Pajak Turunkan Konsumsi Gula

- Editor

Kamis, 27 Juni 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tingginya kadar gula pada minuman ringan yang manis menjadi salah satu faktor penyebab obesitas. Beberapa negara menerapkan kebijakan fiskal untuk menurunkan konsumsi gula penduduknya. Penelitian menunjukkan, pengenaan pajak 10 persen pada minuman manis menurunkan konsumsi minuman manis 10 persen juga.

Tingginya kadar gula pada minuman ringan yang manis menjadi salah satu faktor penyebab obesitas. Beberapa negara menerapkan kebijakan fiskal untuk menurunkan konsumsi gula penduduknya. Penelitian menunjukkan, pengenaan pajak 10 persen pada minuman manis menurunkan konsumsi minuman manis 10 persen juga.

KOMPAS/STEFANUS ATO–Pedagang minuman di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara, melayani pembeli, Jumat (21/6/2019). Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan pemerintah memberlakukan pajak 20 persen untuk minuman manis.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penelitian berjudul ”Dampak Pajak Minuman dengan Pemanis Gula pada Pembelian dan Asupan Makanan: Ulasan Sistematis dan Meta-Analisis” itu dimuat dalam jurnal Obesity Reviews yang juga dipublikasikan Science Daily 25 Juni 2019. Penelitian dilakukan tim Universitas Otago, Wellington, Selandia Baru.

Studi itu mencakup empat kota di Amerika Serikat, yaitu Cleveland, Ohio; Portland, Maine; Berkeley, California; dan Philadelphia, Pennsylvania. Pajak daerah dipelajari di Catalonia, Spanyol. Dampak pajak di seluruh negara dipelajari di Chile, Perancis, dan Meksiko.

Para peneliti menggabungkan bukti dari pengaturan pajak minuman manis yang telah diterapkan di negara-negara dan mengevaluasinya dengan metode meta-analisis.

Peneliti Universitas Otago, Andrea Teng, mengatakan, penelitian ini menggunakan pendekatan baru dalam menggabungkan beberapa studi yang meneliti dampak pajak minuman bergula di dunia nyata terhadap penjualan, pembelian, dan asupan makanan sebelum dan sesudah pajak diberlakukan atau antara pengaturan pajak dan tidak pajak.

Tinjauan baru ini menyajikan bukti kuat bahwa pajak minuman manis menghasilkan penurunan penjualan, pembelian atau asupan makanan dari minuman pajak. Untuk pajak 10 persen, volume minuman manis menurun rata-rata 10 persen.

”Ini menunjukkan pajak minuman manis adalah alat yang efektif untuk mengurangi konsumsi gula. Kita tahu dari penelitian lain bahwa konsumsi tinggi minuman manis meningkatkan risiko obesitas, diabetes, dan karies gigi. Ada bukti juga bahwa konsumsi minuman manis dapat menyebabkan penyakit jantung, kanker, dan kematian dini,” papar Teng.

Beberapa penelitian menunjukkan minuman alternatif yang dikonsumsi orang daripada minuman manis setelah pajak diterapkan. Dengan pajak 10 persen untuk minuman manis, ada kenaikan konsumsi rata-rata 1,9 persen dalam minuman alternatif dan untuk air khususnya ada kenaikan konsumsi 2,9 persen.

Amanda Jones, peneliti lain dari Universitas Otago, mengatakan, menerapkan pajak dengan ambang batas kadar gula, bukan sebagai persentase dari harga, tampaknya penting untuk menentukan dampak yang lebih menguntungkan.

AFP–Warga New Delhi, India, minum air, 25 Mei 2015. Pengenaan pajak minuman manis menaikkan konsumsi air sebagai pengganti minuman manis.

Sebagai contoh, Chile menurunkan pajak atas minuman rendah gula, tetapi pada saat yang sama meningkatkan pajak atas minuman tinggi gula. Meksiko mengenakan pajak minuman manis yang dikombinasikan dengan pajak makanan cepat saji. Perancis mengenakan pajak minuman ringan dengan pemanis buatan.

”Pajak dapat memberi sinyal kepada publik tentang keseriusan masalah kesehatan yang terkait dengan mengonsumsi suatu produk. Pajak juga dapat mendorong produsen memformulasikan kembali penurunan kadar gula, seperti yang terlihat di Inggris, bahkan sebelum pajak mereka diterapkan pada April 2018,” kata Jones.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan merekomendasikan pemerintah memberlakukan pajak lebih tinggi, yaitu 20 persen, untuk minuman manis.

Oleh SUBUR TJAHJONO

Sumber: Kompas, 26 Juni 2019

Informasi terkait

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Berita ini 21 kali dibaca

Informasi terkait

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Berita Terbaru

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB