Home / Berita / Menilik Liana dari Cibodas

Menilik Liana dari Cibodas

Semilir angin yang terasa sejuk dan gemercik suara air membuat suasana di Taman Liana di Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, Kamis (11/4) siang, itu terasa menenangkan. Meski tanaman di taman itu belum tumbuh optimal karena baru beberapa jam lalu diresmikan, sudah banyak warga yang mengunjunginya.

Sejumlah warga duduk di bangku di bawah pergola yang masih berupa para-para yang belum ditumbuhi dedaunan. Ada pula yang mengitari kolam kecil, juga mengamati aneka jenis liana yang sebagian besar masih berupa tanaman muda.

Taman Liana adalah taman koleksi ke-11 milik Kebun Raya Cibodas (KRC). Taman seluas 1.200 meter persegi itu menampung 126 spesimen atau sebagian dari koleksi liana KRC, terutama yang berasal dari dataran tinggi Sumatera, Jawa, dan Sulawesi. “Sejumlah kebun raya lain juga mengoleksi liana, namun KRC fokus pada liana khas dataran tinggi,” kata Kepala Balai Konservasi Tumbuhan (BKT) KRC Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Agus Suhatman.

Lokasi kebun raya di timur kaki Gunung Gede dan Gunung Pangrango pada ketinggian 1.300-1.425 meter di atas permukaan laut menjadikan KRC cocok untuk pertumbuhan tanaman dataran tinggi. Suhu rata-ratanya yang sekitar 19-21 derajat celsius membuat KRC dijadikan zona aklimatisasi banyak tanaman manca sebelum dibudidayakan di Indonesia.

Penanda kondisi hutan
Liana adalah tumbuhan merambat atau memanjat. Pertumbuhannya yang merambat ke mana-mana membuat tanaman ini sering dianggap gulma. Perambatan itu pula yang membuat panjang liana bisa mencapai lebih dari 100 meter.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO–Aneka tumbuhan rambat di Taman Liana Kebun Raya Cibodas, Cianjur, Jawa Barat, Selasa (11/4).

Meski merambat, liana bukanlah parasit yang menggantungkan hidup pada inangnya. Liana tetap butuh tanah untuk menghunjamkan akarnya sekaligus menjadi sumber hara bagi pertumbuhannya.

Liana hanya butuh pohon atau obyek lain untuk dirambati sehingga tetap bisa mendapat sinar matahari. Namun, rambatan liana itu bisa melemahkan pohon penyangganya karena kalah bersaing memperebutkan cahaya matahari.

Perambatan liana bisa terjadi hingga ke beberapa pohon. Kondisi itu menjadikan liana sebagai jembatan bagi hewan arboreal (hidup di pohon) sehingga mudah berpindah-pindah, seperti siamang, owa, tupai, bahkan ular. Liana pula yang digelantungi si manusia hutan Tarzan untuk bergerak dari satu pohon ke pohon yang lain.

Stefan A Schnitzer dan Frans Bongers dalam The Ecology of Lianas and Their Role in Forests di Trends in Ecology and Evolution, Mei 2002, menyebut liana berperan penting dalam regenerasi hutan, memacu kompetisi di hutan, baik antara liana dan pohon penyangganya maupun di antara sesama pohon penyangga.

Liana juga mendorong keragaman spesies dan proses di tingkat ekosistem hutan, seperti proses transpirasi di hutan yang akan menjadikan tumbuhan memiliki kandungan air yang cukup, penyerapan karbon dioksida untuk menahan laju pemanasan global, serta pasokan oksigen yang lebih melimpah.

“Lebatnya pertumbuhan liana juga bisa dijadikan penanda baik buruknya kualitas hutan. Tanpa adanya tegakan pohon di hutan, liana tak mungkin tumbuh,” tambah Agus.

Manfaat
Sebagian masyarakat cukup mengenal liana meski umumnya lebih mengenal dengan sebutan tanaman merambat saja. Tanaman ini banyak digunakan untuk hiasan pergola, penutup dinding atau pagar, tanaman pot gantung, atau fungsi-fungsi tanaman hias lain. Untaian daun, bunga, hingga buah liana memang sering menghasilkan rangkaian tanaman yang sedap di mata.

Sejumlah liana yang banyak dijadikan tanaman hias antara lain bunga alamanda (Allamanda cathartica), bugenvil (Bougainvillea spectabilis), sirih merah (Piper ornatum), melati belanda (Combretum indicum), pohon dollar (Zamioculcas zamiifolia), air mata pengantin (Antigonon leptopus), dan morning glory (Ipomea).

Selain fungsi hias, tanaman liana juga memiliki nilai ekonomis, seperti aneka jenis rotan, labu-labuan, anggur, hingga sirih. Sementara manfaat herbal atau fitofarmaka liana belum banyak digali.

“Kegunaan liana yang sudah banyak dimanfaatkan baru berupa tanaman hias. Namun, potensinya sebagai sumber tanaman obat dan energi terbuka lebar,” kata Deputi Bidang Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI Enny Sudarmonowati.

Masyarakat di beberapa daerah sudah memanfaatkan liana sebagai bahan obat tradisional. Salah satu yang dikenal di Jawa Barat adalah hunyur buut atau ki lembur alias Kadsura scandens. Tumbuhan yang bisa ditemui di kawasan Gunung Geulis, Gunung Gede, dan Gunung Pangrango itu digunakan sebagai obat setelah persalinan.

“Daunnya yang kecil membuat Kadsura scandens sulit dideteksi di alam liar, kecuali kalau dia sudah merambat di pohon lain,” ujar Agus.

Banyak potensinya belum diketahui, tetapi ancaman terhadap liana semakin nyata. Rusaknya hutan akibat perambahan hutan, alih fungsi, kebakaran hutan, hingga pemanasan global membuat habitat liana terus menyusut.

Selain belum banyak digali potensinya, menurut Kepala Seksi Eksplorasi dan Koleksi Tumbuhan BKT KRC LIPI Muhammad Imam Surya, tidak ada peneliti yang mengkhususkan risetnya pada liana. Kondisi itu sebenarnya juga terjadi di negara-negara lain karena fokus riset peneliti umumnya berdasar kelompok suku atau famili tumbuhannya, bukan habitusnya. (M ZAID WAHYUDI)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 29 Mei 2017, di halaman 14 dengan judul “Menilik Liana dari Cibodas”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Balas Budi Penerima Beasiswa

Sejumlah anak muda bergerak untuk kemajuan pendidikan negeri ini. Apa saja yang mereka lakukan? tulisan ...

%d blogger menyukai ini: