Home / Sosok / Narendra Wicaksono, Demi Ekosistem Lokal

Narendra Wicaksono, Demi Ekosistem Lokal

Narenda Wicaksono pernah bekerja di Microsoft dan Nokia. Namun, ia memilih menanggalkan kariernya yang cemerlang di perusahaan multinasional demi mewujudkan impiannya: menumbuhkan ekosistem pengembang aplikasi dan gim di Indonesia.

Narenda bekerja untuk Microsoft pada kurun waktu Mei 2007-Desember 2010 sebagai technical evangelist di Microsoft Indonesia. Tugasnya adalah memberikan pengetahuan teknis kepada khalayak serta mengembangkan komunitas teknologi Microsoft. Setelah itu, ia bekerja di Nokia hingga April 2014 sebagai manajer pengembangan bisnis untuk kawasan Asia Tenggara. Tugas utamanya adalah menghubungkan pengembang dengan pasar agar tercipta industri perangkat lunak berkelanjutan.

Pekerjaan itu membuat Narenda bersentuhan dengan banyak pengembang Indonesia. Ia membimbing mereka agar bisa masuk sebagai pemain di dalam ekosistem industri perangkat lunak global. ”Selama bekerja di kedua perusahaan itu, aku berkesempatan berkeliling Indonesia, bertemu banyak pengembang hebat di bidang aplikasi ataupun gim. Ada cerita menyenangkan, ada pula yang menyedihkan,” katanya.

Ia lantas bercerita tentang tim Solite Studio Madura yang terdiri atas empat mahasiswa Universitas Trunojoyo. Keempatnya menciptakan gim edukasi matematika bernama Save The Hamster yang keluar sebagai juara pertama Microsoft Imagine Cup Indonesia pada April 2013. Narenda menjadi mentor mereka.

Sebagai juara pertama, Solite Studio berhak mewakili Indonesia di final Microsoft Imagine Cup tingkat global di St Petersburg, Rusia, pada Juli 2013. Perjalanan menuju babak final berlangsung mulus. Solite Studio keluar sebagai juara pertama. Namun, selanjutnya, ada orangtua anggota tim Solite Studio tidak ingin anaknya menjadi pengembang aplikasi. Mereka ingin anaknya menjadi pegawai negeri saja.

”Aku sampai pergi ke Surabaya, lalu naik motor ke Madura untuk menemui bapak anak itu. Aku bilang bahwa anaknya sudah menang tingkat dunia dan jumlah pengunduh gim Save The Hamster mencapai 1 juta. Aku memohon agar dia memberikan kesempatan, setidaknya setahun untuk mematangkan bisnis.”

Persoalan yang dialami Solite Studio, lanjut Narenda, sering terjadi di Indonesia. Banyak anak muda yang berprofesi sebagai pengembang terpaksa harus mundur karena tidak direstui orangtua.

Puluhan ribu anggota
Narenda tahu banyak anak muda Indonesia yang punya potensi untuk menjadi pengembang aplikasi atau gim. Namun, ekosistem industrinya belum mendukung. Ia pun tergerak untuk mengembangkan ekosistem industri aplikasi dan gim di Tanah Air. ”Ketika bekerja pada perusahaan orang, aku ingin melakukan banyak hal untuk ekosistem industri aplikasi dan gim lokal, tetapi gerakku terbatas,” tuturnya.

Ia pun memutuskan menanggalkan kariernya di perusahaan multinasional. Ia kemudian mendirikan perusahaan Dicoding bersama beberapa temannya pada 5 Januari 2015. Tujuannya menjembatani pengembang lokal dengan permintaan pasar. ”Waktu itu aku mau masuk usia 30 tahun. Orangtuaku tidak punya latar belakang bisnis. Aku merasa usia muda saatnya berkarya, dan beruntungnya orangtua merestui,” kenang Narenda.

Pada mulanya, tim Dicoding hanya terdiri atas empat orang, termasuk Narenda. Sekarang anggota tim berjumlah 12 orang. Mereka mengelola tiga pilar kegiatan, yaitu kompetisi, acara, dan pendidikan. Sejauh ini, sekitar 17.900 pengembang aplikasi lintas platform mendaftar di lebih dari 374 kegiatan yang digelar Dicoding berkolaborasi dengan komunitas pengembang, Pemerintah Indonesia, dan industri teknologi informasi pada periode 2015-2017.

Dicoding memiliki lebih dari 71.000 anggota dari 336 kota di seluruh Indonesia. Sekitar 632 orang, di antaranya, adalah perusahaan rintisan bidang teknologi yang telah memanfaatkan program-program Dicoding untuk meningkatkan kualitas karya digital mereka.

Sebanyak 3.600 karya digital lahir dari 127 kompetisi di fitur layanan challenge (kompetisi) Dicoding yang meliputi gim, aplikasi mobile, dan laman. Total unduh telah mencapai lebih dari 214 juta kali. ”Aku dan tim secara ketat mengoreksi karya digital. Kalau ada yang ketahuan mencontek, kami tolak dan blokir. Kami ingin mendidik orang dengan benar,” kata Narenda.

Pada Agustus 2015, Dicoding meluncurkan Dicoding Academy. Saat ini tercatat lebih dari 27.500 pengembang aktif mengikuti kelas Dicoding. Sebanyak 2.411 telah lulus. Untuk mengikuti Dicoding Academy, pengembang cukup mendaftar dan mengikuti kelas online.

Setahun terakhir, Narenda dan tim menyusun kurikulum MADE. Sebagai mitra resmi pelatihan Google (Google Authorized Training Partner), penyusunan kurikulum diawasi dan diverifikasi langsung oleh Google. Tujuannya adalah memastikan materi yang diajarkan relevan dengan kebutuhan industri.

Modul cetak MADE diterbitkan secara eksklusif oleh Dicoding. Ulasan komprehensif dikerjakan oleh Google Authorized Training. Model mencakup sejumlah materi pokok, antara lain testing, debugging, dan application UX.

Peserta kelas MADE berhak atas modul cetak itu, 35 video tutorial, dan 24 kuis. Mereka juga wajib menyelesaikan tugas dan prototipe aplikasi dalam kurun waktu 90 hari. Setelah lulus, mereka memperoleh sertifikat Picodiploma Dicoding serta kesempatan mengikuti ujian sertifikasi internasional dari Google.

Ada sejumlah kisah yang ditemukan selama menggelar pelatihan online itu. Sejumlah peserta dari luar Jawa kerap harus menunggu listrik menyala dan mendapatkan koneksi internet untuk mengerjakan tugas MADE. Tim Dicoding pernah merogoh kocek hampir Rp 200.000 untuk ongkos mengirim modul cetak MADE kepada peserta kelas yang berdomisili di ujung barat Indonesia.

Biaya sendiri
Sejauh ini, biaya operasi Dicoding didanai dengan pendapatan perusahaan sendiri atau biasa disebut boostrap. Ia sengaja memilih jalan itu untuk membuktikan bahwa perusahaan teknologi dengan pendekatan boostrap bisa hidup. ”Ayolah, Anda seharusnya terlebih dulu memahami kode pemrograman, kemudian membuat produk bagus dan memiliki dampak sosial,” katanya.

Agar timnya bisa bekerja dengan tenang, setiap anggota tim dibelikan rumah. Dananya diambil dari kas perusahaan. ”Kalau gaji dipakai buat bayar cicilan rumah, mereka akan pusing dan ujung-ujungnya kinerja anjlok. Berapa pun aku menaikkan nilainya (gaji), mereka belum tentu bisa melunasi kredit (rumah),” kata Narenda menjelaskan kebijakannya itu.

Untuk menekan pengeluaran, istrinya ikut membantu mengelola Dicoding, misalnya mengurus keuangan perusahaan dan menyusun tulisan rilis untuk media massa. Ia juga memberikan keleluasaan kepada anggota tim untuk memanfaatkan waktu luang buat kegiatan lain.

”Ada salah satu anggota tim yang masih melakoni berladang pada sore hari setelah bekerja di Dicoding,” ujarnya

Perjalanannya bersama Dicoding tidak selalu mulus. Pada tahun pertama ia sempat ragu untuk meneruskan langkah. Apalagi, ia pernah kehabisan uang untuk menutupi biaya hidup. Namun, keraguan itu segera sirna begitu ia menemukan anak- anak muda Indonesia yang punya bakat untuk menjadi pengembang aplikasi yang hebat.

”Rasanya puas banget kalau melihat anak didikku berhasil dan ini sangat berharga buat aku,” ujarnya.

MEDIANA

Sumber: Kompas, 26 Desember 2017

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Bambang Yuwono dan Hary Sudiyono Candra, Pembelajaran Digital untuk Siswa Sekolah

Bambang dan Hary, pendiri PesonaEdu, membuat buku digital interaktif untuk membantu siswa dan guru dalam ...

%d blogger menyukai ini: