Home / Berita / Menulis: antara Malu dan Percaya Diri

Menulis: antara Malu dan Percaya Diri

MENULIS bukan hanya merangkai kata-kata, melainkan juga menjadi wadah menuangkan isi hati, perasaan, pikiran, kegembiraan, kepandaian, pengetahuan, ilmu, pendapat, dan khayalan. Kegiatan ini dapat dilakukan di mana saja, mulai di buku harian, blog, hingga media massa.

Bagi mahasiswa, menulis menjadi bagian dari kehidupan di kampus. Mereka mendapatkan tugas membuat paper, makalah, atau karya tulis sebagai bagian dari mata kuliah yang mereka ambil.

Meski demikian, banyak juga yang merasa terbebani dengan kewajiban menulis. Banyak di antaranya mencari jalan pintas dengan mengunduh tulisan orang lain dan meramunya seolah-olah karya tulis mereka sendiri. Sementara bagi yang suka menulis, mereka senang menyampaikan apa yang mereka lihat, pelajari, dan dengar melalui tulisan.

Berbagai hal mereka tulis. Ada yang hanya menulis sesuai bidang studi mereka sendiri, tetapi ada pula yang menulis selera pribadi atau sekadar tren. Sebagian hanya menulis untuk konsumsi terbatas atau bahkan tidak untuk dibagikan ke orang lain. Namun, ada pula yang dengan senang hati memublikasikan karya-karya mereka.

Menulis di Media Massa dan BlogKemajuan teknologi memungkinkan mereka menulis di mana saja dan kapan saja. Mereka boleh memiliki banyak blog yang bisa diisi beragam genre tulisan seperti kuliner, wisata, fashion, perjalanan, cerita fiksi, catatan harian, gadget, acara televisi, aneka kiat, resep masakan, musik, seni, puisi, fotografi, pelajaran sekolah, politik, ataupun agama. Ada yang menulis demi kepuasan pribadi, ada pula yang bertujuan komersial.

Hingga kini masih banyak yang beranggapan, menulis di blog atau internet sangat bebas. Banyak yang belum memahami materi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang antara lain memuat aturan pengakuan informasi/dokumen elektronik sebagai alat bukti hukum yang sah.

”Sejak dua tahun lalu, saya rutin menulis di blog, tetapi tidak untuk konsumsi publik. Blog ini lebih untuk mencurahkan isi hati dan perasaan tiap kali saya merasa galau dan tak bisa membicarakannya dengan orang lain,” kata Sella Serlianita, mahasiswa semester III Jurusan Broadcasting Bina Sarana Informatika Jatiwaringin, Bekasi.

Menurut dia, tidak banyak temannya yang tahu soal blognya. Selain itu, dia juga enggan berbagi soal kegalauannya. ”Anak muda, kan, sering galau, ada saja yang membuatnya galau, he-he-he,” katanya. Di luar blog, dia sering menulis untuk tugas kuliah seperti membuat skenario film berdurasi lima menit.
Lebih menantang

Bagi sebagian mahasiswa, menulis dan mengirim tulisan ke berbagai media massa merupakan tantangan tersendiri. Mereka bukan hanya harus pandai menulis, melainkan juga rajin membaca. Tanpa membaca, kesulitan menulis bakal lebih besar karena stok informasi di otak terbatas.

”Saya jarang membaca sehingga saya pun tak berminat menulis. Namun, saya tahu harus bisa menulis karena kelak harus menyusun skripsi,” kata Syarief Wartabone, mahasiswa semester I Jurusan Manajemen Perhotelan Universitas Sahid Jakarta. Bagi dia, menulis baru terbatas menyelesaikan tugas kuliah.

Penulis yang belum mempunyai nama sering kali mengalami penolakan. Naskah tulisan mereka berkali-kali dikembalikan. Menghadapi situasi tersebut, ada yang menganggapnya ujian sekaligus tantangan untuk menghasilkan karya lebih baik. Akan tetapi, ada juga yang putus asa dan menyerah.

Mereka yang tulisannya berhasil dimuat sangat bangga dan gembira karya mereka dibaca orang banyak. Hal itu justru menantang mereka untuk bisa menghasilkan tulisan yang lebih baik dari tulisan sebelumnya.

Imbalan atau honor atau suvenir memang menjadi salah satu daya tarik bagi mereka. Karya yang dimuat sekaligus mengukuhkan ide tulisan mereka menarik dan mampu bersaing dengan banyak tulisan lain lebih bernilai bagi mereka.
Masih malu

Ketika banyak mahasiswa berusaha menghasilkan karya tulis dan percaya diri menampilkan tulisan mereka di blog atau mengirim tulisan ke media massa, sebagian mahasiswa lain justru malu untuk menuliskan apa pun.

Seperti Vida Ervina, Henni Ramzy, Sary Marnida, dan Andhika Masrur, yang semuanya mahasiswa semester I Jurusan Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Jakarta (UNJ). ”Belum pede,” kata mereka.

Mely Isabella, juga mahasiswa semester I Jurusan Hubungan Masyarakat Fakultas Ilmu Sosial UNJ senang dengan tulisan tentang tata rias. ”Untuk menulis masih malu karena belum pandai soal make-up,” ujarnya.

Lain halnya dengan Maulita Nabila, mahasiswa dari jurusan yang sama, kala masih SMP dan SMA, dia senang menulis cerita pendek. Hobi itu terhenti sejak dia aktif di internet. ”Lebih sibuk di jejaring sosial ketimbang menulis,” katanya.

Yodi Arifin Nur Canda, mahasiswa semester I Jurusan Manajemen Perhotelan Akademi Pariwisata Tridaya Jakarta Timur mengatakan pernah membuat naskah drama komedi semasa studi di SMK Jayawisata 2 Jakarta. Drama itu sukses memancing tawa penonton. Namun, dia tak ingin menulis naskah lagi. ”Prosesnya lama, berbulan-bulan. Dua kali saya menulis naskah komedi dan kini saya sulit meluangkan waktu buat menulis,” kata Yodi.

Dimuat di mana pun, menulis adalah kesenangan pribadi seperti hobi lainnya. Selamat menulis! (TIA)

Sumber: Kompas, 24 Desember 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: