Home / Artikel / Memahami Keilmuan Mutlak dalam Mengajar

Memahami Keilmuan Mutlak dalam Mengajar

Data  capaian literasi membaca, matematika, dan IPA pelajar kita saat ini sudah lengkap dan cukup untuk melakukan diagnosis.


Data sejak 2000 dari Programme for International Student Assessment (PISA) dan Trends in International Matematics and Science Study (TIMSS), bahkan ujian nasional yang rutin tahunan, semua tersedia. Artinya, untuk memahami bagian mana pendidikan di tiga bidang tersebut yang harus dibenahi, sebenarnya tak terlalu sulit. Yang dibutuhkan sekarang adalah kajian dan perumusan tindakan strategis guna memperbaikinya.

Paham keilmuan
Beberapa edukator menunjuk masalah pengajaran sebagai penyebabnya. Bagi yang rutin mendatangi dan mengamati pengajaran di persekolahan, memang umumnya terlihat murid mendengar pasif dan kurang aktif membangun pemahaman di kelas. Keterampilan mengajar mungkin saja penyebabnya. Namun, ada kemungkinan rendahnya keterampilan mengajar justru merupakan dampak ketimbang penyebab masalah.

Pada program magister untuk mengajar matematika di Universitas Harvard, AS, dituliskan keyakinannya bahwa guru matematika yang baik menggabungkan pemahaman mendalam dan gairah mengajar. Ini yang sering dilupakan: pemahaman keilmuan merupakan kunci, selain gairah mengajar.

Bukankah justru di dua area itu kita (baca: pendidik) butuh berbenah? Temuan Kemdikbud yang diberitakan Kompas edisi 17 Maret 2012 menunjukkan rata-rata kompetensi guru rendah. Bukankah ini juga merupakan data sahih untuk menunjuk pemahaman sebagai sumber kelemahan pengajaran? Namun, yang cukup aneh, sampai hari ini justru rendahnya pemahaman keilmuan ini yang tidak pernah disinggung pengambil kebijakan pendidikan.

Seberapa pun pahamnya seseorang pada metode mengajar, jika dia tidak memahami makna pembagian 1/3 : 2/5, pengajaran matematikanya akan menjadi sebuah ceramah. Dia akan menuangkan pengetahuan mutlaknya ke benak para murid.

Murid yang seperti busa penyerap akan dipaksa mematuhi prosedur cara menghitung tanpa paham alasan di balik perhitungan itu. Guru yang tak paham akan enggan menciptakan perdebatan dan diskursus. Akibatnya, pengajaran matematika jadi dogmatis. Prosedur perhitungan dan rumus bak turun dari langit yang harus dipuja. Rumus menjadi nirmakna dan mati, tak bersuara indah lagi. Siklus pengajaran pun jadi ritual: beri rumus, beri contoh, latihkan soal. Tak akan ada diskusi dan kajian mendalam. Yang tertinggal adalah ”pokoknya begitu”.

Sebaliknya, jika seorang guru memahami keilmuannya serta bergairah mengajar, tentunya dia akan termotivasi mempelajari teori belajar dan metode mengajar. Dia akan bersemangat meningkatkan pemahaman pedagoginya. Terlebih, berlatih diri dalam metode mengajar menjadi masuk akal karena dia ingin mengajak muridnya belajar sekaligus menikmati kasmaran belajar yang dialaminya. Syarat utama, guru harus memahami keilmuannya. Logikanya, bukankah untuk menjadi seorang guru renang, seseorang harus cakap berenang dahulu?

Membenahi
Ada dua area yang perlu dibenahi. Pertama, pada program penyiapan guru perlu dikembangkan sebuah kurikulum baru yang memberikan porsi besar pada pemahaman keilmuan. Calon guru mutlak perlu mengalami kasmaran belajar keilmuannya. Yang akan mengajar sejarah harus pernah merasakan nikmatnya kasmaran menyelami sejarah dan menelitinya.

Juga dalam kurikulum baru itu perlu diberikan teori belajar yang memadai, selain teori mengajar. Jika diharapkan pengajaran berpusat pada proses belajar murid, tentunya guru harus paham teori belajar. Guru harus cakap mengenali gaya belajar yang cocok bagi murid.

Membenahi kurikulum program guru ini jauh lebih penting ketimbang membenahi kurikulum murid. Namun, dengan pemisahan pendidikan tinggi dari Kemdikbud, apakah Kemdikbud masih berwenang berpendapat dalam pengembangan kurikulum institusi penyiapan guru? Ini yang harus segera dituntaskan di tingkat kabinet.

Kedua, pada program pengembangan profesi bagi guru yang sudah bertugas, ada kendala unik dihadapi Indonesia. Yang utama adalah kendala geografis. Banyak guru dan sekolah berada di daerah amat terpencil dan terisolasi. Juga banyak sekolah diajar oleh satu atau dua guru. Jika guru diundang mengikuti program pengembangan profesi di tempat lain, akan terganggu proses belajar muridnya, sulit,  dan amat mahal.

Oleh karena itu, penggunaan internet sebagai wahana guru berlatih, berinovasi, serta berbagi merupakan satu-satunya cara saat ini. Dengan membuat video klip lima menitan yang langsung menunjukkan bagaimana membelajarkan bahan ajar tertentu, cara mengajar itu akan segera dapat diterapkan guru di kelasnya. Dengan langkah ini, selain guru tersebut meningkatkan kecakapan mengajarnya, para muridnya pun langsung dapat merasakan perbaikan layanan pendidikan. Ini jauh lebih efektif daripada mengubah kurikulum maupun buku ajar.

Iwan Pranoto Guru Besar Matematika ITB

Sumber: Kompas, 24 November 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Pemulihan Ekonomi: V, U, atau W?

Kita memang tak hidup dalam dunia yang ideal saat ini. Kita sadar, kebijakan ideal ala ...

%d blogger menyukai ini: