Home / Berita / Minuman Berpemanis Dongkrak Risiko Kanker Usus Dua Kali Lipat

Minuman Berpemanis Dongkrak Risiko Kanker Usus Dua Kali Lipat

Konsumsi minuman berpemanis berlebihan tidak cuma meningkatkan risiko diabetes melitus tipe 2, tetapi juga risiko kanker usus besar lebih dini.

Konsumsi dua gelas atau lebih minuman berpemanis setiap hari di masa dewasa menggandakan risiko kanker usus sebelum usia 50 tahun. Hasil temuan terbaru ini menambah panjang risiko minuman berpemanis bagi kesehatan, termasuk di antaranya diabetes melitus yang terus meningkat prevalensinya di Indonesia.

Penelitian tersebut dipublikasikan di jurnal British Medical Journal yang dirilis pada Jumat (7/5/2021). Jinhee Hur dari Department of Nutrition, Harvard T.H. Chan School of Public Health menjadi penulis pertama kajian ini.

Kasus kanker usus atau kolorektal yang didiagnosis pertama kali sebelum usia 50 tahun (onset dini) telah meningkat pesat dalam dua dekade terakhir. Di Amerika Serikat (AS), orang dewasa yang lahir sekitar tahun 1990 memiliki risiko dua kali lipat terkena kanker usus besar dan empat kali lipat risiko kanker anus (rektum) dibandingkan orang dewasa yang lahir sekitar tahun 1950.

Disebutkan Hur dan timnya, minuman yang dimaniskan dengan gula, seperti minuman ringan (soft drink), minuman berperisa buah, minuman energi, merupakan sumber utama (39 persen) tambahan gula dalam makanan di AS. Sekitar 12 persen populasi AS minum lebih dari tiga porsi ragam minuman ini setiap hari.

Sejumlah kajian sebelumnya menemukan bahwa konsumsi minuman berpemanis berlebihan telah dikaitkan dengan peningkatan risiko obesitas dan diabetes tipe 2. Namun, sejauh ini belum ada kajian yang melihat keterkaitan asupan ini dengan peningkatan risiko kanker usus di usia paruh baya.

Untuk mengeksplorasi hal ini lebih jauh, para peneliti menganalisis informasi yang diberikan oleh 95.464 partisipan dalam Nurses’ Health Study II, sebuah studi pemantauan yang sedang berlangsung terhadap 116.429 perempuan perawat AS berusia antara 25 dan 42 saat pendaftaran tahun 1989.

Para perempuan perawat ini melaporkan apa yang mereka makan dan minum menggunakan kuesioner frekuensi makanan yang divalidasi setiap empat tahun, mulai tahun 1991. Sebanyak 41.272 orang di antaranya melaporkan tentang apa, dan berapa banyak, yang mereka minum selama masa remaja (13-18) pada tahun 1998.

Informasi tentang faktor-faktor yang berpotensi berpengaruh, termasuk riwayat kanker usus di keluarga, gaya hidup, penggunaan rutin aspirin atau obat anti-inflamasi nonsteroid, dan suplemen vitamin juga diberikan. Pada tahun 1989, partisipan juga diminta untuk mengingat status kesehatan, berat badan (BMI), dan gaya hidup mereka di masa remajanya.

Selama 24 tahun pemantauan, 109 wanita mengalami kanker usus sebelum usia 50 tahun. Ditemukan bahwa asupan minuman yang dimaniskan dengan gula berlebihan di masa dewasa berkaitan dengan risiko penyakit yang lebih tinggi setelah memperhitungkan faktor risiko lain yang berpotensi memengaruhi.

Dibandingkan dengan mereka yang mengonsumsi minuman berpemanis kurang dari satu porsi seminggu, perempuan yang minum dua porsi atau lebih minuman berpemanis setiap hari dua kali lebih mungkin terdiagnosis kanker usus. Setiap porsi harian minuman itu dikaitkan dengan peningkatan risiko 16 persen lebih tinggi.

Di antara 41.272 yang melaporkan pola konsumsi remaja mereka, setiap porsi harian makanan yang mereka konsumsi berkaitan dengan risiko 32 persen lebih tinggi kanker ini mulai berkembang sebelum usia 50 tahun.

Kajian juga menemukan, mengganti minuman yang dimaniskan dengan gula dengan minuman yang dimaniskan secara artifisial, kopi, atau susu semi-skim atau susu murni dikaitkan dengan risiko 17 persen hingga 36 persen lebih rendah untuk didiagnosis kanker usus sebelum usia 50 tahun.

Hur menyebutkan, studi ini bersifat observasional sehingga tidak dapat menetapkan penyebab, tetapi hanya bisa membuktikan korelasi. Namun, para peneliti menunjukkan bahwa ada beberapa penjelasan logis secara biologis untuk temuan mereka, yaitu minuman yang dimaniskan dengan gula menekan perasaan kenyang sehingga mempertaruhkan asupan energi berlebih dan penambahan berat badan terkait.

Minuman manis juga mendorong peningkatan glukosa darah dan sekresi insulin, yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan resistensi insulin, peradangan, obesitas, dan diabetes tipe 2. Bukti yang muncul juga menunjukkan bahwa fruktosa dapat merusak fungsi penghalang usus dan meningkatkan permeabilitas usus yang dapat mendorong perkembangan kanker.

”Konsumsi minuman yang dimaniskan dengan gula dapat berkontribusi pada peningkatan insiden kanker usus dini,” tulis Hur. Sebaliknya, ”Mengurangi asupan atau menggantinya dengan minuman sehat lainnya sejak remaja dan dewasa muda dapat berfungsi sebagai strategi potensial untuk meringankan beban pertumbuhan kanker usus sebelum usia 50 tahun.”

Situasi di Indonesia
Tahun lalu, Kementerian Keuangan mengusulkan pengenaan cukai untuk minuman berpemanis sebagai upaya pengendalian penyakit diabetes dan menambah pemasukan negara. Usulan itu disampaikan Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada 19 Februari 2020.

Alasan Mulyani waktu itu, prevelensi diabetes melitus dan obesitas di Indonesia meningkat hampir dua kali lipat dalam kurun waktu 11 tahun terakhir. Data di Kementerian Kesehatan menyebut jumlah penderita diabetes di Indonesia saat ini mencapai 10,9 juta orang.

Obyek cukai minuman berpemanis yang diusulkan Mulyani adalah minuman yang mengandung pemanis baik gula maupun pemanis buatan yang siap untuk dikonsumsi, dan minuman yang konsentratnya dikemas dalam bentuk penjualan eceran dan konsumsinya masih memerlukan proses pengenceran.

Jika usulan ini diterima, menurut perhitungan Kementerian Keuangan, potensi penambahan penerimaan negara yang akan diperoleh mencapai Rp 6,25 triliun. Di sisi lain, kebijakan ini juga bisa menurunkan dampak buruk dari minuman berpemanis yang berisiko meningkatkan diabetes. Tiap tahun Badan Penyelenggara Jaminan (BPJS) Kesehatan yang mengelola program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS) harus mengeluarkan Rp 2 triliun lebih untuk membayar biaya layanan diabetes dan tren pembiayaan ini terus meningkat.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 7 Mei 2021

Share
%d blogger menyukai ini: