Home / Berita / Mencari Penyebab Ambruknya Jembatan Mahakam II

Mencari Penyebab Ambruknya Jembatan Mahakam II

Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengakui sampai saat ini petunjuk teknis (juknis) mengenai perawatan Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar), belum ada. Juknis perawatan untuk jembatan gantung dengan bentang besar seperti Jembatan Kukar sedang dalam kajian.

“JUKNIS perawatan yang sudah ada untuk bentang jembatan gantung yang kecil-kecil, sedangkan yang bentang besar masih dalam proses finalisasi. Namun, perawatan terhadap Jembatan Kukar sudah dilakukan secara periodik oleh Pemda Kukar dan itu sudah dikoordinasikan dengan kami di pusat,” ucap Dirjen Bina Marga, Kementerian Pekerjaan Umum, Djoko Murjanto kepada pers usai menyaksikan penandatanganan Paket Kontrak Pembangunan Underpass Simpang Dewa Ruci Denpasar, di Jakarta, Senin (28/11/2011).

Saat jembatan tersebut ambruk, kata Djoko, jembatan itu sedang ada kegiatan pemeliharaan. “Mestinya saat dipelihara, jembatan ditutup dari arus lalu lintas. Namun karena belum ada petunjuk teknis, jadi mereka lalai,”katanya.

Dia juga menambahkan, kejadian tersebut sangat langka karena jembatan baru berusia 10 tahun atau jauh di bawah disain normal untuk 40-50 tahun. Jembatan Kukar sepanjang 710 meter dibangun sejak 1995-1996 dan baru selesai pada 2001.

Pembiayaannya oleh APBD Pemkab Kukar, Provinsi Kaltim dan Pusat. Jembatan Kukar merupakan aset Pemkab Kukar. Djoko menyebut, terkait pemeliharaan jembatan itu juga merupakan tanggung jawab Pemkab Kukar bersama kontraktor yang disewakan saat ini.

Kementerian PU sebatas memberikan masukan-masukan mengenai pemeliharaan jika diperlukan. “Karena ini kepemilikannya adalah Kabupaten Kukar maka pemeliharaannya juga oleh pemkab dan ini sudah dilakukan secara rutin. Setiap tiga tahun sekali,” jelasnya.

Dalam pemeliharaan itu, kata Djoko, Pemkab Kukar bekerja sama dengan perusahaan kontraktor yang berbeda, bukan dengan PT Hutama Karya, kontraktor pembangun jembatan. “Ada kontraktor lain yang dikontrak untuk melakukan pemeliharaan,” kata Djoko.

Di sisi lain, Djoko menyebut, meskipun PT Hutama Karya tak lagi bertanggung jawab terhadap perawatan, mereka masih tetap bisa di pertanyakan pertanggungjawabannya dalam konstruksi awal dibangunnya jembatan.

“Ada tanggung jawab kontraktor terhadap konstruksi dan pemeliharan, dimana masa pemeliharaan setelah konstruksi biasa 1 atau 2 tahun saja. Tapi, jaminan terhadap konstruksinya 10 tahun. Jadi mereka masih bisa dimintai pertanggungjawaban,” katanya.

Pada bagian lain, Pakar konstruksi dari Institut Teknologi Bandung (ITB), Iswandi Imran, mengatakan ada dua dugaan penyebab ambruknya Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar), Kalimantan Timur.

Penilaian itu disampaikan Iswandi berdasarkan keterangan saksi dan foto-foto jembatan sepanjang lebih dari 700 meter itu pasca-ambruk yang dia terima. “Pertama ada kesalahan prosedur saat melakukan pengencangan kabel hanger jembatan dan hilangnya kekuatan material yang menahan beban akibat cacat material,” papar Iswandi.

Menurutnya, ada kesalahan saat para pekerja melakukan perbaikan kabel penahan jembatan. Saat pengerjaan pengencangan kabel penahan, jelas Iswandi, ruas jalan jembatan Kukar tidak dikosongkan seluruhnya. “Hal ini menyebabkan over stress atau terjadi kelebihan beban pada kabel penahan yang berakibat putusnya kabel,” jelasnya.

Kemungkinan lain, lanjut Iswandi, terjadi kelelahan material atau dalam bahasa teknik disebut material fatigue. Pada kondisi ini bahan bangunan sudah hilang kekuatannya dalam menahan beban. “Hal ini bisa bisebabkan karena cacat material konstruksi jembatan saat pembangunan atau beban yang melewati jembatan tersebut melebihi perhitungan ambang batas pada saat perencanaan 10 tahun lalu,” katanya.

Iswandi menampik kemungkinan ambruknya jembatan karena perahu ponton menabrak jembatan. Pasalnya berdasarkan kesaksian warga dan foto yang diterima, kabel hanger mengalami kegagalan atau putus bukan landasan jalan yang rusak.

Sementara Guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Daniel M. Rosyid, menyatakan, faktor konstruksi hingga teknis pemeliharaan menjadi penyebab rontoknya jembatan.

Jembatan di Kutai Kartanegara itu, kata dia, dibangun menggunakan konstruksi gantung dengan menumpukkan seluruh beban pada kedua sisi jembatan. Daniel menambahkan, sedikit saja kesalahan teknis dalam proses pemeliharaan di kedua titik di bibir jembatan, bisa berakibat fatal.

“Tegangan bebannya sangat tinggi karena seluruh beban jembatan terkonsentrasi di sana. Akibatnya, jembatan dalam kondisi rawan putus. Sedikit kesalahan dalam mengutak-atik bisa menyebabkan kabel putus dan sepersekian detik jembatan akan anjlok,” katanya. Model jembatan ini, menurut Daniel, sebenarnya tak aman untuk dibangun di Indonesia dibanding jembatan berbasis beton. Misalnya, jembatan berbasis beton Surabaya-Madura. Jembatan ini menyebarkan beban pada seluruh tiang pancang penopang. “Sehingga beban tidak terkonsentrasi di dua titik saja.”

? Indra

Sumber: Monitor Indonesia, Monday, November 28, 2011, 20:47

—————-

Penyangga Jembatan Bergeser

Komisi V DPR akan membentuk panitia kerja (panja) untuk mengetahui penyebab runtuhnya Jembatan Kutai Kartanegara (Kukar). Dari hasil investigasi sementara, penyangga jembatan telah bergeser sejak 2001.

”Tahun 2001 sudah terjadi pergeseran. Tahun 2006 pergeserannya menjadi progresif, tambah besar lagi. Ini yang perlu diklarifikasi sekaligus ditanyakan kepada para ahli,” kata Wakil Ketua Komisi V Mulyadi pada rapat bersama Kementerian Pekerjaan Umum di Gedung DPR, Senayan, Jakarta,kemarin.

Untuk itu,dia meminta dilakukan audit mulai dari perencanaan, pelaksanaan, hingga pemeliharaan Jembatan Kukar. Anggota Komisi V DPR Rendy M Affandy Lamadjido mempertanyakan tanggung jawab pemerintah.Laporan Dinas Pekerjaan Umum Kukar menyebutkan bahwa jembatan bergeser sekitar 8-10 cm.Pada 2006 konsultan Jepang bahkan menemukan ada pergeseran. Anehnya,Kementerian PU tidak mengambil tindakan. Menteri PU Djoko Kirmanto membenarkan pergeseran jembatan.

Dia mengungkapkan, dua hari sebelum Jembatan Kukar roboh atau pada 24 November, pihaknya melakukan pengawasan visual. Jembatan yang dibangun pada 1995 itu kurang terawat meskipun kondisi material dinilainya masih baik. Djoko mengaku menggandeng PT Indenes Utama Engineering Consultant selama 2001– 2006 untuk memonitor stabilitas jembatan. Djoko memastikan, tidak ada kabel jembatan yang putus pada jembatan yang dibangun dengan dana Rp104,4 miliar tersebut.

”Tidak ada kabel vertikal yang putus.Yang bermasalah adalah penghubung antara kabel utama dan kabel vertikal, semuanya lepas. Ada dua kemungkinan penyebabnya,” kata Djoko. Kemungkinan pertama, kata dia, penggantung atau klem penghubung kelebihan beban. ”Kemungkinan kedua, ada gaya mendadak yang memengaruhi penggantung. Berat maksimal yang bisa ditahan klem tersebut 210 ton. Karena ada gaya mendadak tadi, ada kemungkinan berat bebannya berlebih,”ungkap Djoko. Dia menegaskan, Kementerian PU terus menyelidiki mengapa titik temu antara kabel penggantung dan kabel utama terlepas.

Terkait pemeliharaan, Djoko mengungkapkan bahwa ketika itu Kementerian PU merekomendasikan beberapa penanganan antara lain pengencangan baut-baut clamp, adjustment hanger untuk mendapatkan camber (ruang bentang) sesuai rencana,penggantian atau pemasangan expansion joint, dan pengisian pasir pada block angkur sisi Tenggarong untuk menambah berat block angkur.

Sementara itu,Pemkab Kukar menetapkan status tanggap darurat hingga dua pekan mendatang terkait robohnya Jembatan Kukar yang menelan puluhan korban. Bupati Kukar Rita Widyasari menyatakan, sampai saat ini jumlah korban yang meninggal dunia 20 orang dan yang selamat 60 orang.Rita memperkirakan masih terdapat korban yang tenggelam di Sungai Mahakam.Karena itu, pihaknya masih terus mencari dan melakukan penyisiran.

Kepala Badan SAR Nasional (Basarnas) Marsekal Madya Daryatmo mengaku kesulitan dalam mengevakuasi korban robohnya Jembatan Kukar. Pihaknya menemukan sejumlah kendala dalam proses evakuasi di Sungai Mahakam salah satunya jarak pandang di kedalamannol.”Jadi,penyelam hanya bisa meraba,”ujar dia. hendry sihaloho/ radi saputro/ amir syarifuddin

Sumber: Koran Sindo, 2 Desember 2011

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: