Home / Berita / Menabur Karya, Menuai Teladan

Menabur Karya, Menuai Teladan

Cerita Para Teladan dan Juara/Finalis LPIR/LKIR dri Jawa Timur tahun 1991
Duta-duta Surabaya yang mengikuti seleksi teladan nasional dan Lomba Karya ilmiah Remaja-Lomba Penelitian Ilmiah Remaja kemarin (LPlR-LKIR) tiba di Surabaya. Semuanya –kecuali seorang sopir teladan— adalah dari unsur pelajar. Dua di antara 9 pelajar itu adalah juara nasional tingkat SMTP dan SMTA. Enam lainnya menjadi finalis Lomba Penelitian Ilmiah Remaja (LPIR) dan Lomba Karya Ilmiah Remaja (LKIR) LIPI-TVRI. Bagaimana kesan mereka dari Jakarta dan apa yang mendorong mereka bisa memperoleh sukses? Berikut laporan wartawan Jawa Pos Zahidin yang ikut menyambut kedatangannya.

KARYA-karya tampilan duta Surabaya yang berhasil ke Jakarta membuktikan bahwa karya itu dilakukan dengan kerja keras. Setidaknya, hal itu berkat kepekaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Mereka tidak sungkan-sungkan meneliti di luar bidangnya. Usianya pun masih muda, rata-rata 19 tahun. Minat untuk mengkaji masalah, sosial dan kemanusiaan tampaknya menjadi pilihan.

Misalnya, Eriyanto, siswa, A-3 SMAN 11 yang berhasil menjadi juara I IPA. Karyanya berupaya mencari jalan pemecahan bagi peternak ayam broiler. Dia meneliti ransum (makanan) ayam broiler yang murah tapi berprotein tinggi, dengan bahan dari cacing tanah. “Sebab ransum broiler saat ini mahal dan impor,” katanya.

Begitu juga Sulistyo Emantoko yang berhasil menjadi juara III. Ia meneliti tahu yang banyak dikonsumsi masyarakat. Ternyata, tahu banyak yang tidak tahan lama, cepat nyanyur. ”Karena itu, saya mencoba mencari cara agar tahu dapat disimpan dan tahan lama,” ujarnya.

Ada juga karyanya merupakan penemuan …mana milik Herry Darmawan dan Andreas yang membuat program voice recognizer untuk proteksi data komputer. Yakni, cara menghidupkan komputer dengan suara pemilik program. Komputer tidak akan menampakkan data-data, jika yang memangil suara orang lain. Sekaljpun, dengan menirukan suara pemilik. °Tentu, ini sangat berguna untuk menjaga data-data yang bersifat rahasia,”katanya.

Iskandar Leo, siswa A-1 SMAK Petra, yang mengutak-atik surat pembaca harian Jawa Pos dilatatarbelakangi oleh pemikiran yang sederhana. °Mengapa ada rubrik itu dan mengapa masyarakat menulis disitu. Dan, mengapa tertarik pada “si baju merah” di bemo saja, menuliskannya di rubrik Pembaca Manulis,” ujarnya.

Kepekaan dan minat mengkaji masalah sosial maupun membuat karya ilmiah ini, ternyata tidak terlepas dari bentukan kelompok ilmiah remaja (KIR) di sekolah-sekolah. Eriyanto mengungkapkan kalau minat meneliti itu bermula dari ikut KIR di sekolahnya. “Hanya sayang belum berjalan baik, sehingga saya mandiri,” ujarnya.

Sentiono, yang dua tahun lalu berturut-turut menjuarai LKIR menyatakan, ”Walau saya dalam menghasilkan karya itu mandiri, saya akui KIR di sekolah sangat berarti sekali. Di situlah kita mendapatkan dasar-dasar metodologi ilmiah. Guru pembimbingnya semua dari sana kan, ” katanya.

Sedangkan Sulistyo Emantoko mengemukakan, melalui KIR dirinya terlatih untuk melakukan penelitian. “Saat presentasi di Jakarta saya anggap biasa, sebab di KIR sekolah mengajarkan demikian,” katanya.

Masalah menang atau kalah daIam ajang nasional itu, ternyata hanya berkaitan soal teknis. Sutanto, misalnya, menurut pengakuannya, dia dapat menjadi juara pertama, selisihnya hanya 0.09. Dia merasa kurang dalam hal keterampilan. Ini juga lantaran formasi yang kurang. Jika seleksi tingkat provinsi berbahasa Inggris diakui. Di tingkat nasional tidak demikian. Ia menginginkan keterampilan yang khas. Seperti karajinan, menari, dan sebagainya, saya membawa rangkaian bel Elektronika. Seandainya ada informasi tentang kriteria keterampilan itu, saya akan membawa perangkat yang lebih baik dan tinggi,” ucapnya.

Begitu juga dengan Harry Darmawan. Waktu ujian, alat peraganya tidak jalan. Padahal sebelum ujian, alat itu dites bisa. “Lucunya, habis presentasi, alat peraga tersebut berfungsi kembali,” katanya.

Sedangkan Bambang Harminto, sopir teladan itu, juga punya kiat lain hingga ia memperoleh gelar itu. “Saya nggak ada pikiran bahwa kalau bikin musala, arisan, dan lain-lain bakal mengantarkan ke teladanan ini.“ kata Bambang yang ketika pulang lungsung dikirab oleh teman-teman sesama sopir itu.

Dari cerita masing-masing duta Surabaya ini, ternyata gelar teladan dan juara yang mereka peroleh berkat karya-karya yang telah mereka kerjakan. Sama sekali bukan dari lamunan dan omong doang.
—————————
… Tantangan, Mosok Teladan “Ngorak”

…masing-masing …yang dikirim ke … Baik kesan-kesannya se… sana, maupun niat yang … mendorong membuahkan karya… mauoun keteladannya.

Sutanto, 19 tahun pelajar teladan II, siswa klas III A-1 SMAN 6.
Dengan predikat ini, saya akan mengubah perilaku yang menurut saya kurang baik. Misalnya, kalau dahulu masuk halaman sekolah dengan bersepeda, kini sepeda saya tuntun. Berbicara harus juga lebih hati-hati. Prestasi di sekolah harus saya tingkatkan. Pokoknya, ini merupakan tekad yang harus saya pikul. Bagaimana tidak, saya dinyatakan teladan setelah menyisihkan sekian banyak utusan dari seluruh Indonesia. Berarti, cerminan teladan itu harus terbukti. Mosok teladan kok ngorak. Apalagi saya satu-satunya teladan nasional dari Jatim.

Selain itu. saya senang sekali. Minimal dapat menyenangkan hati orang tua. Ketika pulang, saya dijemput di stasiun, dirangkul, dan dipeluk. Sesampai di rumah, para tetangga menyalami, menyanjung, dan mereka –seperti saya juga– terlihat bangga, di kampungnya ada teladan nasional.

Saat di Jakarta, banyak pengalaman yang saya petik. Mulai dari bertukar pikiran dengan pelajar dari
berbagai daerah, mangetahui masing-masing kebiasaan, dan mengenal masing-masing karakter mereka. Bertemu dengan banyak menteri, ditanya, dan berjabat tangan dengan orang top seperti itu sebelumnya tak pernah saya bayangkan. Apalagi melihat presiden langsung. Wah, saya bahagia sekali.

ERIYANTO, 19 tahun, juara I, LKIR IPA, III A -3 SMAN 11.
Yang pertama, meneliti itu merupakan kepuasan. Dengan meneliti, mengkaji, dan menuliskan dalam karya ilmiah, saya dapat memecahkan masalah dengan konkret. Saya begitu prihatin melihat para peternak yang pakannya mahal, beli dari toko. Saya tergerak mencari bahan yang murah tapi bernilai tinggi.

Kedua, dengan meneliti dapat menerapkan ilmu yang sementara ini hanya dalam pikiran. Saya inngin, agar diri saya terlatih untuk dapat berguna bagi masyarakat. Target untuk menang tidak ada, saya hanya mencoba mengukur kemampuan. Kalau toh yang terjadi menang, itu menjadi kebanggaan tersendiri.

Saya juga dapat mengangkat citra keluarga, sekolah dan teman-teman. Bahkan, saya tidak menyangka kedatangan dari Jakarta disambut bak pahlawan, memakai upacara kalungan bunga segala. Terlebih hadiahnya, yakni komputer dan uang Rp 1 juta. Sekarang saya satu-satunya orang sedesa yang mempunyai komputer.

Selanjutnya, ketika di Jakarta, dan ini pertama kali saya ke sana, banyak sekali pelajaran dan pengalaman yang saya timba: pengalaman presentasi, berkenalan dengan pelajar antar daerah, dan bertemu dengan tokoh-tokoh nasional, seperti Dr Pratiwi Soedharmono, Prof Semaun Samadikun, dan bertemu artis juga.

Juga saat bertemu dengan presiden, menteri-menteri, dan mengikuti sidang MPR. Semula hanya melihat di TV, membaca di koran, dan mendengar dari guru-guru. Saya baru tahu: ini toh orang-orang yang mengendalikan negeri ini? Inginnya, tahun depan dapat ke sana (ke Jakarta) lagi.

SULISTYO EMANTOKO, 18 tahun, Juara III LKIR IPA. IIIA-1 SMAK Dharma Mulya
Waktu presentasi saya tidak gentar, walau jurinya para ilmuwan dan ahli semua. Sebab saya sudah terbiasa presentasi di KIR. Lepas dari itu, bagi saya meneliti adalah kepuasan batin. Jiwa dapat mengembara, selalu ingin tahu, dan mencari jawabanny. Dan perasaan senang dan gembira yang tak dapat dilukiskan, jika berhasil. Gagal pun menjadikan diri ini tidak putus asa, malah tertantang. Apalagi, keberhasilan itu dapat berguna bagi masyarakat banyak. Di sana akhirnya kita mengabdi nanti, mengapa saat ini kita tidak memulai berlatih?

Sebenarnya, penelitian saya ini penelitian kolompok yakni dengan dua teman lain. Hanya karena nama saya berada di urutan pertama dalam naskah itu, saya yang dipanggil. Dengan adanya kesempatan dan akhirnya menang walau bukan yang pertama, saya akan lebih meningkatkan diri. Pangalaman berharga ini menjadi bekal untuk maju di tahun depan serta mengajak teman-teman untuk gemar meneliti. Hadiahnya, saya tabung untuk membayar biaya ebtanas nanti.

IWAN D. MARGON0, 18tahun, finalis LPIR, III A-1 SMAK Petra 2.
Saya mengakui, saingan saya lebih bermutu. Penelitian saya sendiri agak tergesa. Saat maju juga sempat grogi. Bagaimana tidak, jurinya wong top-top. Namun, yang menghantarkan saya ke tingkat nasional ini tidak terlepas dari latihan di sekolah, melalui KIR.

Meneliti itu mangasyikkan. Dapat menguji seberapa kemampuan dan keuletan serta kepekaan kita. Banyak sebenarnya kejadian dalam lingkungan masyarakat ini yang menarik untuk dikaji secara mendalam. Misalnya, banyak orang senang tanaman hias. Tetapi mereka selalu mengeluh, sebab tanahnya sering mengotori lantai ruangan, atau tanaman itu tidak bisa diletakkan di kamar tidur.

Kesan dari Jakarta, ternyata Indonesia itu besar. Beraneka ragam suku, budaya, dan adat masing-masing. Namun, saat berkumpul menjadi satu tampak akrab, ramah, dan tidak ada perbedaan itu. Sementara ini, saya di sekolah tidak menyangka bahwa Indonesia demikian itu. Mereka semua, dan saya, ingin membaur.

ASIDIGISIANTI SURYAPATRIA. 14 tahun, finalis siswa teladan, II SMPN 6
Walau tidak menang, saya senang, banyak teman, tambah wawasan, dan dapat saling tukar cendera mata. Malah, Saya kan tidak menyangka kalau di sana ada acara itu juga. Saya tidak membawa. Waduh gimana ya? Akhirnya ibu yang mendampingi saya suruh membelikan cenderamata khas Jatim di Pasar Raya.

Kami saling menukar dengan kekhasan daerah masing-masing. Ada yang tukar cenderamata satu-satu. Ada juga yang lantaran dari daerah lain, misalnya selendang, ditukar dengan dua buah cenderamata, pokoknya kayak barter deh. Bahkan, karena rebutan, saya sempat, hanya mendapat dasi. Berangkat dengan tiga tas, kembali dengan enam buah… he…he…

Saya merasa menjadi teladan itu ternyata tidak mudah. Saya lihat, mereka yang teladan begitu sederhana dan tidak banyak tingkah.

ISKANDAR LEO, 19 tahun, finalis LPIR, alumni III A-1 SMAK Petra-2
Ternyata benar, kreativitas itu sangat berharga sekali. Saya dapat maju ke babak final dari sekian ribu peserta ya gara-gara pikiran aneh itu. Lha gimana, saya ini Jurusan A-1 meneliti masalah surat pembaca yang jauh dari bidang saya.

Saya sempat dipuji Bu Astrid (Prof Dr Phil Astrid S. Susanto, pakar komunikasi massa), atas karya saya
meneliti surat pembaca Jawa Pos itu. Hanya, ketika saya ditanya tentang apakah setiap orang yang berkomunikasi itu perlu feed back (umpan balik), saya sempat bengong. Habis, saya kan tidak banyak tahu tentang teori komunikasi. Sehingga, menurut saya, tidaknya saya menjadi juara bukan makalahnya yang jelek. Tetapi, Wawasan saya di sekitar makalah itu yang saya rasa kurang.

SETIAWAN, 16 tahun, finalis LKIR, II A-1 SMAK Frateran
Saya juga jatuh lantaran kurang wawasan di luar masalaih yang dikaji. Saya meneliti alat untuk mengontrol kadar keasaman air dalam perkembangan perikanan. Ternyata, ketika saya ditanya berapa kadar Ph air (kadar perubahan air yang diperlukan) bagi udang yang berumur satu bulan, saya tidak dapat menjawab. Saya tahu alatnya saja. Apalagi saat juri bertanya tentang ekspor non migas.

HERRY DARMAWAN, 19 tahun, finalis LKIR, almuni III A-1 SMAK Frateran
Ini merupakan kegagalan yang pertama bagi saya, Andreas dan Sentiono (semuanya teman seangkatan). Sebelumnya, kami bertiga patner dan dua tahun lalu memborong juara I, II, dan III LKIR ini. Kegagalan saya bukan lantaran tidak bermutu, hanya alat peraganya macet waktu presentasi.

Saya dan teman-teman memang suka membuat karya. Kami suka teknologi, sebab bangsa kita harus menguasai itu. Yang lebih penting, dengan penelitian kita banyak teman dan wawasan.

N SENTIONO, 19 tahun, finalis LKIR, alumni IIIA-1 SMAK Frateran
Saya melihat, mutu Iomba tahun ini meningkat. Saya memang sudah langganan di LKIR maupun LPIR sejak kelas I SMA. Sayangnya, mereka yang ikut lomba itu hanya menargetkan untuk menang. Mempersiapkan penelitian kalau ada lomba, penggarapannya pun kadang tergesa. Ini fatal.

Menurut saya, hendaknya para bibit-bibit unggul itu benar-benar meneliti atau mengkaji sesuatu, bukan ke sana targetnya. Itu juga penting untuk memacu prestasi.

BAMBANG HERMINTO, 28 tahun, sopir teladan nasional
Ini merupakan anugerah yang besar. Saya merasa ini merupakan tanggung jawab. Apa yang saya lakukan selama ini sudah wajar sebagai seorang sopir. Berupaya selalu baik, jujur, tak melanggar peraturan, bisa menyenangkan hati penumpang, dan tidak ugal-ugalan. Jika ingin selamat menjalani pekerjaan itu, prinsipnya jangan sampai dalam pekerjaan ini dimaki orang, apalagi merugikannya

Sumber: JAWA POS, SABTU WAGE 24 AGUSTUS 1991

Share
x

Check Also

Pandemi Covid-19 yang Membersihkan Bumi

Pandemi Covid-19 memang membawa petaka bagi umat manusia. Namun, wabah yang dipicu oleh SARS-CoV-2 ini ...

%d blogger menyukai ini: