Home / Berita / Mengenali dan Memitigasi Gerakan Tanah

Mengenali dan Memitigasi Gerakan Tanah

Tanah longsor biasanya didahului tanda-tanda awal. Dengan mengenali tanda-tanda ini, jumlah korban jiwa dan kerugian ekonomi seharusnya bisa dikurangi. Namun, pencegahan bencana sejak dini bisa dilakukan dengan memastikan pembangunan yang berjalan tak melebihi daya dukung lingkungan.

Sebelum longsor biasanya ada tanda-tanda, misalnya tanah retak-retak,” kata Kepala Bidang Mitigasi Gerakan Tanah Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG)-Badan Geologi Supriyati Dwi Andreastuti.

Pada Desember 2016, sejumlah anggota DPRD Ponorogo telah datang ke kantor PVMBG di Bandung untuk melaporkan potensi bahaya longsor di wilayahnya, menyusul terjadinya retakan tanah di sejumlah wilayah.

Menurut Supriyati, PVMBG kemudian mengirim tim untuk memetakan 18 daerah rentan longsor di Ponorogo dan melaporkan hasilnya pada Februari 2017. Daerah rawan longsor di Ponorogo umumnya berada di daerah lereng terjal, tempat tanaman kerasnya, umumnya pinus telah diubah menjadi palawija atau tanaman semusim lain.

Survei juga dilakukan di Kecamatan Pulung, persisnya di Dusun Nguncup, Desa Bekiring, yang telah mengalami tanda-tanda gerakan tanah sejak beberapa tahun lalu dan bertambah parah sejak awal November 2016. Ternyata, longsor benar-benar terjadi di Dusun Tangkil, Desa Banaran, Kecamatan Pulung.

“Dusun Tangkil memang saat itu tidak disurvei. Namun, dalam peta zona kerentanan gerakan tanah dan peta perkiraan longsor untuk bulan April sudah kami sebutkan wilayah ini berada dalam kategori menengah hingga tinggi longsor,” katanya.

Survei setelah longsor yang melanda Dusun Tangkil pada 1 April 2017 menemukan bahwa beberapa minggu sebelum longsor ini telah ditemukan retakan pada tebing bagian atas, tetapi tak segera ditutup. Ini yang menyebabkan air hujan cepat terserap dan membuat tanah menjadi jenuh.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), retakan tanah di Dusun Tangkil mulai diidentifikasi sejak 11 Maret dengan lebar 30 sentimeter (cm). Retakan bertambah sepanang 9 meter pada 17 Maret kemudian mencapai 20 meter pada 31 Maret. Pemerintah Kabupaten Ponorogo dan pemerintah desa telah menyiapkan tempat mengungsi di malam hari. Namun pada 1 April, warga kembali ke dusun untuk memanen jahe. Saat itulah, sekitar pukul 07.40, longsor terjadi.

Longsor memang tak pandang waktu. Dia bisa terjadi malam atau siang hari. Longsor juga tidak mesti terjadi saat hujan. Dia bisa terjadi setelah hujan, sebagai proses akumulasi karena tanah telah jenuh air.

Memahami pertanda
Belajar dari sejumlah kasus gerakan tanah, menurut Supriyati, masyarakat di daerah-daerah dengan kelerengan tinggi harus mewaspadai jika menemukan retakan tanah. Jika bisa segera menutupnya dan kemudian melapor ke pemerintah setempat.

“Kalau tanah sudah mulai bergerak intensif, harus segera dihindari. Ciri gerakan tanah mulai aktif adalah jika retakan tanah terus melebar, jika itu terjadi, sebaiknya segera mengungsi,” katanya.

Menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho, saat ini banyak Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) yang melaporkan terjadinya retakan tanah di daerah mereka. Misalnya di Jawa Barat ada di Kuningan, Sukabumi, dan Cianjur. Di Jawa Tengah laporan berasal dari Cilacap, Wonogiri, dan Semarang. Sementara di Jawa Timur dari Trenggalek.

“Masalahnya, tak semua retakan tanah diikuti longsor dalam waktu dekat, misalnya di Banjarnegara, Cilacap, Sukabumi, dan Ciamis ada retakan di perbukitan sudah satu hingga dua tahun. Beberapa rumah bahkan sudah rusak, warga sempat mengungsi, tetapi kembali lagi karena longsor ternyata belum terjadi juga,” katanya.

Menurut Supriyati, ada beberapa tanah yang fisiknya berupa lempung yang bisa mengembang jika kena air. Contohnya Cililin, Bandung Barat, Jawa Barat, yang tanahnya terus mengembang dan bergerak.

Ahli longsor dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Faisal Fathani, mengatakan, sejak beberapa tahun terakhir, sistem peringatan dini longsor sebenarnya telah dipasang di beberapa lokasi rentan longsor. Sejak longsor melanda Banjarnegara tahun 2014, UGM dan BNPB telah membangun 56 alat deteksi longsor di 50 kabupaten. PVMBG sendiri telah memasang 38 alat deteksi longsor.

Dalam beberapa kasus, alat deteksi longsor ini sukses menyelamatkan masyarakat dari bencana longsor, seperti terjadi di Banjarnegara, Aceh Besar, Donggala, Kerinci, dan Kota Palu. Meski demikian, jumlah alat ini masih sangat kurang dibandingkan banyaknya daerah rentan longsor di Indonesia. Berdasarkan data BNPB, terdapat 40,9 juta jiwa atau sekitar 17,2 persen dari penduduk Indonesia yang terpapar langsung oleh bahaya longsor sedang hingga tinggi.

Oleh sebab itu, Faisal mendorong sistem peringatan dini longsor yang berbasis pada partisipasi masyarakat dengan mengintegrasikan budaya dan pengetahuan lokal. Warga harus didorong bisa mengenali ciri awal gerakan tanah agar dampak bencana bisa dikurangi.

Pencegahan dini
Faktor-faktor penyebab longsor sebenarnya bisa dikenali. Mulai dari penyebab alami, seperti kemiringan lereng, jenis tekstur tanah dan ketebalannya, serta faktor-faktor pemicu longsor, seperti tingginya curah hujan dan gempa bumi. Faktor-faktor ini biasa dikelompokkan sebagai penyebab dari dalam bumi (geohazard) dan cuaca (hydrometeorological hazard).

Namun, faktor paling penting adalah manusia. Kontribusi manusia terhadap kerentanan longsor adalah dari aspek tata guna lahan. Lerengan berupa hutan dengan akar pepohonan yang mencengkeram tanah memiliki kerentanan longsor terkecil. Sebaliknya, kerentanan membesar jika tutupan hutan diubah menjadi tegalan, sawah, bahkan permukiman.

Masalahnya, dinamika sosial menunjukkan semakin banyak penduduk tinggal di zona rentan longsor. Tren pembangunan semakin mendorong masyarakat untuk tinggal di zona rentan. Negara harus memikirkan alternatif hunian yang lebih layak kepada masyarakat yang sekarang tinggal di zona rentan longsor, selain juga mengerem pembangunan agar tidak melebihi daya dukung alam.–AHMAD ARIF
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 10 April 2017, di halaman 13 dengan judul “Mengenali dan Memitigasi Gerakan Tanah”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: