Memahami Risiko Pascagempa dan Tsunami Sulawesi Tengah

- Editor

Senin, 1 Oktober 2018

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Meski Kota Donggala dan Palu telah berulang kali dilanda gempa dan tsunami, kejadian ini tetap mengejutkan. Berikut ini beberapa informasi yang menjelaskan tentang apa, mengapa, dan bagaimana memahami tentang gempa bumi dan tsunami yang melanda kawasan ini pada Jumat (28/9/2018) lalu.

Penyebab gempa dan tsunami di Donggala dan Palu
Sulawesi yang terbentuk dari tumbukan tiga lempeng besar, yakni Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik, adalah pulau amat dinamis dan dibelah banyak patahan aktif. Dalam Peta Sumber Gempa Nasional terbaru yang disusun Pusat Studi Gempa Nasional tahun 2017 disebutkan, ada 48 sesar atau sumber gempa di Pulau Sulawesi. Salah satu patahan yang dalam sejarah memicu banyak gempa bumi merusak di kawasan ini adalah Sesar Palu-Koro, sesar darat terpanjang kedua di Indonesia setelah Sesar Besar Sumatera.

Catatan sejarah juga menunjukkan, sejak 1820 hingga 2018, sebagian gempa bumi di Sulawesi dan sekitarnya memicu tsunami. Selat Sulawesi telah dilanda tsunami 19 kali. Jumlah ini merupakan yang terbanyak di Indonesia. Seluruh tsunami di kawasan ini bersumber dari aktivitas gempa di patahan Palu-Koro, zona subduksi di utara Sulawesi, dan jalur sesar di Asternoster.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sekalipun gempa bumi tak bisa diprediksi dengan pasti waktunya, daerah yang pernah dilanda gempa bumi pada masa lalu dipastikan akan kembali mengalaminya, demikian halnya dengan tsunami.

Daerah lain yang rentan gempa di Sulawesi
Sebagian besar sesar di Sulawesi melintas di kota padat. Berdasarkan ancaman dan kepadatan penduduknya, yang perlu dikhawatirkan adalah Kota Palu yang dilalui Sesar Palu-Koro di segmen Palu dan segmen Saluki. Selain itu, Kota Soroako dilalui Sesar Matano, terutama segmen Pamsoa dan segmen Ballawai. Sementara Kota Poso dilalui Sesar Naik Tokararu.

Potensi gempa bumi susulan
Setelah gempa besar, biasanya akan terjadi gempa susulan yang kekuatannya cenderung mengecil. Namun, gempa besar juga bisa diikuti gempa besar, seperti terjadi di Pulau Lombok. Fenomena ini dikenal sebagai gempa doublet, yang terjadi karena gempa sebelumnya memicu runtuhnya bidang gempa di sebelahnya. Sampai kini belum diketahui apakah karakter patahan Palu Koro berpotensi terjadi gempa doublet ini. Kajian dari peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Mudrik Darmawan Daryono, perlu jadi perhatian. Dia menemukan data, pada 1909 terjadi kerusakan gempa sama besar di Donggala dan Kulawi sehingga dicurigai saat itu terjadi gempa doublet.

Apa yang perlu dilakukan jika terjadi gempa lagi
Jika terjadi gempa saat berada di dalam ruangan, upayakan segera berlutut dan melindungi organ vital, kepala, leher, dan dada. Upayakan mencari perlindungan di bawah meja. Jika berada di dalam bangunan yang dinilai tak kuat dan jalur keluar aman, lebih baik segera keluar sambil melindungi kepala, leher, dan dada. Jika berada di luar ruangan, segera berlutut, berlindung, jauhi dinding bangunan, tiang, ataupun pohon.

Kenali ancaman tsunami
Gempa berikutnya bisa memicu tsunami apabila guncangannya keras (membuat kita sulit berdiri) dan atau cukup lama (lebih dari 1 menit) dengan sumber dangkal di laut atau di dekat pantai. Apabila saat itu Anda berada di dekat pantai, lakukanlah evakuasi mandiri dengan sesegera mungkin menjauh dari pantai menuju ke tempat tinggi (minimal 20 meter) atau berjarak 2 kilometer dari garis pantai.

Pastikan keamanan rumah setelah gempa
Banyak bangunan hancur dalam gempa bumi di Palu dan Donggala, tetapi sebagian ada yang bertahan. Rumah yang masih berdiri tetapi banyak retakan perlu diwaspadai. Rumah yang retaknya sedikit bisa roboh jika fondasinya lemah serta sistem struktur pengikat antara balok dan kolom tidak terpasang dengan baik di sekeliling tembok. Mintalah bantuan dari para ahli atau petugas BPBD setempat untuk memastikan kondisi rumah Anda.

Likuifaksi setelah gempa Bumi
Setelah gempa bumi, banyak beredar video tentang bangunan yang ambles dan terseret karena tanah berubah jadi lumpur atau pasir isap. Fenomena ini disebut sebagai likuifaksi, yang banyak terjadi di beberapa gempa bumi di Indonesia, termasuk di Aceh tahun 2004, gempa Pidie Jaya 2016, dan gempa Lombok 2018. Fenomena ini paling sering diamati terjadi pada tanah berpasir yang jenuh dan longgar atau berkepadatan rendah. Pasir cenderung memampat saat mendapat beban gempa yang tiba-tiba, lalu melonggar atau melebar setelah gempa sehingga seolah-olah mengisap bangunan di atasnya. Fenomena ini dalam banyak kejadian gempa jadi penyebab banyak kerusakan dan korban. (AIK, dari berbagai sumber)

AHMAD ARIF

Sumber: Kompas, 1 Oktober 2018

Informasi terkait

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon
Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam
Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Berita ini 303 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 17 Oktober 2026 - 14:15 WIB

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Kamis, 15 Oktober 2026 - 16:26 WIB

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Berita Terbaru

Artikel

Saat Gambut Kehilangan Air, Bumi Kehilangan Karbon

Sabtu, 17 Okt 2026 - 14:15 WIB

Berita

Api yang Tak Pernah Benar-Benar Padam

Kamis, 15 Okt 2026 - 16:26 WIB