Home / Berita / Musibah Lion Air, Mengurai Kronologi Kejadian

Musibah Lion Air, Mengurai Kronologi Kejadian

Dengan kecepatan tinggi, ketika pesawat Lion Air jatuh membentur air laut di perairan Karawang, efeknya sama seperti membentur permukaan padat. Gaya gravitasi yang muncul saat itu bisa sampai 14 g.

Jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 bernomor regristrasi PK-LQP di perairan Tanjung Karawang, Jawa Barat pada Senin (29/10/2018) pagi dapat segera terlacak berdasarkan pantauan radar Automatic Dependent Surveillance—Broadcast (ADS–B) di Air Navigation Indonesia Bandara Soekarno Hatta Cengkareng. Hasil analisis ADSB ini mengungkap kronologis kejadian jatuhnya pesawat naas itu.

Selasa (6/11) kemarin, pencarian jatuhnya pesawat jenis Boeing 737 Max 8 berpenumpang 181 orang dengan 8 awak di perairan Tanjung Karawang itu telah memasuki hari kesembilan. Fokusnya pada pencarian Cockpit Voice Recorder (CVR) atau perekam suara kokpit. Perekam data penerbangan atau Flifgt Data Recorder (FDR) telah ditemukan beberapa hari lalu. Selama seminggu lebih operasi SAR juga telah ditemukan berbagai serpihan bagian pesawat termasuk mesin pesawat, bagian yang paling berat dan solid itu kondisinya pun rusak berat.

KOMPAS/TOTOK WIJAYANTO–Petugas KNKT meneliti turbin pesawat Lion Air PK-LQP yang berhasil ditemukan di Dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta, Minggu (4/11/2018). Operasi pencarian jatuhnya pesawat Lion Air diperpanjang hingga Rabu (7/11/2018).

Efek musibah yang begitu hebat itu kemudian ditelusuri kronologis kejadiannya berdasarkan analisis sinyal data ADSB di pesawat yang dikirim secara otomatis ke sistem penerima di menara Air Traffic Control (ATC) Bandara Sukarno Hatta. Flightradar24 itu beredar di media sosial tak berapa lama setelah kejadian.

Direktur Pusat Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Michael A Purwoadi menjelaskan, garis arah pergerakan pesawat yang akan menuju Pangkal Pinang itu terhenti ketika pesawat berada di perairan utara Jabar. Ketika itu, ATC di Bandara Soekarno Hatta kehilangan kontak karena posisi pesawat sudah terlalu rendah, di luar jangkauan radar.

FLIGHT RADAR 24–Data dari situs Flight Radar 24 tentang Lion Air PK-LQP dengan rute JT-610 antara Cengkareng dan Pangkal Pinang.

Pada data pantauan radar ada dua grafik yang masing-masing menunjukkan kecepatan dan ketinggian. Di citra terindikasi pesawat yang tinggal landas pada 23.20 UTC (koordinat waktu universal) atau 06.20 WIB mulai menunjukkan masalah sekitar 4 menit mengudara, kemudian menurun tajam ketinggiannya. Namun, kecepatannya meninggi hingga berhenti pada 23.32 UTC atau 06.32 WIB, yaitu setelah 12 menit terbang.

Menurut pakar teknologi penerbangan yang juga Kepala Jurusan Penerbangan Institut Teknologi Bandung, Toto Indrayanto, kecepatan pesawat pada bagian akhir lebih dari 370 knot atau 685 kilometer per jam. Dengan kecepatan sebegitu cepat, ketika membentur air maka efeknya sama saja seperti membentur permukaan padat. Karena saking cepatnya, air tidak sempat menyibak lebih dahulu. Hal inilah yang mengakibatkan ledakan. Mungkin ada kebakaran timbul akibat benturan itu karena bahan bakar masih penuh, tetapi kebakaran cepat padam oleh air di sekelilingnya.

Kecepatan pesawat pada bagian akhir lebih dari 370 knot atau 685 kilometer per jam. Dengan kecepatan sebegitu cepat, ketika membentur air maka efeknya sama saja seperti membentur permukaan padat.

Gaya gravitasi
Dari ketinggian 1.200 meter pesawat meluncur ke bawah dengan kecepatan 685 km per jam atau 190,3 meter per detik. Maka dalam waktu 6,3 detik, pesawat sudah membentur permukaan laut. Proses penurunannya berlangsung sangat cepat sehingga tidak diketahui penduduk di sekitar kejadian. Mereka hanya mendengar ledakannya.

Bagaimana dengan kondisi korban di dalamnya? Dalam kecepatan tinggi itu laju pesawat terhenti begitu menabrak permukaan laut. Gaya gravitasi atau G Force yang muncul saat itu bisa sampai 14 g. Ini jauh di atas daya tahan manusia untuk menanggungnya. Dalam kondisi biasa manusia hanya sanggup sekitar 3 hingga 4 g. Pilot pesawat tempur dengan pakaian khusus dapat bermanuver hingga 9 g.

Menurut pengajar dari jurusan Kesehatan Penerbangan Universitas Indonesia, Charto Susanto Hindar Bumi, dalam pengaruh gaya gravitasi terjadi gangguan fisiologis. Kemungkinan mereka telah pingsan bahkan meninggal sebelum pesawat membentur permukaan laut.

Saat pesawat bermanuver itu, darah pada tubuh manusia mengikuti gaya berat, yaitu ke bagian bawah tubuh, ini akan mengakibatkan berkurangnya pasokan oksigen ke otak. Efek ini juga berpengaruh pada penurunan tekanan darah sehingga menghambat pompa jantung untuk mengalirkan darah ke tubuh bagian atas. Saat semua darah terkumpul di bagian bawah ditambah beban tubuh, mereka dapat kehilangan kesadaran hingga mengalami kematian dalam kondisi tekanan berlanjut.

Percepatan gravitasi menghasilkan berat yang besarnya adalah berat per satuan massa. Ada beberapa tingkatan gangguan fisiologis pada tubuh dengan meningkatkan gaya grafitasi (G Force), mulai dari hilangnya kesadaran hingga kematian. Saat pesawat menukik, menyebabkan darah naik ke atas hingga menyebabkan wajah membengkak. Pada tingkatan 3g darah tak dapat kembali ke paru untuk mendapatkan oksigen sehingga pingsan. Pada tingkatan lanjut tekanan akan berpengaruh pada ikatan persedian tulang.

ERIKA KURNIA UNTUK KOMPAS–Beberapa potongan badan pesawat Lion Air JT610, yang ditemukan dua hari terakhir, masih diletakkan di dermaga JICT 2, Tanjung Priok, Jakarta Utara, Minggu (4/11/2018). Pemindahan bangkai pesawat tersebut menunggu KNKT.

Apabila posisi pesawat jatuh dalam kondisi menukik, maka bagian yang paling parah bagian depan yang paling dulu terhujam ke air. Saat ini belum diketahui bagian mana yang membentur permukaan laut lebih dahulu. Tingkat kehancurannya tergantung kecepatan dan sudut benturannya.

“Seperti temuan di lapangan, pesawat yang panjangnya sekitar 30 meter tidak ada dalam kondisi utuh saat masuk ke laut yang dalamnya juga 30 meter. Data kondisi pasti kejadian musibah ini akan diketahui lebih jelas pada hasil investigasi pihak KNKT (Komite nasional Keselamatan Transportasi),” kata Toto.

Pencarian serpihan dan jasad korban serta CVR – yang merekam data percakapan pilot di kokpit pasca hilang kontak – yang terbenam pascaledakan, saat ini terkendala endapan lumpur yang setebal satu meter. Masih ada peluang menemukan CVR karena alat ini diperkirakan masih mengeluarkan sinyal ping akustik.

CVR yang juga ditempatkan di bagian ekor dirancang tahan tekanan karena dilapisi baja tahan api berdaya tahan tinggi serta tahan benturan kuat. Daya tahan suhunya hingga 1.000 derajat celsius dan dapat menanggung tekanan hingga 90 G atau 90 kali bobotnya.–YUNI IKAWATI

Sumber: Kompas, 6 November 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Elang Hitam Penjaga Kedaulatan Negara

Penggunaan pesawat udara nirawak jadi tren global. Selain lebih murah, risiko pun kecil. Kini, saatnya ...