Home / Berita / Melestarikan Warisan Budaya Bangsa lewat Pengarsipan Digital

Melestarikan Warisan Budaya Bangsa lewat Pengarsipan Digital

Era digital turut berperan dalam pengarsipan aset budaya suatu negara. Dengan teknologi, informasi dan konten aset tersebut disimpan dalam bentuk digital sehingga dapat dilestarikan secara turun-temurun.

Dalam kerangka sejarah, arsip budaya merupakan rekaman perjalanan suatu bangsa. ”Proses negara menghargai sejarahnya dan belajar dari sejarahnya menentukan kebesaran bangsanya,” kata Guru Besar Fakultas Ilmu dan Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia Susanto Zuhdi dalam seminar tentang digitalisasi aset budaya di Jakarta, Rabu (21/2).

Pengarsipan aset-aset budaya secara digital dinilai penting dalam rangka pemeliharaan, pelestarian, dan pengawetan warisan bangsa. ”Menurut saya, Indonesia tertinggal dari Jepang, Singapura, dan Malaysia dalam hal ini,” ujar Profesor Sekolah Pascasarjana Teknik Universitas Kyoto Ari Ide-Ektessabi, Rabu.

M PASCHALIA JUDITH J UNTUK KOMPAS–Profesor Sekolah Pascasarjana Teknik Universitas Kyoto Ari Ide-Ektessabi dalam seminar tentang digitalisasi aset budaya di Jakarta, Rabu (21/2).

Prinsip dasar pengarsipan digital ini berupa pemindaian terhadap obyek-obyek aset budaya, seperti lukisan, patung, bahkan bangunan. Hasil pindaian dalam bentuk file atau dokumen digital ini diharapkan dapat menjadi informasi dasar aset-aset budaya itu.

Nantinya, informasi dari pindaian tersebut dapat menunjang pembuatan replika aset jika dibutuhkan. Ari mengatakan, aset budaya asli dapat rusak akibat bencana, perang, dan proses penuaan. Karena itu, perlu pengarsipan agar konten dan informasi yang terkandung dalam aset asli tetap dapat menjadi sumber pengetahuan bagi generasi penerus.

M PASCHALIA JUDITH J UNTUK KOMPAS–Seorang anggota tim mempersiapkan pemindai dengan teknologi pencitraan tingkat supertinggi yang berfungsi untuk mengarsipkan aset-aset budaya secara digital. Demonstrasi ini dilakukan dalam seminar tentang digitalisasi aset budaya di Jakarta, Rabu (21/2).

Resolusi gambar yang dipindai mencapai 5.000 titik dalam satu inci (dots per inch/dpi). Tingkat resolusi ini membuat rincian berukuran 1 milimeter pada aset aktual tidak akan buram ketika diperbesar di layar gawai setelah dipindai.

Lensa pada alat pemindai mampu mendeteksi obyek dengan skala mikroskopik yang berada pada rentang 5-80 mikrometer. Oleh sebab itu, ukuran dokumen digital yang dihasilkan berkisar 20-200 gigabyte.

Resolusi ini juga dapat merekam rincian jahitan pada aset tekstil. Ari mengatakan, dengan mengetahui jenis jahitan, aset tekstil itu dapat diidentifikasi ke zaman tertentu.

”Teknologi ini cocok untuk mendigitalisasi kain tenun yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Ari mengatakan, teknologi pemindai yang dikembangkannya memiliki tingkat presisi warna yang tinggi, yakni sekitar 98 persen. Dalam teknologi ini, ada proses kalibrasi warna sehingga arsip aset budaya berwarna sama dengan aslinya.

Jepang dan Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan sejarah.

Kedutaan Besar Jepang bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memperkenalkan pengarsipan aset budaya secara digital ini kepada Indonesia dalam rangka perayaan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Jepang.

”Jepang dan Indonesia merupakan negara yang kaya akan budaya dan sejarah. Kami ingin meningkatkan hubungan kedua negara lewat pelestarian budaya. Terkait kerja sama dalam pengarsipan aset budaya secara digital ini akan kami pelajari lebih lanjut,” kata Direktur Penerangan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Ryo Nakamura, Rabu.

M PASCHALIA JUDITH J UNTUK KOMPAS–Direktur Penerangan dan Kebudayaan Kedutaan Besar Jepang di Indonesia Ryo Nakamura menutup seminar pengenalan digitalisasi aset budaya di Jakarta, Rabu (21/2).

Dihubungi secara terpisah, Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Nadjamuddin Ramly mengatakan, digitalisasi aset budaya benda ataupun tak benda itu penting dari pengarsipan hingga publikasi.

”Saya rasa, kami perlu belajar dan beradaptasi dengan teknologi yang diperkenalkan oleh Jepang,” katanya.

Digitalisasi aset budaya sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang memiliki misi untuk melindungi karya warisan bangsa. Dengan adanya perlindungan, aset-aset budaya itu dapat dikembangkan, dimanfaatkan, dan dibina.

Digitalisasi aset budaya sejalan dengan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang memiliki misi untuk melindungi karya warisan bangsa.

Sejak 2004
Riset teknologi pindaian untuk arsip digital dengan pencitraan resolusi supertinggi dimulai pada 2004. Sekitar dua tahun kemudian, dia dan tim bereksperimen dengan lukisan pada pintu partisi milik Kastil Motorikyu Nijo yang telah mengalami penuaan. Lukisan ini dipotret sebanyak lima kali selama Maret 2006-Juli 2007.

Ari juga menjalin kerja sama dengan Pusat Pelestarian dan Restorasi Museum Grand Egyptian di Mesir serta Kementerian Pendidikan Tinggi Mesir pada 2010. Selain memindai artefak aset budaya Mesir, manuskrip bertuliskan aksara Arab di Perpustakaan Al-Azhar juga turut dipindai dan diarsipkan.

Pada awal 2012, Ari dan tim turut mendigitalisasi gambar desain kapal Titanic di Museum Nasional Irlandia Utara. Gambar yang dipindai berukuran 650 sentimeter x 150 sentimeter. Kapal ini ditetapkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) sebagai warisan budaya.

Aset terbesar yang pernah dipindai oleh Ari adalah lukisan raksasa karya Tenkei Tachibana. Lukisan ini dipasang pada partisi pintu. Salah satu lukisannya berukuran 2 meter x 5 meter.

Teknik pencitraan resolusi supertinggi ini juga diterapkan untuk mengarsipkan manuskrip pada daun palem yang merupakan warisan budaya Myanmar. Digitalisasi ini merupakan salah satu bagian dari proyek kolaborasi yang berlangsung sejak April 2015 hingga Maret 2018.

Tidak hanya aset dua dimensi, aset tiga dimensi juga dapat didigitalisasi. ”Contohnya tembikar. Dengan teknik pencitraan resolusi tingkat tinggi, retakan pada tembikar dapat terekam,” ucap Ari.

Ari dan tim pernah mendigitalisasi ukiran dan ornamen pada muka altar di Gereja Filippo Neri, Turin, Italia, pada 2012. Ukiran dan ornamen tersebut merupakan karya Pietro Pifetti, seniman Italia yang hidup pada abad ke-18. (DD09)

Sumber: Kompas, 21 Februari 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: