Home / Berita / arkeologi-antropologi / Melihat secara Holistik lewat Humaniora Maritim

Melihat secara Holistik lewat Humaniora Maritim

Humaniora maritim sebagai keilmuan lintas bidang menawarkan cara baru dalam memandang terjadinya perubahan alam dan pola kehidupan manusia. Kunci utamanya, memahami bahwa manusia dan alam bukan dua dikotomi berbeda, melainkan dua elemen terkait, dan saling memengaruhi.

Hal itu disampaikan Asisten Profesor Bidang Kajian Asia dari Universitas Leiden, Belanda, Elena Burgos Martinez, dalam kuliah umum berjudul ”Humaniora maritim dan Indonesia” di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (1/8/2019). Kuliah umum itu bagian dari rangkaian kerja sama UI dengan Universitas Leiden, yaitu mengundang para pakar ”Negeri Kincir Angin” untuk memberikan pemaparan di UI.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Elena Burgos Martinez, Asisten Profesor Kajian Asia Universitas Leiden, Belanda, menyampaikan kuliah umum mengenai pendekatan humaniora maritim ketika meneliti masyarakat bahari. Kuliah dilangsungkan di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat, Kamis (1/8/2019).

”Selama ini, pendekatan untuk kajian masyarakat maritim masih sangat terrasentris, yaitu berdasarkan persepsi individu yang tinggal di daratan kontinental dan urban,” kata Martinez.

Ia mengemukakan, persepsi itu menjadikan pandangan terhadap masyarakat maritim cenderung menyederhanakan, bahkan tidak jarang menempatkan masyarakat maritim sebagai komunitas yang tertinggal karena tidak memiliki pembangunan dan kemajuan teknologi, seperti masyarakat darat. Padahal, definisi kemajuan dan kebutuhan teknologi antara masyarakat maritim berbeda dengan masyarakat darat, terutama urban.

Martinez mengembangkan konsep humaniora maritim ketika meneliti Pulau Nain, Sulawesi Utara, selama dua tahun sejak 2010. Ia yang memiliki latar belakang pendidikan antropologi dan sosiolinguistik menemukan pendekatan yang biasa dilakukan ketika meneliti masyarakat maritim yang terlalu terfragmentasi. Biasanya, ilmu sosial melihat kebudayaan tumbuh sebagai adaptasi manusia terhadap alam. Sebaliknya, ilmu eksakta melihat alam berubah akibat perilaku manusia.

”Kita sering lupa bahwa manusia adalah bagian dari alam dan proses saling memengaruhinya seperti lingkaran. Tinggal bagaimana peneliti bisa membaca makna perubahan itu bagi masyarakat yang mereka nilai terdampak. Oleh karena itu, penting untuk mengetahui makna, ciri, dan proses perubahan dari persepsi masyarakat yang diteliti karena setiap kelompok masyarakat maritim memiliki pandangan berbeda-beda,” paparnya.

Dalam praktiknya, humaniora maritim melibatkan kajian dari banyak aspek, seperti sastra bertema lingkungan masyarakat itu, filsafat, sejarah, antropologi, hingga sains. Membaca masyarakat maritim, seperti contohnya Pulau Nain, tidak sebatas orang-orang yang tinggal di wilayah seluas 5 kilometer persegi tersebut. Namun, mencakup pula persebaran mereka ke wilayah lain, seperti ke Maluku Utara, Sulawesi Tengah, dan Gorontalo. Pulau itu memang kecil secara geografis, tetapi secara sosial sangat besar.

”Mempelajari konsep pengetahuan masyarakat lokal sangat penting karena ilmu yang mereka punya adalah hasil interaksi dengan alam. Misalnya, ketika berkata ’hari ini panas’, masyarakat Nain tidak cuma bicara soal hawa. Di dalamnya ada makna arah angin, tujuan berlayar, dan ikan yang akan ditemukan di titik itu,” kata Martinez.

Ia mengungkapkan, bagi warga Nain, pelayaran tidak ditentukan oleh angin karena mereka menavigasi pelayaran dengan melihat gerakan ombak. Hal ini mematahkan teori bahwa masyarakat maritim bergantung pada angin. Tidak menutup kemungkinan masyarakat maritim lain memiliki fenomena alam lain yang memengaruhi keputusan mereka dalam melaut.

Lebih penting lagi masyarakat maritim punya pandangan berbeda terkait dengan perubahan. Sering kali peneliti tidak peka menangkap hal ini sehingga memaksakan sudut pandang kekotaan yang menempatkan orang laut sebagai korban. ”Ada titik tengah yang bisa dicapai ketika peneliti atau wartawan mengetahui definisi kemajuan dan perubahan bagi masyarakat maritim sehingga ketika menjalankan kebijakan yang bersifat dari atas ke bawah bisa disesuaikan dengan kebutuhan lapangan yang tidak homogen,” ujarnya.

KOMPAS/LARASWATI ARIADNE ANWAR–Dekan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Adrianus Laurens Gerung Waworuntu pada Kamis (1/8/2019) di Depok, Jawa Barat, mengemukakan pentingnya melihat permasalahan bahari melalui pandangan holistik seperti yang ditawarkan oleh pendekatan humaniora maritim.

Berbagai sektor
Dekan FIB UI Adrianus Laurens Gerung Waworuntu mengatakan, Indonesia dan Belanda memiliki kerja sama maritim melalui berbagai sektor. Salah satunya memandang permasalahan bahari dari sebuah pandangan yang holistik agar bisa membuat kebijakan maupun perilaku yang sinergis dalam melestarikan laut sekaligus menjaga produktivitas masyarakatnya.

Pekan lalu, Guru Besar Antropologi Universitas California Santa Cruz, Amerika Serikat, Anna Tsing memperkenalkan teori antroposen pada Simposum Internasional Ke-7 Jurnal Antropologi Indonesia. Pendekatan ini melihat manusia, hewan, tumbuhan, iklim, maupun teknologi merupakan kolaborator yang bersama-sama membuat Bumi bisa lebih baik ataupun lebih buruk untuk ditempati. (Kompas, 25 Juli 2019) (DNE)–LARASWATI ARIADNE ANWAR

Sumber: Kompas, 1 Agustus 2019

Share
x

Check Also

Penggunaan Aplikasi Permudah Monitoring Mangrove

LIPI menggunakan penginderaan jauh dan teknologi untuk menghasilkan buku panduan monitoring, spreadsheet template, dan aplikasi ...

%d blogger menyukai ini: