Revitalisasi Kebun Raya untuk Tingkatkan Edukasi

- Editor

Rabu, 11 Desember 2019

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Revitalisasi sejumlah taman dan fasilitas serta penambahan atraksi di kebun raya LIPI dilakukan untuk menarik minat dan meningkatkan edukasi ke masyarakat.

Mayoritas masyarakat yang mengunjungi kebun raya masih hanya mengedepankan aspek rekreasi. Padahal, kebun raya memiliki sejumlah fungsi, termasuk sisi edukasi. Oleh karena itu, revitalisasi sejumlah taman dan fasilitas dilakukan untuk menarik minat dan meningkatkan edukasi ke masyarakat.

Revitalisasi sejumlah taman dan fasilitas di kebun raya ini dilakukan oleh PT Mitra Natura Raya (MNR) yang merupakan mitra Pusat Penelitian Konservasi Tumbuhan dan Kebun Raya-Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2KTKR-LIPI). Kemitraan yang dimulai sejak 2020 itu bertujuan untuk memperkuat fungsi kebun raya sebagai tempat konservasi, penelitian, pendidikan, wisata, dan jasa lingkungan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Direktur Operasional PT MNR Aulia Mahariza menyampaikan, selama pandemi, kebun raya memiliki konsep responsible tourism. Artinya, wisata edukasi yang dilakukan memiliki tanggung jawab dalam menerapkan protokol kesehatan, seperti kewajiban menggunakan masker, menjaga jarak, dan senantiasa mencuci tangan.

”Selama pandemi, kebun raya melakukan revitalisasi taman obat seluas 1,4 hektar. Revitalisasi dilakukan terhadap berbagai fasilitas dan lanskap. Kami juga melakukan revitalisasi dua taman tematik, yakni Taman Meksiko dan Taman Akuatik,” ujarnya di Kebun Raya Bogor, Kamis (29/4/2021).

Aulia mengatakan, revitalisasi Taman Meksiko dan Taman Akuatik bertujuan untuk menyampaikan pesan konservasi dan edukasi kepada pengunjung Kebun Raya Bogor. Penyampaian pesan tersebut tetap dengan aspek untuk menjaga kelestarian dan mempertahankan tanaman yang sebelumnya telah menjadi koleksi di taman tersebut, termasuk beberapa spesies tanaman iklim kering, yakni kaktus (Cereus repandus) dan jarak bali (Jatropha podagrica).

Selain itu, dikembangkan juga kelas edukasi berkebun, tur virtual, dan memindai penanda informasi tumbuhan (plant tag) pada koleksi tanaman untuk mengetahui spesies maupun informasi yang lebih detail. Tur virtual dikembangkan karena keterbatasan kunjungan selama pandemi, terutama bagi pelajar. Sejak 2020 sampai saat ini, sudah ada 6.000 siswa yang mengikuti tur virtual.

Sementara pada Agustus mendatang, Kebun Raya Bogor juga akan menyediakan wisata malam bertajuk ”Glow” yang bernuansa digital. Tersedia juga acara Bazar Taman Hari Raya untuk meramaikan Idul Fitri 1442 Hijriah di Kebun Raya Bogor, Purwodadi, Cibodas, dan Bali.

Sebelumnya, Kepala P2KTKR LIPI Hendrian menyatakan pentingnya diseminasi terminologi atau istilah kebun raya dan taman bagi masyarakat. Sebab, kebun raya dan taman merupakan konsep yang berbeda. Kebun raya lebih mengedepankan fungsi riset dan konservasi meski dalam praktiknya terdapat aspek pariwisata. Sementara mayoritas taman dibuat untuk aktivitas rekreasi.

Terkait hal ini, Direktur Sales dan Marketing PT MNR Bayu Sumarijanto mengatakan, seluruh upaya revitalisasi taman dan fasilitas serta pengembangan atraksi ditujukan untuk menarik masyarakat mendatangi kebun raya. Setelah itu, barulah mereka dapat diperkenalkan dan diedukasi dengan konten yang menarik tentang biodiversitas Indonesia serta pentingnya konservasi untuk menjaganya.

”Inti bisnis kami adalah edukasi dan ini adalah pekerjaan yang diberikan LIPI kepada kami. Survei kami di awal menunjukkan bahwa hampir mayoritas pengunjung keluar dari kebun raya tanpa penambahan ilmu apa pun tentang tanaman. Inilah yang harus ditingkatkan sehingga lahirlah konsep revitalisasi dan digitalisasi informasi tanaman koleksi,” katanya.

Bayu menambahkan, melalui revitalisasi dan digitalisasi, diharapkan muncul perubahan pola komunikasi dari metode lama ke metode baru dan kekinian. ”Generasi milenial lebih suka memegang gawai sehingga visualisasi itu penting dan harus bisa disinergikan dengan edukasi,” ucapnya.

Oleh PRADIPTA PANDU

Editor: ICHWAN SUSANTO

Sumber: Kompas, 30 April 2021

Informasi terkait

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?
Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI
Ketika Alam Tak Lagi Pasti
Di Antara Peta dan Lapisan Bumi
Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia
Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Berita ini 36 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Berita Terbaru

Artikel

Di Ujung Prompt, Di Mana Kebenaran?

Jumat, 29 Mei 2026 - 17:49 WIB

Berita

Saat AI dan Al-Qur’an Bertemu di Masjid UI

Rabu, 27 Mei 2026 - 17:43 WIB

Artikel

Ketika Alam Tak Lagi Pasti

Rabu, 27 Mei 2026 - 13:16 WIB

Artikel

Di Antara Peta dan Lapisan Bumi

Minggu, 10 Mei 2026 - 10:19 WIB

Artikel

Ketika Ilmu Sosial Berusaha Memahami Manusia

Sabtu, 9 Mei 2026 - 17:01 WIB