Home / Berita / arkeologi-antropologi / Maluku Utara Lokus Pertemuan Awal Austronesia dan Papua

Maluku Utara Lokus Pertemuan Awal Austronesia dan Papua

Maluku Utara memiliki posisi penting untuk memahami keberagaman dan pembauran populasi. Kawasan itu menjadi titik awal pertemuan penutur Austronesia dan Papua.

–Masyarakat Togutil biasa hidup di rumah semi terbuka beratap daun dan berpindah-pindah di hutan, seperti terlhat di Kampung Budaya Kowehino, Desa Dodaga, Kecamatan Waseli Timur, Halmahera Timur, Jumat (20/12).

Kepulauan Maluku Utara menjadi titik perjumpaan penutur awal Austronesia dengan Papua yang lebih dulu mendiami kawasan ini. Pertemuan awal dua populasi dominan di wilayah Nusantara ini menyebabkan terjadinya adopsi dan juga penggantian budaya.

“Maluku Utara memiliki posisi penting untuk memahami keberagaman dan pembauran populasi, selain juga sebaran penyakit terkait genetika,” kata ahli genetika dari Lembaga Biologi Molekuler Eijkman, Herawati Supolo Sudoyo di Maba, Halmahera Timur, Maluku Utara, Jumat (20/12/2019).

T

im peneliti dari Lembaga Eijkman berada di Halmahera Timur untuk mempelajari tentang masyarakat Togutil, yaitu kelompok pemburu peramu yang hidup berpindah-pindah di hutan. Selama ini studi antropologi tentang Togutil telah banyak dilakukan, namun genetika mereka belum pernah dipelajari.

Upaya membangun kontak telah dilakukan terhadap masyarakat Togutil di Kecamatan Maba Tengah dan Kecamatan Waseli Timur di Halmahera Timur. Sebagian orang Togutil di dua kecamatan ini telah keluar dari huan dan mulai menetap di desa-desa baru yang dibangun pemerintah.

Meski demikian, dari pantauan Kompas, sebagian perkampungan Togutil ini ditinggalkan warganya karena mereka kembali hidup ke hutan. Bahkan, sebagian rumah bantuan telah beralih tangan ke orang non-Togutil.

“Kami beraktivitas di hutan karena sumber makan kami di sana. Sebagian orang tak betah dengan bangunan rumah permanen yang dibuatkan pemerintah dari tembok atau papan dengan atap seng. Selain panas, kalau hujan juga berisik,” kata Yonatan Lebo (54), warga Togutil dari Kampung Oboi, Desa Tutuling Jaya, Kecamatan Waseli Timur.

Safrudin Abdul Rahman, antropolog dan peneliti Togutil dari Universitas Khairun Ternate, Maluku Utara mengatakan, upaya merumahkan masyarakat Togutil dilakukan sejak 20 tahun lalu tapi kerap mengalami kegagalan. Hal ini disebabkan kerap tidak diikuti dengan tranformasi sosial ekonomi dari budaya berburu meramu ke budaya bertani.

Sehari-hari masyarakat Togutil makan sagu dan binatang buruan, selain ikan. Belakangan ini, sebagian warga mulai menanam singkong untuk diambil patinya dan diolah sebagaimana sagu.

KOMPAS/AHMAD ARIF (AIK)–Utu (70), suku Togutil yang berbahasa non-Austronesia kini menetap di Dusun Lalaici, Desa Yawanli, Kecamatan Maba Tengah, Halmahera Timur, Kamis (19/12). Sebagian masyatakat Togutil saat ini masih tinggal berpindah-pndah di hutan sebagai pemburu dan peramu. Kompas/Ahmad Arif

Dua Kelompok
Dari aspek bahasa, masyarakat Togutil menuturkan berbicara non-Austronesia atau kerap disebut sebagai kelompok bahasa Papua. Selain oleh masyarakat Togutil, bahasa non-Austronesia juga dituturkan oleh kelompok populasi lain di Halmahera, seperti Tobelo.

Bukti arkeologis yang diajukan Bellwood (1998) menunjukkan, penghunian non-Austronesia di Maluku Utara telah ada sejak 32.500 tahun lalu. Populasi non-Austronesia ini merupakan penghuni awal Nusantara yang bermigrasi dari Afrika melalui daratan Asia, melalui Kalimantan dan Sulawesi sebelum ke Kepulauan Maluku dan kemudian Papua.

Sementara penutur Austronesia bermigrasi dari utara melalui Filipina, sebelum kemudian terbagi ke wilayah barat Nusantara dan sebagian ke Oseania. Menurut Bellwood, gerabah tertua dari kebudayaan Austronesia ditemukan di Maluku Utara dengan umur 3.500 tahun lalu.

Penelitian sebelumnya oleh tim Eijkman menunjukkan, di Maluku Utara terdapat sembilan rumpun bahasa Austronesia dan 12 non-Austronesia. Namun, 78 persen populasinya memiliki penanda genetik Austronesia dan 22 persen penanda genetik non-Austronesia.

Masyarakat yang berbahasa non-Austronesia ternyata juga memiliki genetika Austronesia, demikian sebaliknya. Hal ini menunjukkan, sekalipun ada pembauran genetik Austronesia, tapi tak terjadi percampuran bahasa. Masing-masing kelompok populasi mempertahankan bahasa ibu mereka, sekalipun hidup berdampingan dan sebagian mengalami kawin campur.

“Studi Togutil diharapkan bisa memperjelas pola pembauran dan diversifikasi genetik di kawasan Maluku Utara. Selain itu, kami akan mempelajari penyakit dan perubahan metabolisme, mengingat mereka merupakan transisi dari pemburu peramu yang pindah-pindah di hutan ke pola hidup menetap,” kata Herawati.

Oleh AHMAD ARIF

Editor: EVY RACHMAWATI

Sumber: Kompas, 21 Desember 2019

Share
x

Check Also

Covid-19 Menurunkan Emisi Karbon Global

Pandemi Covid-19 telah memangkas lebih dari delapan persen emisi karbon global, Berkurangnya emisi ini terjadi ...

%d blogger menyukai ini: