Home / Berita / Mencari Asal-usul Orang Rote

Mencari Asal-usul Orang Rote

Secara bertahap, tim peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Kementerian Riset dan Teknologi Pendidikan Tinggi, melakukan pemetaan genetika manusia Indonesia. Penelitian untuk mengetahui asal-usul dan migrasi manusia ini difokuskan di Pulau Rote dan Pulau Ndao di Nusa Tenggara Timur.

Pengambilan sampel genetik di Pulau Ndao dilakukan pada Selasa (3/11), sedangkan di Pulau Rote pada Rabu (4/11) dan Kamis (5/11). Pengambilan sampel darah ini dibantu petugas puskesmas setempat. Masyarakat di dua pulau ini cukup antusias menjadi sukarelawan yang diambil sampel daerahnya.

Bahkan, Bupati Rote Ndao Leonard Haning menyambut para peneliti. Dia berharap hasil pemetaan genetika ini bisa menjawab pertanyaan masyarakat tentang asal-usulnya, selain juga berguna untuk pelayanan kesehatan. “Kami memang memiliki banyak cerita sendiri tentang asal-usul kami melalui dongeng-dongeng dari orang tua. Akan tetapi, dengan penelitian genetika ini, diharapkan bisa lebih memperjelasnya. Kami harapkan hasilnya nanti bisa disampaikan kembali kepada masyarakat,” kata Leonard.

Herawati Sudoyo, Ketua Tim Peneliti dari Eijkman, mengatakan akan menyampaikan hasil pemetaan genetika masyarakat Rote dan Ndao. Hasil analisis golongan darah bisa langsung disampaikan kepada warga, tetapi untuk menganalisis struktur genetika harus dilakukan di laboratorium Eijkman di Jakarta.

“Pemetaan genetika ini selain untuk mengetahui asal-usul juga sangat penting untuk pemetaan penyakit tertentu. Ada gen tertentu yang rentan terserang penyakit tertentu sehingga bisa dideteksi untuk penanganan sebelum kelahiran,” katanya.

Gludhug Ariyo Purnomo, peneliti Eijkman, menyebutkan, di Kecamatan Ndao-Nuse diambil sampel darah dari 26 orang. Adapun di Desa Oetefu, Kecamatan Rote Barat Daya, diambil sampel darah 30 orang. Di Desa Oetutulu, Kecamatan Rote Barat Laut, diambil sampel darah 24 orang. Di Desa Nggodimeda, Kecamatan Rote Tengah, diambil sampel darah 22 orang.

“Dengan selesainya pengambilan sampel di Rote dan Ndao ini, berarti di NTT hanya Pulau Sabu yang belum kami miliki sampel DNA-nya. Pulau-pulau lain, seperti Sumba, Flores, Wetar, Adonara, dan Pulau Timor, sudah kami petakan,” kata Herawati.

Pembauran genetika
Menurut Herawati, keragaman populasi manusia di NTT menjadi bagian sangat penting dalam pemetaan genetika di Indonesia. Pulau-pulau di NTT menjadi zona transisi antara penutur Papua dan Austronesia. Secara genetika juga terjadi pembauran yang intensif. Pulau Alor, genetika dominan Papua, hampir 100 persen.

Namun, pulau-pulau lain terjadi pembauran hampir merata. Misalnya, di Pulau Sumba ada kawasan yang genetika manusianya mayoritas bertipe Papua, yaitu Sumba Barat, sebagian lainnya bertipe Austronesia, yaitu di Sumba Timur. Pembauran genetika juga terlihat di Pulau Timor. “Teori klasik cenderung menganggap penutur Austronesia menggantikan penutur Papua yang datang lebih dulu. Tetapi, yang terlihat dari jejak genetika, yang terjadi adalah pembauran melalui kawin campur,” kata Hera.

Dinamika geologi berupa terpisahnya Paparan Sunda dan Paparan Sahul akibat mencairnya es di masa lalu diduga turut memengaruhi migrasi manusia di Nusantara. Salah satu hasilnya adalah tingginya keragaman etnik. Sekalipun bertetangga dan hanya dipisahkan jarak sekitar satu jam perjalanan dengan kapal, Pulau Ndao dan Pulau Rote memiliki kebudayaan dan bahasa yang berbeda. Namun, interaksi di antara kedua pulau ini sudah berlangsung lama.

Ndao merupakan pulau kecil yang dihuni 3.420 jiwa. Warga di pulau ini menggantungkan sepenuhnya suplai bahan pangan dari Pulau Rote karena tiadanya lahan pertanian dan keterbatasan sumber daya air di Ndao. Uniknya, hampir semua perempuan di Pulau Ndao merupakan petenun ulung, sedangkan lelakinya merupakan perajin besi, perak, dan emas. Hasil kerajinan mereka itulah yang menghidupi orang-orang Ndao.

Sekalipun hanya merupakan pulau kecil, yaitu seluas 1.280,10 kilometer persegi, Kabupaten Rote-Ndao kaya ragam budaya. Secara umum terdapat dua bahasa, yaitu bahasa Rote dan Ndhao. Sementara di Pulau Rote sendiri terdapat 19 dialek bahasa. Bahasa di pulau ini masih termasuk dalam rumpun Austronesia.

Masyarakat Ndao pada umumnya memercayai nenek moyang mereka berasal dari Pulau Sabu. “Bahasa kami juga mirip bahasa Sabu. Juga ada banyak kesamaan adat istiadat,” kata Yusuf Kotten (73), tokoh adat Desa Mbalilendeiki, Kecamatan Ndao-Nuse.

Di Rote terdapat banyak variasi kisah lisan yang menceritakan asal-usul mereka. Masyarakat subetnis Ti’i di Desa Oebowu, seperti disampaikan tokoh adatnya, Johanes Messakh (52), nenek moyang mereka berasal dari Pulau Seram di Maluku. “Kisah ini disampaikan kepada kami secara turun-temurun. Namun, sebelum kedatangan orang Ti’i ke pulau ini, disebutkan sudah ada orang di pulau ini, yang memiliki ciri kulit lebih hitam dan rambut kriting,” kata Johanes.

Herawati mengatakan, penduduk yang lebih mula ada di Pulau Rote sebagaimana dikisahkan oleh Johanes ini memiliki ciri fenotipe Papua, yang merupakan migran awal dari Afrika yang tiba di Nusantara sekitar 60.000 tahun lalu. “Menarik untuk melihat hasilnya nanti, apakah benar ada pembauran genetika yang intensif antara Austronesia dan Papua di Pulau Rote,” ucapnya.

AHMAD ARIF

Sumber: Kompas Siang | 6 November 2015
——————-
Tim Eijkman Lengkapi Peta Genetika

Riset untuk Mengetahui Kerentanan Tiap Etnis terhadap Penyakit
Tim peneliti dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi melanjutkan pemetaan genetika manusia Indonesia di Nusa Tenggara Timur. Riset kali ini difokuskan di Pulau Rote dan Pulau Ndao.

Pengambilan sampel genetik di Pulau Ndao dilakukan pada Selasa (3/11), sedangkan di Pulau Rote pada Rabu (4/11) dan Kamis (5/11). “Untuk NTT, kami sudah pelajari genetikanya, seperti Sumba, Flores, dan Pulau Timor. Namun, di Rote, Ndao, dan Pulau Sabu belum dilakukan. Kali ini kami selesaikan yang Rote dan Ndao,” kata Herawati Sudoyo, Ketua Tim Peneliti dari Eijkman, kepada warga Desa Nggodimeda, Kecamatan Rote Tengah, Kabupaten Rote-Ndao.

a278b5ed377643799a495b2fcbcf93d1KOMPAS/AHMAD ARIF–Petugas puskesmas Desa Nggodimeda, Kecamatan Rote Tengah, mengambil sampel darah warga, Kamis (5/11), dalam rangka pemetaan genetika manusia Indonesia. Sampel darah ini akan dianalisis di laboratorium Lembaga Biologi Molekuler Eijkman di Jakarta untuk diketahui struktur genetikanya.

Herawati mengatakan, pulau- pulau di Nusa Tenggara Timur (NTT) amat penting dalam pemetaan genetika manusia di Indonesia. Di antara pulau-pulau itu, hanya Pulau Alor yang manusianya punya struktur genetika dominan Papua. Sementara pulau-pulau lain memiliki pembauran genetika hampir sama besar, antara Austronesia dan Papua, yang menunjukkan ada pembauran intensif di masa lalu.

Gludhug Ariyo Purnomo, anggota tim, menjelaskan, di Kecamatan Ndao-Nuse sampel darah diambil dari 26 orang. Adapun di Desa Oetefu, Kecamatan Rote Barat Daya, diambil sampel darah 30 orang. Di desa Oetutulu, Kecamatan Rote Barat Laut, diambil sampel darah 24 orang. Sementara di Desa Nggodimeda, Kecamatan Rote Tengah, diambil sampel darah 22 orang.

Sampel darah itu akan dibawa ke Laboratorium Eijkman di Jakarta untuk dianalisis struktur genetikanya. Hasil analisis untuk golongan darah dilakukan di lokasi pengambilan dan langsung dibagikan kepada warga.

Menurut Herawati, riset itu untuk meneliti asal-usul keanekaragaman genetika dalam hubungannya dengan migrasi nenek moyang masyarakat Indonesia. Riset itu juga amat berguna untuk mengetahui kerentanan dan ketahanan tiap etnis dengan penyakit tertentu.

Keragaman di Rote
Bupati Rote Ndao Leonard Haning menyambut baik riset yang dilakukan para peneliti Eijkman ini. Ia berharap hasilnya menambah khazanah pengetahuan masyarakat dan berguna untuk kesehatan masyarakat.

“Kami memiliki banyak cerita sendiri asal-usul kami lewat dongeng dari orangtua. Namun, dengan riset genetika ini, diharapkan bisa lebih memperjelasnya. Kami harapkan hasilnya nanti bisa disampaikan kembali kepada masyarakat,” ucap Leonard.

Meski Kabupaten Rote Ndao hanya pulau kecil seluas 1.280,10 km persegi, budayanya beragam. Secara umum ada dua bahasa yakni bahasa Rote dan Ndao. Sementara di Pulau Rote sendiri ada 19 dialek bahasa. Bahasa di pulau itu masih termasuk rumpun Austronesia.

Masyarakat Ndao umumnya memercayai nenek moyang mereka berasal dari Pulau Sabu. “Bahasa kami mirip bahasa Sabu, juga ada banyak kesamaan adat istiadat,” kata Yusuf Kotten (73), tokoh adat Desa Mbalilendeiki, Kecamatan Ndao-Nuse.

Di Rote, ada banyak variasi kisah lisan yang menceritakan asal-usul mereka. Pada masyarakat subetnis Ti’i di Desa Oebowu, seperti disampaikan tokoh adatnya, Johanes Messakh (52), nenek moyang mereka berasal dari Pulau Seram di Maluku. “Kisah ini disampaikan kepada kami turun-temurun. Namun, sebelum kedatangan orang Ti’i ke pulau ini, disebutkan sudah ada orang di pulau ini, dengan ciri kulit lebih hitam dan rambut keriting,” kata Johanes.

Herawati memaparkan, penduduk yang lebih mula ada di Rote, seperti dikisahkan Johanes ini, punya ciri fenotipe Papua sebagai migran awal dari Afrika yang tiba di Nusantara sekitar 60.000 tahun lalu. “Menarik melihat hasilnya nanti, apa benar ada pembauran genetika yang intensif antara Austronesia dan Papua di Rote,” ujarnya.

Penelitian genetika manusia Indonesia dilakukan tim Eijkman sejak 1996. Populasi yang sudah diteliti adalah mayoritas etnik di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku Utara. Namun, beberapa etnis kecil belum dipetakan. Sementara Provinsi Maluku baru selesai di Kepulauan Kei dan Tanimbar serta akan dilakukan di Papua.

Riset itu kian mengonfirmasi keragaman genetika manusia Indonesia. Keragaman itu terbentuk karena perbedaan riwayat, asal kedatangan, dan pembauran di Nusantara. (AIK)
—————
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 6 November 2015, di halaman 13 dengan judul “Tim Eijkman Lengkapi Peta Genetika”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Hujan Menandai Kemarau Basah akibat Menguatnya La Nina

Hujan yang turun di Jakarta dan sekitarnya belum menjadi penanda berakhirnya kemarau atau datangnya musim ...

%d blogger menyukai ini: