Home / Berita / Mobil Listrik, Esemka dan Jokowi

Mobil Listrik, Esemka dan Jokowi

Mobil listrik mencuat kembali. Inovasi teknologi otomotif ini tak hanya bertujuan mengurangi penggunaan bahan bakar yang berasal dari fosil, tetapi juga pengurangan emisi gas buang. Tetapi, apakah mobil listrik sudah menjadi kebutuhan di Indonesia?

Akhir-akhir ini isu mobil listrik kembali mencuat setelah Kejaksaan Agung gencar menelisik cikal bakal proyek mobil listrik. Sebanyak 16 unit mobil listrik senilai total Rp 32 miliar yang diduga merugikan keuangan negara ditelusuri penyalahgunaan anggarannya, termasuk ditelisik pula keberadaannya. Tak hanya di bengkel produksinya, sebagian mobil listrik yang mangkrak di sejumlah perguruan tinggi ikut disita.

Terlepas dari perdebatan hukum kasus mobil listrik, teknologi mobil berbahan bakar listrik tetaplah menarik. Kalaupun diproduksi secara massal, berbagai kendala operasional, fungsi, dan kebiasaan perawatan kiranya masih menarik untuk diriset secara detail. Aspek permintaan pasar pun tak bisa diabaikan.

Inovasi teknologi perkembangan otomotif semakin ditunjukkan dengan mengarah pada teknologi yang ramah lingkungan. Setiap tahun, masyarakat Indonesia, khususnya mereka yang tinggal di Jakarta dan sekitarnya, dipertontonkan ajang pameran mobil, seperti Indonesia International Motor Show (IIMS).

Sebuah perubahan besar sedang ditampilkan. Tema-tema yang selama ini ditonjolkan, yaitu “Sustainable Green Technology” (2011), “Eco-Mobility” (2012), “Smart Vehicle Mobility” (2013), dan tahun 2014 disempurnakan menjadi “Safe and Smart Mobility”. Kali ini, IIMS 2015 justru mengangkat tema “The Essense of Motor Show”.

Kini, apakah teknologi otomotif berbahan bakar listrik sudah menjadi kebutuhan bagi Indonesia? Di tengah kondisi kemacetan lalu lintas di kota-kota besar, yang relatif sudah sangat parah kalangan kapitalisnya atau orang-orang berduitnya, sudah mampukah kehadiran mobil listrik memenuhi keinginan pasar dan terlebih lagi menghadirkan kenyamanan konsumennya?

Bicara mobil listrik, sedikit mengingatkan kita pada perjalanan pengembangan otomotif yang dilakukan anak-anak bangsa ini. Tiga tahun lalu, tepatnya 16 Agustus 2012, merupakan tonggak keberhasilan Esemka, setelah melalui proses perbaikan, akhirnya berhasil melampaui nilai ambang batas Euro 2 dengan hasil karbon dioksida (CO) sebesar 1.544 gram per kilometer dan NOx+HC sebesar 0,598 gram per kilometer.

Esemka adalah produk mobil hasil rakitan siswa-siswa sekolah menengah kejuruan bekerja sama dengan institusi serta industri dalam negeri dan beberapa perusahaan lokal dan nasional.

Catatan Wikipedia Indonesia itu setidaknya mengingatkan mobil Esemka dengan nama Joko Widodo saat menjabat Wali Kota Solo, Jawa Tengah.


a6f35f29af5246e0802bcdd29e1ffc44RHAMA PURNA JATI–Menteri Riset, Teknologi, dan Perguruan Tinggi Muhammad Nasir meresmikan tur mobil listrik tenaga surya ke Jawa dan Bali, di Jakarta Senin (17/8). Persiapan ini dilakukan jelang World Solar Challenge 2015 di Australia, Oktober 2015.

Terlepas dari sekadar pencitraan, semangat nasionalisme itu berhasil ditumbuhkan di kalangan generasi muda. Dari semangat “kamu bisa”, dalam sekejap didorong pula spirit “kamu yang terdepan”.

Terbukti, kehadiran mobil Esemka berbahan bakar bensin memacu terobosan pembuatan mobil listrik. Terciptalah mobil bermerek Tucuxi yang dipesan Dahlan Iskan (saat menjabat Menteri BUMN).

078436600_1435128446-mobil-3Desain Tucuxi yang mirip Lexus 2054 dan Bugatti Veyron tak bertahan lama akibat kecelakaan saat uji coba melintas di daerah Plaosan, Magetan, Jawa Timur. Sayangnya, kecelakaan tunggal saat uji coba menyebabkan mobil ini menjadi pelajaran berharga yang ditampilkan di Museum Angkut, Batu, Jawa Timur.

Kepala Divisi Teknik PT Toyota Astra Motor Dadi Hendriadi mengatakan, teknologi energi listrik merupakan salah satu cabang riset otomotif untuk mencapai teknologi ramah lingkungan. Inilah yang disebut eco car yang kelak diharapkan mengarah pada bahan bakar listrik.

Alternatif fuel cell terus dikembangkan industri otomotif di seluruh dunia. Toyota mengembangkan dari hidrogen. Dari sisi emisi, teknologi ini jelas ramah lingkungan karena emisi berbentuk uap air.

Dari sisi sumber energi, fuel cell menggunakan energi yang mudah diperoleh. Hidrogen bisa juga diperoleh dari air. Tinggal diproses elektrolisa untuk bisa menghasilkan energi yang bisa digunakan oleh motor penggerak otomotif.

Tahun 2014, Toyota mengeluarkan fuel cell untuk produksi massal bagi merek Mirai yang sudah dipasarkan di Jepang, Amerika, dan Eropa. Tentu, ini pun memerlukan kerja sama dengan perguruan tinggi dan pemerintah agar pengadaan bahan bakar terjamin ketersediaannya. “Perlu komitmen bersama. Begitu juga kalau Indonesia mau kembangkan otomotif berbahan bakar listrik,” ujar Dadi.

Inovasi teknologi otomotif tidak serta-merta menggantikan fungsi gasolin ke bahan bakar lain. Adapun pengembangannya dilakukan dengan inovasi-inovasi teknologi permesinan sehingga efisiensi dan cita-cita mengurangi emisi dapat diperoleh, tanpa harus mengurangi kenyamanan bagi pengguna otomotif.

“Disadari, ini tidak bisa digantikan penggunaan bensin secara cepat dalam jangka waktu 10 tahun,” ujar Dadi.

Pradipto Sugondo, Kepala Eksekutif Riset dan Pengembangan PT Astra Daihatsu Motor, di sela-sela peluncuran Grand New Xenia di Jakarta, beberapa hari lalu, mengatakan, mobil listrik sebetulnya memerlukan persiapan cukup banyak, terutama penyediaan infrastruktur. Cita-cita memproduksi mobil listrik adalah terkait sebuah sistem sangat besar.

Lalu, apakah konversi bahan bakar dari fosil menuju energi listrik sebetulnya sudah tercapai nilai kompetitifnya? ?

Pradipto menuturkan, ada produk otomotif Jepang yang klaimnya bisa menjangkau jarak tempuh 200-300 kilometer. Tetapi, begitu dipakai dengan beban penumpang banyak, lalu dioperasikan di tanjakan dan turunan, ternyata durasi kekuatan energi listriknya tinggal sepertiganya.

“Jadi, masih banyak hal yang mesti digarap untuk menuju teknologi berbahan bakar listrik. Sampai saat ini, bahan bakar yang berasal dari fosil masih bisa terus ditingkatkan efisiensinya,” jelas Pradipto.

Itulah tampaknya paling realistis bagi negara kita yang sedang berkembang dan teknologinya masih kelas menengah.

STEFANUS OSA

Sumber: Kompas Siang | 18 Agustus 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

”Big Data” untuk Mitigasi Pandemi di Masa Depan

Kebijakan kesehatan berbasis “big data” menjadi masa depan pencegahan pandemi berikutnya. Melalui ”big data” juga, ...

%d blogger menyukai ini: