Modernisasi Alat di BMKG

- Editor

Senin, 19 Januari 2015

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Akurasi Prakiraan Jadi Salah Satu Sasaran
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika memodernisasi peralatan pengamatan, salah satunya memasang alat pemantau cuaca otomatis untuk otomatisasi pengamatan cuaca. Saat ini, BMKG menempatkan alat itu di 233 lokasi. Otomatisasi diharapkan berjalan penuh pada 2019.


Melalui otomatisasi peralatan, petugas BMKG nanti lebih fokus pada analisis dibandingkan pengamatan. ”Amanat Badan Meteorologi Dunia, kami otomatisasi 2017, tapi butuh waktu transisi sehingga target pesimistis sekitar 2019,” kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya saat dihubungi di Jakarta, Minggu (18/1).

Di stasiun pengamatan yang dilengkapi alat pemantau otomatis (AWG) dilakukan pengamatan ganda: manual oleh petugas dan otomatis oleh AWS hingga 3-4 tahun mendatang. BMKG masih harus memastikan ketelitian pengukuran dari AWS.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Peralatan AWS dilengkapi sensor untuk mengetahui informasi radiasi, suhu, tekanan udara, arah dan kecepatan angin, serta kelembaban. Saat ini, para petugas harus mengamati manual dan melapor setiap dua jam. Jika otomatisasi berjalan penuh, kerja petugas akan lebih efektif dan tinggal berkonsentrasi pada analisis data sensor.

Andi menjelaskan, AWS di 233 titik juga didorong percepatan otomatisasi lewat kerja sama dengan Pemerintah Perancis dalam periode 2012-2015. Salah satu komponen kerja sama menambah AWS di 66 lokasi di 25 provinsi. Sebanyak 33 lokasi di stasiun BMKG, 33 lokasi lain di lahan dinas pertanian, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, atau universitas.
Belum memada

Perubahan CuacaMeskipun berada di 233 lokasi, jumlah AWS masih belum memadai untuk pengamatan cuaca di Indonesia. ”Satu AWS beradius 25 kilometer. Bayangkan, 233 AWS untuk memantau Indonesia dengan panjang garis pantai sekitar 100.000 kilometer dan luas wilayah hampir enam juta kilometer persegi,” tutur Andi.

Sebagai gambaran, Perancis memiliki sekitar 4.000 AWS.

Di sisi lain, kata Andi, karena berada di khatulistiwa dan beriklim tropis, cuaca di Indonesia lebih kompleks daripada negara-negara di area subtropis. Cuaca Indonesia bisa terpengaruh fenomena El Nino, La Nina, dan ekor badai-badai tropis di utara ataupun selatan khatulistiwa. Pengaruh-pengaruh itu dapat berujung bencana alam seperti banjir dan tanah longsor.

Berbagai tantangan itu tak boleh menghambat penyempurnaan pemantauan cuaca di Indonesia. BMKG setidaknya dapat membantu masyarakat meskipun ketelitian prediksi cuaca BMKG saat ini masih 70 persen.

Di tengah keterbatasan, kemajuan BMKG, terutama setelah bekerja sama dengan Perancis, tergolong signifikan. BMKG menyumbang pemodelan guna menemukan badan utama pesawat AirAsia QZ 8501 yang jatuh di perairan Selat Karimata.

Kontribusi lain, BMKG bisa merilis prediksi cuaca hingga tujuh hari ke depan, sedangkan sebelumnya 2-3 hari saja. BMKG juga bisa menghitung prakiraan tinggi gelombang lebih akurat untuk laut dalam atau dangkal.

Secara keseluruhan, untuk kerja sama program 2012-2015, Pemerintah Perancis memberi pinjaman lunak 30,3 juta euro (setara Rp 443,4 miliar). Jangka waktu pengembalian 19 tahun.

Meninjau kemajuan kerja sama, Jumat (16/1), Menteri Keuangan Perancis Michel Sapin didampingi Duta Besar Perancis untuk Indonesia dan Timor Leste Corinne Breuzé mengunjungi BMKG. Keduanya melihat aktivitas di Pusat Prakiraan Cuaca Nasional dan Pusat Informasi Gempa Bumi dan Tsunami.

A Fachri Radjab, Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik BMKG, menuturkan, kerja sama itu mencakup 23 kegiatan yang terbagi dalam tiga kelompok, yakni peralatan observasi; peralatan dan sistem analisis, prakiraan; serta produksi dan diseminasi informasi, serta pemenuhan kewajiban internasional.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG Widada Sulistya menambahkan, pembangunan sumber daya manusia juga dilakukan. Sebanyak 180 staf BMKG, baik dari kantor pusat maupun daerah, mendapat pelatihan di Perancis. Empat pegawai menempuh pendidikan magister meteorologi di negara itu. (JOG)

Sumber: Kompas, 18 Januari 2015

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Memilih Masa Depan: Informatika, Elektro, atau Mesin?
Menulis Ulang Kode Kehidupan: Mengapa Biologi Adalah “The New Coding” di Masa Depan
Takhta Debu dan Ruh: Menelusuri Jejak Adam di Antara Belantara Evolusi
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Kamis, 19 Maret 2026 - 14:30 WIB

Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara

Kamis, 19 Maret 2026 - 13:44 WIB

Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi

Senin, 9 Maret 2026 - 10:34 WIB

Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia

Berita Terbaru