Home / Berita / Malaria Belum Tuntas, Demam Berdarah Menyeruak Jelang PON 2020

Malaria Belum Tuntas, Demam Berdarah Menyeruak Jelang PON 2020

Rudi (37) terhenyak ketika diberitahu kasus demam berdarah telah sampai ke Timika. “Ini malaria saja masih berat, DB lagi datang,” kata pendatang asal Minahasa yang baru lima tahun merantau ke kota emas tersebut.

Karena itu, warga di Jalan Ahmad Yani Timika, Papua ini semangat menyambut kedatangan petugas dari Pusat Pengendalian Malaria Mimika ke kos-kosan yang dihuninya. Siang itu, Kamis (28/2/2019) pagi, giliran kos-kosan yang dihuninya disemprot cairan insektisida untuk melumpuhkan nyamuk pembawa parasit malaria itu.

–Petugas Pusat Pengendalian Malaria Mimika, Kamis (28/2/2019) menyemprotkan insektisida ke dinding dan lantai rumah di Jalan Ahmad Yani, Timika, Papua.

“Mari jo…mari jo…. Kasih tutup (semprot dengan merata) semua dinding-lantai di sini,” kata dia sambil menunjukkan dinding lorong kos-kosannya yang gelap dan banyak gantungan baju.

Sesampai giliran di kamarnya yang berukuran lima meter persegi dan terpasang kelambu, Rudi yang tanpa menggunakan masker atau alat pengaman diri lain pun menemani petugas penyemprot kamarnya. Ia ingin memastikan seluruh bagian tembok kamarnya tertutup cairan semprotan tersebut.

Maklum saja, Rudi baru tiga pekan lalu sembuh dari penyakit malaria tropika. Selama lebih dari sepekan ia tergeletak di dalam kamar. Jangankan untuk bekerja, untuk ke kamar mandi saja – terutama saat siang hari – terasa lemas dan pusing.

“Kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya masih minim dan ini menjadi tantangan,” kata Wartono, edukator Pusat Pengendalian Malaria Mimika yang bersama timnya mengunjungi rumah-rumah, termasuk kos-kosan yang ditinggali Rudi.

Tim yang berasal dari Timika Malaria Control Center ini rutin setiap hari berkeliling dari rumah ke rumah untuk menyemprotkan cairan insektisida dalam program IRS atau indoor residual spraying. Bukan hanya menyemprotkan cairan insektisida, tim ini juga memberikan pengarahan kepada tuan rumah.

Seluruh bagian rumah, mulai dari ruang keluarga, kamar tidur, dan kamar mandi serta dapur disemprot. Saat penyemprotan dan satu jam paska penyemprotan, anggota keluarga diminta keluar dari rumah. Kemudian, jika hendak beraktivitas di dalam rumah kembali, lantai rumah perlu dipel agar bebas dari insektisida dan aman bagi anggota keluarga.

Wartono sebagai edukator dari Pusat Pengendalian Malaria Mimika mengatakan, IRS dilakukan enam bulan sekali. Total ada 8 regu yang turun ke rumah-rumah warga dan melakukan penyemprotan untuk memutus rantai penularan malaria.

Nyamuk anopheles betina sebagai penyebar penyakit malaria biasa beraktivitas pada malam hingga pagi hari, yaitu pukul 18.00 hingga 06.00. Tatkala nyamuk menempel di dinding yang disemprot insektisida, maka nyamuk akan mati atau setidaknya parasit dalam tubuh nyamuk itu akan mati.

Wartono mengatakan, kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungannya masih minim dan ini menjadi tantangan. Misalnya, masih ditemukan tempat genangan air yang dapat menjadi sarang nyamuk. Sebagai pencegahan, selain penyemprotan, Wartono juga mengingatkan agar warga tetap menggunakan kelambu saat tidur malam hari untuk menghindari gigitan nyamuk.

Stela (30), warga yang rumahnya disemprot insektisida mengatakan, dirinya rutin menguras bak mandi seminggu dua kali untuk mencegah berkembangbiaknya nyamuk. Menurut Stela, suaminya, Alfons (42), pernah terkena malaria pada 2018 dan menjalani rawat jalan untuk proses penyembuhan.

“Setelah disemprot, nyamuknya berkurang. Nyamuk paling banyak muncul pukul 18.00 sampai 19.00. Biasanya saya pakai raket nyamuk,” katanya.

Kemitraan
Penanggung Jawab Program Community Health & Development PT Freeport Indonesia Sutoyo mengatakan, Pusat Pengendalian Malaria Mimika didirikan atas kemitraan antara Dinas Kesehatan Kabupaten Mimika dengan PT Freeport Indonesia, serta Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK). Sepanjang 2018, sudah ada 37.000 rumah yang disemprot insektisida atau 120.000 ruangan. Kelambu yang sudah dibagikan ada sebanyak 3.238 buah.

Alhasil, kata dia, angka Annual Parasite Incidence (API) atau jumlah kasus positif malaria per 1.000 penduduk dalam satu tahun yang awalnya 400, kini turun menjadi 100. Meskipun menurut data Dinas Kesehatan Provinsi Papua, angka API di Mimika masih mencapai 206,23 dengan tiga orang kematian akibat malaria pada 2018.

Papua yang masih bergulat dengan penyakit malaria, kini sudah muncul lagi penyakit zoonosis yang sama-sama berasal dari nyamuk, demam berdarah. Catatan Kompas, sejak Januari hingga Maret 2019 terdapat 11 kabupaten di Papua dengan 332 kasus demam berdarah dengue (DBD). Tiga orang meninggal akibat DBD, yaitu di Biak Numfor dan Mimika.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua, 11 kabupaten dengan kasus DBD tersebut adalah Kota Jayapura, Asmat, Merauke, Kabupaten Jayapura, Nabire, Biak Numfor Mimika, Keerom, Sarmi, Kepulauan Yapen, dan Boven Digoel. Ada dua kabupaten di Papua dengan jumlah kasus DBD yang tinggi, yaitu Boven Digoel sebanyak 145 kasus dan Biak Numfor 57 kasus.

Ancaman penyakit mematikan yang sama-sama berasal dari nyamuk – tetapi beda jenis ini – kian menghantui Mimika bersama kabupaten lain yang pada 2020 menjadi tuan rumah penyelenggaraan Pekan Olahraga Nasional di Papua.

Kepala Seksi AIDS, TB dan Malaria Dinkes Papua, Beri Wopari di Jayapura pada pertengahan Maret lalu mengatakan, pihaknya akan menyiapkan segala cara pengendalian malaria untuk melindungi para atlet beserta timnya yang berasal dari luar Papua. Upaya itu meliputi identifikasi dan pemberantasan sarang nyamuk di sekitar tempat tinggal atlet dan venue, pemberian ikan pemangsa jentik nyamuk di kolam air, penyediaan kelambu, mendeteksi dan pengobatan kasus malaria secara dini.

“Kami akan menyediakan petugas medis dan obat secara gratis bagi para atlet dan timnya yang positif terserang penyakit malaria saat berada di Papua,” kata Beri.

Sementara itu Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinkes Provinsi Papua Aaron Rumainum mengatakan, pihaknya telah mengirimkan bantuan bubuk abate untuk membunuh jentik nyamuk di tempat penyimpanan air dan cairan serta alat untuk pengasapan atau fogging ke seluruh kabupaten yang terdapat kasus DBD tahun ini.

Dinas Kesehatan Provinsi Papua pun, lanjut Aaron, telah mengirim surat instruksi kepada dinas kesehatan di wilayah- wilayah tersebut untuk mencegah meluasnya kasus DBD. Misalnya pemberantasan sarang nyamuk dengan menguras tempat penampungan air, menutup dan mengubur barang bekas.

“Kami telah mengirimkan alat pengetes DBD atau Rapid Diagnostic Test seluruh kabupaten ini. Alat tersebut sangat berguna untuk mendeteksi DBD secara dini,” tutur Aaron.

Namun memerangi penyakit ini bukanlah perkara mudah. Hendaknya, para atlet tak hanya menjaga konsentrasi dan fisik yang prima demi meraih medali emas. Mereka juga harus bertarung agar tak terserang penyakit endemik yang sering terjadi di bumi Cenderawasih ini. (APO/ICH/DKA/FLO/ENG)

Oleh TIM KOMPAS

Sumber: Kompas, 4 April 2019

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Dihuni 13.000 Jenis Tumbuhan, Papua Pulau dengan Biodiversitas Flora Tertinggi Geser Madagaskar

Kerja keras 99 peneliti dari 19 negara menyodorkan fakta bahwa Pulau Papua memiliki 13.634 spesies ...

%d blogger menyukai ini: