Home / Berita / Menguji Keampuhan Avigan dan Klorokuin Melawan Covid-19

Menguji Keampuhan Avigan dan Klorokuin Melawan Covid-19

Sampai sekarang Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menyebut satu pun obat yang resmi dapat mengatasi Covid-19. Apakah Avigan dan khlorokuin benar-benar ampuh melawan penyakit itu?

KOMPAS/DAHLIA IRAWATI–Wali Kota Malang Sutiaji mencoba alat sikat korona (SIKO), Jumat (20/03/2020) yang dipasang di Balai Kota Malang.

Dalam penjelasan kepada masyarakat, Jumat (20/3/2020), Presiden Joko Widodo menyebut akan mendatangkan dua jenis obat untuk mengobati pasien Covid-19. Kedua obat itu adalah Avigan dan klorokuin.

Semua perusahaan farmasi kini berusaha menemukan dengan segera obat Covid-19. Upaya itu belum berhasil. Sampai sekarang, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menyebut satu pun obat yang resmi dapat mengatasi virus korona baru yang memicu Covid-19.

Apakah Avigan dan klorokuin benar-benar ampuh melawan virus Covid-19? Mengapa Avigan dan khlorokuin dianggap sebagai obat melawan Covid-19?

Hari Selasa (17/3/2020), kantor berita Jepang NHK mewartakan, Direktur Pusat Pengembangan Biologi Nasional China Zhang Xinmin menyebutkan bahwa favipiravir dengan nama dagang Avigan menunjukkan hasil yang menjanjikan dalam uji klinis terhadap 240 pasien di Wuhan dan 80 pasien di Shenzhen. Wuhan adalah kota di mana pertama kali Covid-19 muncul.

STR/AFP/CHINA OUT–Seorang pekerja medis (R) merangkul anggota tim bantuan medis dari provinsi Jiangsu pada upacara yang menandai keberangkatan mereka setelah membantu upaya pemulihan virus korona baru, di Wuhan, di Provinsi Hubei tengah Cina pada 19 Maret 2020.

Zhang menyebut, favipiravir bekerja baik mengatasi gejala yang berhubungan dengan virus korona, termasuk radang paru, dan tidak memiliki efek samping.

Pasien positif korana di Shenzhen menunjukkan virus negatif setelah empat hari pengobatan sementara yang tidak diberi faviparavir butuh waktu 11 hari untuk sembuh.

Hasil foto rontgen sinar-X menguatkan pembaikan kondisi paru pada 91 persen pasien yang mendapat pengobatan. Sedangkan yang tidak mendapat pengobatan, pembaikan hanya terjadi pada 62 persen pasien yang diuji klinis.

Hasil uji klinis menunjukkan, pengobatan aman dan tanpa efek samping serta direkomendasikan untuk menangani virus korona. Perusahaan Zhejiang Hisun Pharmaceutical di China mendapat lisensi dari perusahaan Jepang penemu Avigan, Toyama Chemical Co Ltd, dan mulai bulan lalu diizinkan memproduksi massal obat itu di China.

CHINATOPIX VIA AP–Warga Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China mengantre membeli makanan sambil menjaga jarak antrean, Rabu (18/3/2020). Dalam dua hari terakhir, China melaporkan tidak ada kasus baru Covid-19 dari Kota Wuhan.

Kantor berita Jepang, Kyodo, menyebut, Menteri Kesehatan Jepang Katsunobo Kato akhir bulan lalu mempertimbangkan menggunakan Avigan dalam pengobatan Covid-19 sejalan dengan bertambahnya kasus baru di Jepang.

Efek samping
Biasanya obat baru menjalani berbagai pengujian yang dapat memakan waktu 10 tahun sebelum mendapat izin untuk diberikan atau dijual kepada umum. Tetapi, penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 telah menjadi pandemi sehingga perlu langkah segera mengatasi. Obat yang masih dalam pengujian klinis dapat dipercepat penggunaannya dengan pengawasan ketat.

Hingga Sabtu (21/3/2020) petang, situs worldometers.info mencatat 283.748 orang terinfeksi di seluruh dunia dan di antaranya 11.392 orang meninggal dunia. Pada hari yang sama, di Indonesia, tercatat 450 orang terinfeksi dan 38 orang meninggal.

Avigan atau favipiravir, menurut Furata, Komeno, dan Nakamura dari departemen bisnis dan riset Toyama Chemical di situs National Center for Biotechnology Information, diciptakan sebagai obat mengatasi virus influensa.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Warga perumahan Cluster Puri Permata bergotong-royong melakukan penyemprotan disinfektan di lingkungan tempat tinggal di kawasan Larangan Selatan, Kota Tangerang, Banten, Sabtu (21/3/2020). Penyemprotan disinfektan secara mandiri ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus korona baru.

Favipiravir yang rumus kimianya adalah 6-fluoro-3-hidroksi-2-pirazinkarboksamid memiliki pendekatan baru dibandingkan dengan obat antivirus influensa yang sudah ada.

Menurut National Library of Medicine Amerika Serikat, favipiravir selektif menghambat polimerasi (enzim penting dalam replikasi dan reparasi gen) asam ribonukelat (RNA) virus, dan mencegah replikasi rangkaian gen virus.

Obat antivirus ini menarget RNA-dependent RNA-polymerase (RdRp) yang diperlukan untuk transkripsi (proses awal pembentukan kode genetika) dan replikasi genom virus. Favipiravir efektif untuk menghambat influensa tipe A dan B, serta flu burung.

Pemerintah Jepang pada tahun 2014 menyetujui favipiravir untuk influensa yang tidak mempan terhadap pengobatan konvensional. Dengan kemampuannya menarget beberapa galur virus influensa, favipiravir pernah dicoba untuk mengobati sejumlah kuman, seperti virus Ebola, virus Lassa, dan sekarang Covid-19.

KOMPAS/WAWAN H PRABOWO–Warga menyeberang jalan usai berbelanja kebutuhan di Pasar Ciputat, Tangerang Selatan, Banten, Sabtu (21/3/2020). Imbauan bagi masyarakat agar tetap di rumah untuk mencegah penularan virus korona atau Covid-19 sepertinya belum bisa sepenuhnya diterapkan.

Namun, favipiravir memiliki efek samping. Menurut Wall Street Journal (6/3/2020), Jepang tidak menggunakan Avigan untuk mengobati flu biasa karena penelitian pada kera, kelinci, dan tikus memperlihatkan jika perempuan hamil menggunakan Avigan, obat itu dapat menyebabkan janin mengalami cacat tubuh atau membunuh janin.

Obat lain
Obat lain yang disebut Jokowi akan digunakan mengobati Covid-19 di Indonesia adalah klorokuin. Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyebut akan menggunakan obat antimalaria ini untuk mengobati Covid-19 meskipun belum selesai melalui uji klinis di AS.

Lembaga pengawasan obat dan makanan AS, Food and Drug Administration, menyebut belum menyetujui klorokuin sebagai obat untuk Covid-19. Namun , FDA memasukkan klorokuin ke dalam daftar obat yang diuji.

Trump mengarahkan FDA untuk melakukan uji klinis skala besar untuk mengobati pasien dengan Covid-19. Penggunaan klorokuin juga sedang diuji coba di China, Inggris, dan Spanyol.

Pada percobaan laboratorium, obat antimalaria itu menunjukkan kemampuan menghalangi kerja virus korona. Seberapa efektif fungsi itu kepada pasien sesungguhnya, masih memerlukan uji lebih lanjut. Laporan dari uji coba di Korea Selatan, Perancis, dan China, obat itu menunjukkan manfaat mengatasi gejala penyakit Covid-19.

Khlorokuin fosfat atau pil kina digunakan di AS mengobati malaria sejak tahun 1940. Obat itu mudah dibuat dan harganya murah, tapi efektivitasnya mengatasi malaria turun. Hidroklorokuin yang digunakan mengobati malaria, bersama khlorokuin juga diresepkan untuk pasien lupus dan arthritis rematik.

Saat ini ada sejumlah obat yang dalam uji coba untuk mengatasi Covid-19. Perusahaan farmasi juga berburu waktu mencari vaksin serta alat uji penapisan.

Pada akhirnya, semua usaha itu akan masuk ke dalam ranah etika, ketika situasi darurat berhadapan dengan penemuan obat baru yang belum selesai melalui uji klinis tetapi digunakan untuk populasi yang besar. Pada sisi yang lain, menjadi ranah etika juga bila obat yang ditemukan harganya mahal sementara ada ratusan ribu orang membutuhkan obat tersebut untuk sembuh.

Oleh NINUK MARDIANA PAMBUDY

Editor: HARYO DAMARDONO

Sumber: Kompas, 23 Maret 2020

Share
x

Check Also

Hati-hati Mengonsumsi Vitamin C dan Vitamin E

Vitamin C dan vitamin E banyak disebut dalam upaya menangkal Covid-19. Meski mampu meningkatkan kekebalan ...