Home / Berita / Nyamplung, Tanaman Alternatif untuk Restorasi Gambut

Nyamplung, Tanaman Alternatif untuk Restorasi Gambut

Tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum) mulai dikenal karena menjadi bioenergi pengganti solar. Kali ini, tanaman yang biasa ditanam di pantai itu dikembangkan dan diteliti di lahan gambut bekas terbakar.

Tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum mulai dikenal karena menjadi bioenergi pengganti solar. Tanaman yang biasa ditanam di pantai itu kini dikembangkan dan diteliti di lahan gambut bekas terbakar sebagai alternatif restorasi gambut di Kalteng.

Pada tahun 2017, Center for International Forestry Research (Cifor) yang berkantor di Bogor, Jawa Barat, bersama peneliti kehutanan asal Universitas Muhammadiyah Palangkaraya, Kalimantan Tengah, Siti Maimunah, meneliti spesies tanaman bioenergi di lahan gambut bekas terbakar.

Terdapat lima jenis pohon yang digunakan sebagai obyek penelitian tersebut, yakni nyamplung, pohon gamal (Gliricidia sepium), kaliandra (Caliandra calothrysus), kemiri sunan (Reutealis trisperma), dan lamtoro (Leucaena glauca).

—-Siti Maimunah, peneliti dari Kalimantan Tengah, berpose saat menanam nyamplung di Barito Selatan, Kalimantan Tengah, pada awal 2019.

Siti Maimunah menjelaskan, dibandingkan dengan empat tanaman lain, nyamplung menjadi tanaman yang paling unggul bertahan hidup di lahan gambut terdegradasi. Nyamplung terbukti masih berbuah dan tidak mengubah karakter gambut.

”Semua tanaman itu merupakan tanaman yang sudah diteliti sebelumnya sebagai tanaman sumber energi, tetapi tidak semua bisa bertahan dengan baik di tanah gambut,” kata Siti di Palangkaraya, Jumat (17/4/2020).

Siti menambahkan, penelitian itu dilakukan di Buntoi, Kabupaten Pulang Pisau, Kalteng, di lahan seluas 2 hektar milik masyarakat. Lahan tersebut merupakan lahan bekas terbakar sejak tahun 2014 sampai 2015.

Pada tahun 2018, penelitian dilanjutkan dengan riset yang dilakukan oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Pemuliaan Tanaman Hutan (BBPPBPTH) Yogyakarta. Lembaga ini sebelumnya sukses meneliti nyamplung selama lima tahun terakhir sebagai bioenergi pengganti solar.

SITI MAIMUNAH–Pohon nyamplung (Calophyllum inophyllum) yang ditanam di lahan gambut di Kabupaten Barito Selatan saat ini sudah berbuah, Jumat (17/4/2020).

Riset bersama BBPPBPTH itu dilakukan di Kalampangan, Kota Palangkaraya, Kalteng, bekerja sama dengan Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Kalteng membuat plot uji coba di lahan gambut bekas terbakar. Dalam dua tahun, nyamplung hidup baik di lahan gambut tersebut dan bisa berbuah.

”Artinya, kalau berbuah, nyamplung bisa menjadi tanaman alternatif untuk restorasi gambut karena tanaman ini sebelumnya hanya ditanam di pinggir pantai untuk menahan erosi atau di tanah bukan gambut,” kata Siti.

Gambut yang merupakan jenis tanah bentukan atau akumulasi dari sisa-sisa tumbuhan yang setengah membusuk tidak seperti tanah lainnya yang bebas ditanami apa saja. Tanah yang rawan terbakar ini membutuhkan adaptasi dan pengelolaan yang berbeda untuk jenis tanaman baru. Penelitian-penelitian tersebut membuktikan tanaman nyamplung bisa tumbuh di gambut.

Melihat hal itu, United Nations Office for Project Services (UNOPS) dan Badan untuk Pembangunan Internasional Amerika Serikat (USAID) telah menanam nyamplung di lahan seluas 50 hektar di Mangkatip, Kabupaten Barito Selatan, sejak satu tahun terakhir. Hal itu dilakukan sebagai upaya restorasi gambut dengan tanaman bioenergi nyamplung.

”Tanaman ini tidak mengubah ekosistem gambut dan ternyata menghasilkan nilai ekonomi bagi masyarakat,” ungkap Siti.

SITI MAIMUNAH–Tanaman nyamplung yang ditanam di lahan gambut bekas terbakar di Kabupaten Barito Selatan pada awal tahun 2019. Tanaman ini terbukti mampu bertahan di lahan gambut.

Revitalisasi ekonomi
Misransyah (50), warga Damparan, Kabupaten Barito Selatan, menanam nyamplung sejak pemerintah melarang menanam kratom karena mengandung psikotropika. Selama lebih kurang satu tahun tanaman ini tumbuh di lahan gambut.

”Ini yang disarankan oleh para peneliti untuk mengganti kratom karena penelitiannya di dekat sini. Kami optimistis ini bakal memberikan manfaat ekonomi karena kayunya memang keras dan buahnya juga banyak manfaatnya,” ungkap Misransyah.

Setidaknya lahan seluas 5 hektar milik Misransyah dan puluhan hektar lahan milik warga lainnya sudah ditanami nyamplung. ”Kami tak mengganti semua tanaman yang ada di kebun, tetapi kami tanam di sela-sela atau yang disebut campur sari, jadi tanaman lain masih tetap hidup seperti karet, sayuran, bahkan padi,” jelas Misransyah.

Terdapat dua desa di Kabupaten Barito Selatan yang saat ini menanam nyamplung, yakni Desa Damparan dan Desa Mahajandau.

KOMPAS/EMANUEL EDI SAPUTRA–Deputi Bidang Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) Myrna A Safitri dalam diskusi di Pontianak, Kalimantan Barat, 20 Maret 2019.

Siti menambahkan, Kalimantan Tengah memang baru memulai menanam nyamplung. Namun, tanaman bioenergi itu sudah dikembangkan di banyak tempat yang bukan gambut, seperti di Yogyakarta, Purworejo, dan Selayar (Sulawesi Selatan). Untuk lahan gambut, Kalteng menjadi yang pertama.

”Di Yogyakarta sudah mulai mengirim nyamplung ke Jepang dan Korea, jadi pasarnya sudah ada tinggal mengedukasi masyarakat untuk mau bergerak bersama menanamnya,” ungkap Siti.

Siti menambahkan, tanaman nyamplung diminati banyak negara bukan hanya karena buah atau bijinya yang menghasilkan minyak pengganti solar, melainkan juga kayunya yang sama kerasnya dengan meranti. Bunganya digemari lebah madu, sedangkan buahnya jadi bahan obat-obatan alami, bahkan bahan dasar kosmetik.

”Tujuan besarnya, penelitian ini bisa berguna di masa depan tak hanya menjaga gambut, tetapi juga memberikan kontribusi ke masyarakat secara ekonomi,” tambah Siti.

KOMPAS/DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO–Bupati Pulang Pisau Edy Pratowo (kanan), Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut (BRG) Myrna Safitri, dan Program Manajer Kemitraan-Partnership Hasantoha melakukan panen perdana jagung hibrida di Desa Garantung, Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah pada Rabu (12/2/2020).

Di Kalteng, Badan Restorasi Gambut (BRG) akan bekerja di empat kabupaten, yakni Kabupaten Kapuas, Seruyan, Barito Selatan, dan Kotawaringin Barat. Dalam upaya memperbaiki lahan gambut yang rusak, BRG juga memiliki program revitalisasi ekonomi di mana masyarakat mendapatkan manfaat dari menjaga gambut.

Berdasarkan data Kemitraan, partner kerja BRG, sedikitnya terdapat 48 produk yang dihasilkan dari lahan gambut yang ada di 46 desa peduli gambut di Kalteng. Sebagian besar lahan gambut tersebut pernah terbakar.

Deputi Edukasi, Sosialisasi, Partisipasi, dan Kemitraan Badan Restorasi Gambut Myrna Safitri mengungkapkan, program pendampingan bagi masyarakat merupakan bentuk revitalisasi ekonomi. Hasilnya diharapkan bisa dipakai untuk memelihara atau mengoperasikan infrastruktur pencegahan kebakaran lahan gambut, seperti sumur bor dan sekat kanal yang sudah dibangun. Dampak lain, gambut terjaga karena mengurangi aktivitas mengolah lahan tanpa bakar. Pola ini membuat kegiatan restorasi lebih baik dan gambut terjaga.

”Jika dimanfaatkan dengan bijak, gambut menjadi lahan yang sangat produktif. Dengan revitalisasi ekonomi, masyarakat dapat untung, gambut juga terjaga,” kata Myrna.

Beragam inovasi pengolahan lahan gambut tanpa membakar berujung pada pemenuhan biaya hidup sehari-hari masyarakat, seperti sekolah anak dan biaya kesehatan. Dengan inovasi, lingkungan gambut juga terjaga.

Oleh DIONISIUS REYNALDO TRIWIBOWO

Editor: SIWI YUNITA

Sumber: Kompas, 17 April 2020

Share
x

Check Also

Instrumen Nilai Ekonomi Karbon Diatur Spesifik

Pemerintah sedang menyusun peraturan presiden terkait instrumen nilai ekonomi karbon dalam. Ini akan mengatur hal-hal ...

%d blogger menyukai ini: