NASA Kembangkan Propelan Ramah Lingkungan

- Editor

Rabu, 26 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Selama lebih dari empat dekade, propelan hidrazin menjadi tulang punggung penggerak roket, satelit dan wahana antariksa lain. Sifat hidrazin yang beracun dan mudah meledak membuat bahan bakar ini butuh penanganan khusus mulai dari penyimpanan, pengisian, hingga pembuangannya.

Meski penggunaan propelan ini sudah mapan, namun penanganan yang kompleks membuat biaya peluncuran roket yang mahal sulit ditekan.

US AIR FORCE RESEARCH LABORATORY–Propelan ramah lingkungan yang dikembangkan Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA). Propelan ini diklaim memiliki kinerja lebih baik dibanding propelan konvensional saat ini yaitu hidrazin.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Jadwal peluncuran pun menjadi sangat ketat karena proses pengisian roket dengan hidrazin membutuhkan waktu lama. Pekerja pengisian bahan bakar pun harus menggunakan baju khusus yang bertekanan untuk menghindarkan mereka dari racun propelan.

Untuk mengatasi hal itu, sejak dua dekade terakhir, Badan Penerbangan dan Antariksa Nasional Amerika Serikat (NASA) mengembangkan bahan penggerak roket alternatif yang lebih aman dari propelan tradisional hidrazin. Program yang dinamakan Misi Infusi Propelan Hijau (GPIM) itu bertujuan mencari pengganti sistem propelan konvensional bagi wahana antariksa masa depan, termasuk wahana kecil.

NASA mengembangkan misi itu bersama Ball Aerospace & Technologies Corp di Boulder, Colorado, AS. Dalam tim itu, juga terlibat sejumlah lembaga riset baik dibawah koordinasi NASA maupun Angkatan Udara AS.

Meski tujuan misi adalah untuk mencari propelan yang lebih efisien, namun upaya itu tidak bisa dilakukan dengan hanya berfokus pada riset propelannya semata. Seperti dikutip dari situs NASA, 4 Februari 2019, misi itu juga dilakukan dengan mengoptimalkan kinerja perangkat keras hingga sistem daya wahana hingga menghasilkan propelan dengan kinerja terbaik, namun tetap aman bagi wahana antariksa.

Propelan baru yang masih dirahasiakan bahan pembuatnya itu mengandung hidroksil amonium nitrat atau lebih dikenal dengan nama AF-M315E. Materi yang dikembangkan di Laboratorium Riset Angkatan Udara AS di Pangkalan Angkatan Udara Edwards, California itu diklaim sebagai bahan bakar yang tak hanya lebih baik dari hidrazin, tetapi juga ramah bagi manusia dan lingkungan.

Tingkat toksisitas bahan propelan ini diklaim lebih rendah dari kafein. Karena itu, bahan bakar berwarna oranye itu aman dikirim menggunakan jasa pengiriman publik atau melalui paket pos. Situasi itu juga membuat penerbangan luar angkasa memungkinkan dilakukan di seluruh bagian negara Amerika Serikat.

Selain itu, karena aman, proses pengisian bahan bakar ini ke wahana membutuhkan waktu lebih singkat hingga menekan biaya cukup besar. Jika selama ini pengisian hidrazin ke wahana antariksa membutuhkan waktu beberapa minggu, maka dengan propelan baru hanya membutuhkan waktu beberapa hari saja.

AF-M315E juga memiliki konsentrasi lebih padat. Sifat itu membuat propelan ini memiliki kinerja 50 persen lebih baik dibanding hidrazin. “Dengan performa yang baik itu, wahana antariksa bisa melakukan perjalanan luar angkasa yang lebih jauh, beroperasi lebih lama, dan membutuhkan bahan bakar lebih sedikit,” seperti ditulis di space.com, Selasa (25/6/2019).

Efektifivitas propelan yang lebih baik membuat propelan ini juga bisa digunakan pada wahana antariksa atau satelit berbentuk kubus dan berukuran kecil, sebesar kotak sepatu. Satelit kotak sekecil itu biasanya sulit membawa propelan dengan efisien.

Uji kelayakan
Kini, bahan bakar di luar angkasa itu sedang menjalani uji kelayakan. AF-M315E akan menjadi bahan bakar dari wahana antaraiksa SmallSat yang juga diproduksi oleh Ball Aerospace. Satelit itu diluncurkan bersama 23 satelit lainnya menggunakan roket Falcon Heavy dari Bandar Antariksa Kennedy di Tanjung Canaveral, Florida, AS pada pada Selasa (25/6/2019) pukul 02.30 waktu timur AS atau pukul 13.30 WIB.

SmallSat akan menjalani misi selama 13 bulan. Selama masa uji coba itu, satelit akan menjalani sejumlah manuver untuk menentukan seberapa efisien propelan AF-M315E bekerja dalam berbagai sikap atau kondisi gerak selama penerbangan.

Jika semua berjalan sesuai rencana, maka AF-M315E akan menjadi bahan bakar wahana antariksa masa depan. Wahana antariksa pun akan mampu terbang lebih jauh dan lebih lama hingga meningkatkan kemampuan jelajah teknologi buatan manusia mengarungi alam semesta.–M ZAID WAHYUDI

Editor EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 26 Juni 2019

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?
Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia
Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN
Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten
Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker
Lulus Predikat Cumlaude, Petrus Kasihiw Resmi Sandang Gelar Doktor Tercepat
Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel
Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina
Berita ini 8 kali dibaca

Informasi terkait

Rabu, 24 April 2024 - 16:17 WIB

Tak Wajib Publikasi di Jurnal Scopus, Berapa Jurnal Ilmiah yang Harus Dicapai Dosen untuk Angka Kredit?

Rabu, 24 April 2024 - 16:13 WIB

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 April 2024 - 16:09 WIB

Siap Diuji Coba, Begini Cara Kerja Internet Starlink di IKN

Rabu, 24 April 2024 - 13:24 WIB

Riset Kulit Jeruk untuk Kanker & Tumor, Alumnus Sarjana Terapan Undip Dapat 3 Paten

Rabu, 24 April 2024 - 13:20 WIB

Ramai soal Lulusan S2 Disebut Susah Dapat Kerja, Ini Kata Kemenaker

Rabu, 24 April 2024 - 13:06 WIB

Kemendikbudristek Kirim 17 Rektor PTN untuk Ikut Pelatihan di Korsel

Rabu, 24 April 2024 - 13:01 WIB

Ini Beda Kereta Cepat Jakarta-Surabaya Versi Jepang dan Cina

Rabu, 24 April 2024 - 12:57 WIB

Soal Polemik Publikasi Ilmiah, Kumba Digdowiseiso Minta Semua Pihak Objektif

Berita Terbaru

Tim Gamaforce Universitas Gadjah Mada menerbangkan karya mereka yang memenangi Kontes Robot Terbang Indonesia di Lapangan Pancasila UGM, Yogyakarta, Jumat (7/12/2018). Tim yang terdiri dari mahasiswa UGM dari berbagai jurusan itu dibentuk tahun 2013 dan menjadi wadah pengembangan kemampuan para anggotanya dalam pengembangan teknologi robot terbang.

KOMPAS/FERGANATA INDRA RIATMOKO (DRA)
07-12-2018

Berita

Empat Bidang Ilmu FEB UGM Masuk Peringkat 178-250 Dunia

Rabu, 24 Apr 2024 - 16:13 WIB