pagar tanaman – dan kombinasi pagar dan pohon – sebagai jenis tanaman di jalur hijau paling efektif dalam meningkatkan kualitas udara. Pinggir jalan yang hanya ditanam pohon tidak menunjukkan pengaruh positif pada pengurangan polusi pada ketinggian pernafasan (biasanya antara 1,5 dan 1,7m). Diduga karena kanopi pohon terlalu tinggi untuk memberikan efek penghalang/penyaringan untuk emisi pipa knalpot tingkat jalan.

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, lebih dari setengah populasi global tinggal di daerah perkotaan – jumlah ini meningkat hampir dua pertiga di Uni Eropa di mana, menurut Badan Lingkungan Eropa, tingkat polusi udara di banyak kota berada di atas tingkat yang diizinkan, menjadikan polusi udara sebagai risiko kesehatan lingkungan utama.

Profesor Prashant Kumar, penulis senior studi ini dan Direktur pendiri GCARE di University of Surrey, mengatakan jutaan orang di seluruh dunia tinggal di daerah perkotaan di mana tingkat polusi juga yang tertinggi. Cara terbaik untuk mengatasi polusi adalah dengan mengendalikannya di sumbernya. “Mengurangi paparan emisi lalu lintas di lingkungan dekat-jalan memiliki dampak besar,” kata dia.

Studi ini memberikan bukti baru untuk menunjukkan peran penting yang dapat dimainkan tanaman di pinggir jalan dalam mengurangi paparan polusi bagi pejalan kaki, pengendara sepeda, dan orang-orang yang tinggal di dekat jalan. Perencana kota harus mempertimbangkan menanam pagar tanaman yang lebih rapat, dan kombinasi pohon dengan pagar, di lingkungan jalan terbuka.

“Vegetasi perkotaan penting mengingat peran luas yang dapat dimainkannya dalam ekosistem perkotaan. Ini bisa lebih dari sekadar pohon di jalan perkotaan yang luas,” ujarnya.–ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 8 Januari 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 20 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru