Home / Berita / Masa Peralihan, Hujan Hanya Bersifat Lokal

Masa Peralihan, Hujan Hanya Bersifat Lokal

Selama tiga hari ke depan, sejumlah daerah masih berpotensi menerima guyuran hujan, termasuk area Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi atau Jabodetabek. Namun, hujan tersebut hanya dipengaruhi oleh dinamika atmosfer lokal di daerah tersebut. Saat ini, wilayah Indonesia sudah masuk peralihan ke musim kemarau.

“Secara umum sudah di peralihan ke kemarau, tetapi masih ada yang berpotensi hujan, seperti Sumatera bagian barat, Kalimantan bagian barat dan utara, serta Sulawesi bagian tengah,” kata Kepala Bidang Informasi Meteorologi Publik Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) A Fachri Radjab saat dihubungi hari Selasa (31/3) di Jakarta.

Potensi hujan di daerah tersebut dipengaruhi oleh dinamika atmosfer lokal masing-masing, misalnya akibat belokan angin atau pertemuan angin yang menimbulkan konveksi (pemanasan matahari). Dengan demikian, hujan cenderung berpeluang terjadi pada siang atau sore hari setelah penguapan dari hasil pemanasan sudah cukup.

Hujan lokal juga berpotensi kuat terjadi di Jabodetabek dalam tiga hari ke depan. Untuk sepekan mendatang, potensi itu masih ada, tetapi sudah menurun.

Fachri mengatakan, saat ini pola angin yang dominan adalah angin timuran atau angin muson Australia. Angin ini berembus dari Australia ke arah utara, kemudian berbelok ke arah barat sepanjang Nusa Tenggara, Bali, dan Jawa. Setelah itu, berbelok ke utara menuju Benua Asia.

Angin muson Australia biasanya berembus pada April-Oktober, terjadi karena matahari seolah-olah sedang berada di belahan bumi utara. Kondisi itu menyebabkan Benua Asia lebih hangat dan bertekanan rendah, sedangkan Australia lebih dingin dan bertekanan tinggi. Akibatnya, angin berembus dari Australia ke arah Asia. Angin ini membawa sedikit massa uap air sehingga menjadi penanda masuknya musim kemarau bagi sebagian besar wilayah Indonesia.

Muka air laut hangat
Pekan lalu, Kepala Subbidang Analisa dan Informasi Iklim BMKG Ardhasena Sopaheluwakan menyatakan, zona musim di Jabodetabek masih akan berpeluang diguyur hujan lebat hingga akhir Maret. Namun, pada dasarian atau 10 hari pertama April, wilayah pantai utara Banten, Jawa Barat, dan DKI Jakarta mulai memasuki musim kemarau.

Hujan lebat yang melanda Jabodetabek, kata Ardhasena, disebabkan oleh menghangatnya suhu muka laut di Laut Jawa. Peningkatan suhu air laut melebihi normalnya, menyebabkan tingginya penguapan air laut dan pembentukan awan hujan.
content

494db0f65e954290b5cb3ae6b31bf08fSelanjutnya, awal April, pantura Jawa akan memasuki kemarau. Musim kemarau ini ditandai dengan penurunan curah hujan di bawah 50 mm dalam satu dasarian.

Di kawasan tengah Banten dan Jawa Barat, kemarau baru akan dimulai sekitar pertengahan Mei. Adapun kawasan selatan dua provinsi tersebut, seperti Palabuhanratu, baru memasuki kemarau awal Juni.

Sifat hujan atau tingkat curah hujan di Banten, DKI, dan Jawa Barat sampai akhir Maret tergolong normal. Artinya, curah hujan kemarau sama dengan data historis pada bulan yang sama dalam 30 tahun terakhir.

“Pantura wilayah Jawa bagian barat, termasuk DKI, akan normal, kecuali Karawang dan Indramayu yang curah hujannya akan di bawah normal,” ujar Ardhasena. Namun, pada awal hingga pertengahan April, Jakarta bagian utara akan mendapat curah hujan lebih rendah dari rata-rata.

Di wilayah Jakarta, kata Kepala BMKG Andi Eka Sakya, terlihat perbedaan pola cuaca dan sifat curah hujan antara wilayah utara dan selatan. Masa kemarau di wilayah utara relatif lebih lama dan curah hujannya rendah.

Adapun di utara curah hujan lebih tinggi. Kondisi ini dipengaruhi topografi dan daerah vegetasi yang masih luas. Tutupan lahan oleh pepohonan akan menyerap sinar matahari sehingga berpengaruh pada penurunan suhu permukaan dan menaikkan kelembaban udara. Selain itu, kawasan permukiman di wilayah selatan tidak sepadat di utara Jakarta.

Badai tropis
Fachri menambahkan, saat ini terpantau ada badai (siklon tropis) Maysak, sekitar 1.400 kilometer di utara Papua. Kecepatan terjangan badai bisa mencapai 185 kilometer per jam, dan Selasa (31/3) ini tercatat berkecepatan 175 km per jam.

Namun, tidak ada dampak signifikan terhadap wilayah Indonesia karena jaraknya cukup jauh. Di sisi lain, badai diperkirakan mulai melemah pada Kamis (2/4).

“Dampaknya hanya berupa gelombang laut setinggi 2-3 meter di perairan utara Sulawesi, utara Maluku, dan utara Papua. Gelombang setinggi ini memberi risiko pada kapal-kapal kecil,” ujar Fachri.

J Galuh Bimantara dan Yuni Ikawati

Sumber: Kompas Siang | 31 Maret 2015

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: