Nalar dan Paradigma Baru Literasi

- Editor

Sabtu, 14 Desember 2013

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

DALAM beberapa tulisannya di Kompas, Iwan Pranoto, Guru Besar Matematika ITB, menekankan  pentingnya memperjuangkan pendidikan Indonesia yang berporos pada upaya menumbuhkan kemampuan nalar siswa.

Kemampuan ini mencakup daya berpikir logis, keterampilan mengolah informasi dari bacaan, dan kemampuan menyimpulkan dengan pemikiran sendiri.

Dalam disiplin ilmu pendidikan, kemampuan nalar seperti ditegaskan Pranoto itu sejatinya bertaut erat dengan literasi. Perlu dicatat, konsep literasi di sini tak lagi dimaknai secara sempit yang terbatas pada kemampuan baca tulis.

Dalam disiplin pendidikan, konsep literasi berkaitan dengan kemampuan memaknai teks seperti huruf, angka, dan simbol kultural seperti gambar dan sim- bol secara kritis. Namun, tak berhenti di situ, yang justru lebih penting, siswa dengan daya literasi tinggi mampu mengolah informasi dari teks yang dibacanya untuk kemudian menyimpulkan dan mengambil keputusan atas informasi itu.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Untuk bisa berdaya literasi tinggi,  siswa diandaikan bukan hanya bisa baca dan tulis, mela- inkan juga aktif dalam memaknai teks, mengerti fungsi penggunaannya, dan menganalisis teks secara kritis dan mentransformasikan penggunaannya.

Hak dasar manusia
Literasi dalam arti luas seperti ini sejatinya sudah cukup lama menjadi acuan UNESCO.  Ini bisa kita baca dari Literacy for Life, laporan UNESCO tahun 2006 tentang literasi dunia. Di situ di- nyatakan, literasi adalah hak dasar manusia sebagai bagian esensial dari hak pendidikan. Terpe- nuhinya hak literasi memungkinkan kita mengakses sains, tekno- logi, aturan hukum, serta memanfaatkan kekayaan budaya dan daya guna media. Singkatnya, literasi menjadi poros upaya peningkatan kualitas hidup manusia. Oleh sebab itu, ia merupakan sumbu pusaran pendidikan.

Namun, anehnya, pemerintah Indonesia justru belum beranjak dari paradigma lama literasi (populer pada dekade 1960-an) yang mendefinisikan literasi dengan kemampuan teknis membaca, menulis, dan berhitung.  Laporan peningkatan literasi Indonesia (sebagai bagian dari laporan literasi dunia UNESCO di atas) memaknai literasi sebagai semata- mata soal tren penurunan tingkat buta huruf Indonesia  seiring pemerataan pendidikan dasar.

Tampaknya paradigma lama literasi ini masih menjadi panduan dalam pengambilan kebijakan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. Akibatnya, kemampuan siswa Indonesia mengingat apa yang mereka baca, refleksikan, dan timbang secara kritis terbukti sangat rendah. Hasil literasi survei dunia PISA terakhir tahun 2009 menempatkan Indonesia di urutan ke-62 dari 72 negara, tertinggal jauh dari Thailand  (53) dan Malaysia (55).

Untuk mengatasi ketertinggalan ini, yang paling mendesak dilakukan adalah  revisi paradigma usang literasi dan menggantinya dengan paradigma yang lebih merefleksikan kebutuhan berliterasi di era ketika siswa dikelilingi teks, informasi, dan gambar dari pelbagai penjuru.  Upaya strategis yang bisa kita la- kukan menumbuhkan daya lite- rasi Indonesia secara menyeluruh dan berkesinambungan adalah dengan memulainya dari pendidikan di sekolah.

Negara dengan tingkat literasi tinggi seperti Finlandia, Jepang, dan Amerika Serikat secara sis- tematis menempatkan buku sebagai pusaran kegiatan pembelajaran. Di AS, misalnya, sejak jenjang pendidikan dini anak diperkenalkan dengan konsep buku dan berdialog dengan teks dan gambar. Dengan dibantu guru, sejak belia siswa dibiasakan bertanya, termasuk pesan apa yang ingin disampaikan oleh pengarang buku. Mereka belajar berdialog dengan teks, bukan sekadar membaca sambil lewat.

Di jenjang SD, siswa dikondisi- kan belajar memperkaya kosaka- ta dan menumbuhkan daya analisis mereka menggunakan bacaan berjenjang yang disesuaikan dengan tingkat kognitif dan kematangan mereka. Bacaan berjenjang biasanya dibedakan seberapa kompleks bacaan, seperti kosakata, struktur, logika, dan konsep. Di tingkat menengah siswa akan terbiasa mendiskusikan buku beragam genre dan teks beragam bentuk (seperti digital) dengan tingkat kesulitan sesuai dengan yang diharapkan di perguruan tinggi atau dengan kebutuhan literasi ketika mereka terlibat langsung dengan masyarakat luas. Akhirnya keterbiasaan dengan buku akan menumbuhkan cinta mereka membaca.

Peran buku
Pelajaran apa yang bisa kita petik dari kasus di atas? Satu hal yang pasti: peningkatan literasi terkait erat dengan pengoptimalan peran buku. Fungsi buku dan teks bukan sekadar rujukan, melainkan juga medium berpikir kritis dengan cara mendiskusikan makna yang tak sekadar di permukaan.

Pendidikan yang melibatkan buku dan bahan bacaan sebagai sumber ajar akan memfasilitasi guru dan siswa dalam proses pembelajaran yang dialogis, aktif, dan kritis. Ini mengandaikan perlunya guru dipersiapkan menanamkan pemahaman literasi dan mengajarkannya di kelas, dan bagaimana siswa punya kesempatan meningkatkan daya literasi mereka di sekolah.

Pendidikan literasi butuh kesinambungan, dari jenjang  pendidikan dini hingga dewasa. Tak ada jalan pintas untuk itu.

Tati D Wardi, Mahasiswi S-3 Kajian Literasi dan Sastra Anak, Ohio State University, Columbus, AS

Sumber: Kompas, 14 Desember 2013

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Iman dan Sains, Dua Sayap Kebangkitan Peradaban Islam
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Berita ini 34 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB