Home / Berita / Padukan Logam Gantikan Tulang

Padukan Logam Gantikan Tulang

Kasus cedera tulang di Indonesia terus meningkat. Kementerian Kesehatan menyebut, sekitar 8 juta orang mengalami fraktur tulang. Dari data 2013, paling tinggi akibat kecelakaan lalu lintas sebanyak 46,2 persen.

Jumlah kecelakaan lalu lintas, menurut Badan Pusat Statistik, naik hampir dua kali sejak 10 tahun lalu. Tahun 2007 ada 49.553 kejadian, pada 2015 menjadi 98.970 kasus. Itu belum termasuk kerusakan tulang akibat penyakit degeneratif, seperti osteoartritis dan osteoporosis.

Tingginya angka kasus kerusakan tulang mendorong permintaan prostesis, komponen buatan serupa tulang yang diganti atau implan tulang. Menurut BPS 2016, kebutuhan implan tulang sekitar Rp 20 triliun naik menjadi Rp 23 triliun pada 2017 dan diprediksi Rp 27 triliun tahun 2018.

Untuk memenuhi kebutuhan prostesis, pemerintah mengimpornya 90 persen. Produk prostesis impor itu pun tak sesuai ukuran tulang Indonesia yang lebih pendek sehingga penanganan medis tak optimal.

Merintis kemandirian
Upaya mengurangi ketergantungan pada produk alat kesehatan impor dilakukan lembaga riset dan perguruan tinggi. Beberapa lembaga itu antara lain Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, serta Universitas Gadjah Mada.

Bagi peneliti di dunia kedokteran, prostesis bukan hal baru. Istilah ini berasal dari bahasa Yunani Kuno artinya tambahan atau tempelan. Pengganti tulang ini dikenal di zaman India
kuno 3500 dan 1800 sebelum Masehi.

Pada masa modern, riset untuk menemukan paduan logam tak beracun, mudah dibentuk dan ringan, tahan lama, dan murah. Selain itu, teknik bedah minimal dan tak menimbulkan trauma berlebih pada tulang.

Pengembangan implan tulang itu dirintis di Indonesia sejak 2003. Riset implan tulang dilakukan LIPI lima tahun lalu bersama tim peneliti dari Universitas Tohoku, Jepang, dipimpin Takayuki Narushima dan Akihiko Chiba. Material dipilih ialah paduan kobalt kromium, molibdenum, dan titanium.

Kepala Pusat Penelitian Metalurgi dan Material LIPI Andika Widya Pramono, yang terlibat riset, menjelaskan, paduan logam itu ringan, sifat mekanikalnya seimbang, superelastis, dan kebal korosi. Paduan logam itu juga biokompatibel, yakni materialnya menyesuaikan dengan kondisi tubuh pasien.

Selain itu, alat penyangga tulang terbuat dari paduan titanium dan kobalt, tak mengganggu metabolisme tubuh, merangsang pertumbuhan jaringan tulang dan otot. ”Paduan logam yang dipakai bebas nikel, vanadium, dan aluminium bersifat racun bagi tubuh,” ujarnya.

Bahan paduan titanium dan kobalt ini bertahan di tubuh manusia berpuluh tahun. Pengembangannya sebagai implan tulang bersifat permanen. Tantangan riset ini ialah menerapkan teknik peleburan dan pencetakan untuk mengurangi porositas dan retak mikro. Kobalt yang berpadu dengan kromium 30 persen dan mangan 5 persen yakni mengurangi terbentuknya retakan saat ditempa.

Pada 2010, riset mulai mengarah pada material implan biokompatibel dan implan biodegradabel yang terurai alami berbasis paduan magnesium. Logam ringan magnesium termasuk implan ideal bagi penyembuhan patah tulang karena bisa terurai secara biologis. Jadi tak perlu operasi kedua untuk mengangkat kembali implan setelah tulang tersambung.

Riset berlanjut pada paduan kobalt dengan kromium dan molibdenum lewat pelapisan hidroksiapatit atau molekul kristalin yang tersusun dari fosfor dan kalsium. Kandungan molekul ini 65 persen dari fraksi mineral di tulang manusia.

Hilirisasi hasil riset dilakukan lewat kerja sama dengan Rumah Sakit Pusat Pertamina hingga dihasilkan prototipe implan tulang belakang dan tulang pangkal paha dari bahan titanium oleh dokter ahli ortopedi Norman Zainal. Untuk pembentukan jejaring, dijalin kerja sama dengan RS Umum Pusat Cipto Mangunkusumo, RS Hasan Sadikin-Universitas Padjadjaran, dan Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Orthopaedi Indonesia. ”Kolaborasi semua pihak terkait penting untuk penerapan inovasi ini,” ujar Andika.

Riset implan tulang juga dilakukan BPPT dengan bahan baja tahan karat atau stainless steel. Menurut Direktur Pusat Teknologi Material BPPT Asep Riswoko, inovasi yang dihasilkan yakni Stainless Steel 316L. Itu memenuhi syarat komposisi kimia bahan struktur mikro, kekuatan mekanis sesuai ASTM F138, dan standar ISO 5832-1. ”Hasil uji medis tak jauh berbeda dengan implan impor buatan Swiss, Synthes, sebagai acuan dunia medis,” ujarnya.

Hilirisasi inovasi ini dilakukan dengan menggandeng industri alat kesehatan PT Zenith Allmart Precisindo. ”Sertifikasi produksi dan izin edar diterbitkan Kemenkes untuk implan SS 316L ini,” kata Kepala BPPT Unggul Priyanto pada peluncuran Implan Tulang SS 316L di Surabaya, Oktober 2017.

”Pendaftaran produk tulang tanam di e-katalog Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang Jasa Pemerintah dilakukan tim kami bersama BPPT. Sesuai rencana, produk ini bisa dibeli kementerian dan lembaga mulai April,” kata Direktur Utama ZAP Allan Changrawinata, Sabtu (6/1).
Tulang tanam buatan dalam negeri ini bisa diproduksi setelah riset ZAP dan BPPT selama 8 tahun.

Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi tahun 2015 memberi insentif bagi uji coba produksi 3 jenis implan tulang demi menghasilkan 500 keping prototipe implan. Tahun 2016 pembuatan prototipe 15 jenis implan tulang 900 keping prototipe implan. Tahun 2017 insentif bagi pengurusan sertifikasi produksi dan izin edar sesuai standar kesehatan.

”Setelah mendapat izin edar, dilanjutkan mendapat katalog elektronik agar alat kesehatan implan tulang SS 316L dihasilkan industri alat kesehatan dalam negeri. Produksi lokal implan tulang bisa menekan biaya impor 70 persen,” kata Menristek dan Dikti Mohammad Nasir.

Dari perguruan tinggi, pembuatan implan tulang sesuai antropometri orang Indonesia dirintis peneliti bidang Teknik Mesin dan Metalurgi Fakultas Teknik UGM, Suyitno. Penggunaan prostesis sendi sesuai anatomi bisa menekan potensi komplikasi dan memperpendek usia pakai implan,” ujarnya.

Sementara Alva Edy Tontowi, pendiri Bioceramics Minifactory UGM, merancang prostetis pangkal paha disebut Gama-Hip Prosthesis memakai baja SS 316L dilapisi hydroxyapatite (HA). Lapisan itu bersifat bioaktif dan pengikat jaringan sekitar. Pengembangan Gama-Hip dilakukan sejak 2011 lewat Program Risnas UGM melibatkan Divisi Ortopedi RSUP Dr Sardjito dan CV Perkakas Jogja. Alat ini belum diuji klinis.

Serangkaian riset di lembaga riset dan perguruan tinggi dilanjutkan untuk menghasilkan implan mampu luruh, desain implan minimal traumatik pada tulang, dan penanganan dengan bedah minimal invasif. Bahan implan dengan pelapisan bioaktif dikembangkan untuk penyembuhan lebih cepat.

Pembuatan implan nasional perlu terintegrasi dengan Jaminan Kesehatan Nasional dan harganya ekonomis agar lebih banyak pasien dioperasi. Dengan produksi prostesis mandiri, itu mengganti produk impor dan menghemat devisa.(YUNI IKAWATI/(IQBAL BASYARI)

Sumber: Kompas, 8 Januari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Melihat Aktivitas Gajah di Terowongan Tol Pekanbaru-Dumai

Sejumlah gajah sumatera (elephas maximus sumatranus) melintasi Sungai Tekuana di bawah terowongan gajah yang dibangun ...

%d blogger menyukai ini: