Home / Sosok / Musdah dan Saimun, Penjaga Nyala Listrik dari Narmada

Musdah dan Saimun, Penjaga Nyala Listrik dari Narmada

Rasio elektrifikasi di Indonesia belum mencapai 100 persen. Kehadiran sosok-sosok di daerah yang berinisiatif menyediakan pasokan listrik patut diapresiasi. Mereka mengerjakan tugas yang menjadi tanggung jawab negara.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA—Saimun (kiri) dan Musdah, operator pembangkit listrik tenaga mikrohidro di Desa Sedau, Kecamatan Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, Rabu (27/1/2021).

Musdah dan Saimun selama hampir 15 tahun menjaga aliran listrik ke Dusun Selenaik, Kecamatan Narmada, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. Berbagai kejadian ia alami termasuk diancam oleh warga lantaran aliran listrik beberapa kali padam.

“Ketika ada masalah pemadaman (listrik) di rumah warga, tak jarang mereka marah dan mendatangi rumah saya. Bahkan, pernah saya diancam dengan golok oleh salah satu warga,” tutur Musdah (52) saat dijumpai di rumah akhir Januari 2021.

Musdah dan rekannya Saimun adalah operator pembangkit listrik tenaga minihidro (PLTMH) PLTMH Selenaik 1 di Desa Sedau, Kecamatan Narmada. Secara bergantian mereka merawat PLTMH yang memiliki kapasitas 25 kilowatt (kW).

PLTMH itu dibangun oleh Dinas Pertambangan dan Energi Provinsi Nusa Tenggara Barat pada 2006 itu, memanfaatkan aliran Sungai Sesaot untuk menggerakkan turbin. Listrik yang dihasilkan melayani 128 rumah di Dusun Selenaik.

Lantaran bergantung pada debit air sungai, pasokan listrik dari PLTMH itu kerap tidak stabil. Di saat musim kemarau, sekitar bulan April-Agustus, debit air berada di titik terendah, yakni sekitar 250 liter per detik. Dengan demikian, daya yang dihasilkan menurun. Tak jarang, dalam situasi seperti itu terjadi pemadaman lantaran kebutuhan listrik melampaui kekuatan pembangkit.

“Di musim hujan seperti sekarang ini debit air bagus. Bisa mencapai 400 liter per detik. Tapi, air sungai yang deras juga terkadang mengkhawatirkan. Takut menenggelamkan mesin turbin,” kata Saimun. Mesin turbin PLTMH Selenaik 1 tepat berada di tepi sungai yang berjarak hampir dua kilometer dari permukiman warga.

Musdah, selain bertugas sebagai operator mesin pembangkit, juga menjadi pengumpul uang iuran dari warga sebesar Rp 20.000 per bulan per rumah, berapapun listrik yang mereka pakai. Sayangnya, akhir-akhir ini iuran dari warga sering macet.

“Apabila dihitung keseluruhan, tunggakan iuran warga saat ini sudah mencapai Rp 10-an juta,” kata Musdah sembari mencermati buku catatan iuran.

Musdah mengakui, warga di kampungnya belum sepenuhnya sadar bahwa listrik yang mereka nikmati berasal dari pembangkit yang bukan dioperasikan oleh PLN. Apalagi, pembangkit tersebut mengandalkan aliran sungai, bukan dari pembangkit raksasa milik PLN seperti pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Yang mereka tahu, imbuhnya, listrik harus tetap menyala karena warga merasa sudah membayar iuran setiap bulan.

Ketika pemerintah memberikan stimulus berupa pembebasan tagihan rekening listrik bagi pelanggan dengan daya 450 volt ampere (450) selama masa pandemi Covid-19, warga minta perlakuan yang sama. Padahal, stimulus itu diberikan kepada pelanggan listrik PLN sejak Maret 2020 lalu.

“Dikiranya saya ini (orang) PLN. Mereka menagih pembebasan rekening listrik seperti yang mereka dengar di kabar berita. Tapi, tidak apa-apa. Yang penting warga bisa menikmati listrik,” ucap Musdah.

KOMPAS/P RADITYA MAHENDRA YASA—Sebanyak 936 panel surya yang menjadi proyek percontohan Pembangkit Listrik Tenaga Surya di Waduk Jatibarang, Kecamatan Gunungpati, Kota Semarang, Jawa Tengah, Selasa (26/3/2019). Selain panel surya kawasan waduk juga memiliki fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Mini-Hidro (PLTMH).

Bersama Saimun, Musdah harus menjelaskan kepada warga bahwa listrik yang mereka nikmati berasal dari pembangkit mandiri, bukan dari PLN. Keduanya juga mengingatkan warga bahwa iuran yang mereka bayarkan dibutuhkan untuk pembiayaan operasional mesin turbin. Apabila ada suku cadang yang rusak dan mesti diganti, dibeli dari iuran yang terkumpul.

Aurodidak
Musdah bukanlah seorang teknisi. Sehari-hari, selain menjadi operator mesin turbin, ia adalah petani dan peternak di kampungnya. Musdah pun tak punya pengalaman pendidikan teknik. Ia lulusan sekolah menengah umum atau SMA di masa lalu. Mengoperasikan mesin turbin dipelajari secara autodidak.

Adapun Saimun adalah lulusan Sekolah Teknik Mesin (STM) di Narmada. Kendati akrab dengan mesin, mengoperasikan mesin turbin pembangkit listrik juga merupakan hal baru baginya. Apabila ada kerusakan kecil pada mesin turbin, ia memberanikan diri untuk mengutak-atik mesin tersebut.

“Apabila ada onderdil yang rusak, saya coba cari di toko di kota. Saya punya kenalan beberapa bengkel,” ucap Samiun.

Kerusakan mesin turbin kadang tak kenal waktu. Pernah juga suatu saat listrik dari pembangkit padam di waktu dini hari. Secara bergantian, Musdah dan Saimun turun memeriksa ke lokasi mesin pembangkit di saat itu juga. Harus dipastikan apa penyebab pemadaman tersebut.

“Mesin turbin ini satu-satunya pemasok listrik bagi warga kami. Jadi, harus dipelihara betul dengan baik. Meski tidak ada biaya pemeliharaan, kami tetap terus merawat mesin ini,” kata Musdah.

Data pemerintah menyebutkan bahwa rasio elektrifikasi di Nusa Tenggara Barat sudah mencapai 99 persen di 2020. Rasio elektrifikasi adalah perbandingan jumlah penduduk yang menikmati listrik dengan populasi di suatu wilayah. Pada 2020, pemerintah sebenarnya menargetkan rasio elektrifikasi nasional 100 persen. Kenyataannya, dengan berbagai kendala yang ada, rasio elektrifikasi nasional tercapai 99,2 persen.

Sisa hampir 1 persen tersebut adalah wilayah-wilayah terpencil dan terluar yang tak terjangkau jaringan listrik PLN. Tak mudah melistriki wilayah tersebut selain dengan mengoptimalkan sumber daya yang ada, khususnya sumber energi terbarukan. Potensi yang melimpah mulai dari jenis tenaga surya, bayu, hidro, hingga biomassa, dapat memenuhi kebutuhan listrik warga apabila dikelola dengan tepat.

“Kita manfaatkan sumber daya yang ada. Masak Indonesia sudah merdeka 75 tahun masih ada warga yang gelap gulita,” kata Musdah. (RAZ/ICH/ZAK)

Musdah
Lahir: Lombok Barat, 31 Desember 1968
Pendidikan: SMA

Saimun
Lahir: Lombok Barat, 1 Juli 1967
Pendidikan: STM

Oleh ARIS PRASETYO

Editor: BUDI SUWARNA

Sumber: Kompas, 15 Maret 2021

Share
%d blogger menyukai ini: