Home / Berita / Makhluk Plastik

Makhluk Plastik

Keberadaan mikroplastik di kotoran manusia menunjukkan manusia pada akhirnya memakan sendiri sampahnya.

Sampah plastik telah menjadi ancaman kematian yang nyata bagi fauna laut, mulai dari plankton hingga paus. Kini, mikroplastik pun ditemukan dalam tubuh manusia. Meski dampaknya belum diketahui pasti, keberadaan mikroplastik di kotoran manusia menunjukkan manusia pada akhirnya memakan sendiri sampahnya.

Di seluruh dunia, mulai dari pulau kecil di Pasifik Selatan, kawasan Arktik hingga kota-kota besar, sampah plastik bertebaran. Menjerat, meracuni hingga membunuh banyak binatang laut, mulai dari penyu, ikan, burung camar, dan paus.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Pantai yang dipenuhi sampah di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Kamis (22/11/2018). Selain menimbulkan penyakit bagi warga yang tinggal di pesisir, sampah yang didominasi oleh sampah plastik akan mencemari lautan dan membahayakan ekosistem laut.

Indonesia pun menghadapi ancaman serupa. Kematian paus sperma di perairan Wakatobi, Sulawesi Tenggara dengan hampir 6 kilogram sampah plastik di perutnya dan penyu yang mati terapung dikelilingi sampah plastik berminyak di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta pada November 2018 adalah buktinya.

LA ODE M. SALEH HANAN / AFP–Bangkai paus sperma yang terdampar di pantai kawasan Wakatobi, Sulawesi Tenggara, 19 November 2018. Di dalam perut paus itu ditemukan lebih dari lima kilogram sampah pastik.

Kini, plastik berukuran mikro juga ditemukan dalam feses manusia. Studi peneliti Austria terhadap delapan responden dari Austria, Inggris, Italia, Jepang, Rusia, Belanda, Finlandia, dan Polandia menemukan adanya mikroplastik berukuran kurang dari 5 milimeter dalam fesesnya.

Hasil studi yang dipaparkan dalam pertemuan Perkumpulan Gastroenterologi Eropa (UEG) di Wina, Austria, pertengahan Oktober 2018 itu merupakan bukti pertama bahwa plastik juga ditemukan dalam tubuh manusia.

“Studi ini mengkonfirmasi apa yang telah kita duga sejak lama bahwa plastik akhirnya mencapai usus manusia,” kata Philipp Schwabl, pimpinan studi seperti dikutip situs UEG.

Dari sampel tinja yang diuji, setidaknya terdapat 20 partikel mikroplastik pada setiap 10 gram tinja. Mikroplastik itu berukuran antara 0,05-0,5 milimeter dengan jenis plastik yang paling banyak ditemukan adalah polipropilena (PP) dan polietilena tereftalat (PET). Kedua plastik itu banyak digunakan untuk kemasan, wadah makanan, botol minuman, tekstil, campuran serat sintetis, hingga komponen otomotif.

Penyebaran
Plastik adalah penamaan umum untuk polimer, sebuah molekul sintetis rantai panjang berulang. Tiap rantai bisa terdiri atas ratusan sampai ribuan mata rantai. Rantai yang panjang itu membuat plastik punya sifat kuat, keras, dan tahan panas. Sifat itu membuat pemanfaatan plastik sangat beragam, mulai dari aneka peralatan rumah tangga hingga piranti teknik pengganti logam, keramik atau kaca.

KOMPAS/RIZA FATHONI–Pekerja memotong Flexible Packaging Film di salah satu pabrik plastik pembungkus di Purwakarta, Jawa Barat, Jumat (18/6/2010). Sifatnya yang kuat, lentur dan tahan panas membuat plastik dimanfaatkan untuk berbagai keperluan mulai dari alat rumah tangga hingga peralatan teknik.

Pengembangan dan penggunaan plastik secara luas baru dimulai tahun 1930-an. Di masa itu, produksi plastik global hanya beberapa ratus ton. Kini, dikutip dari situs World Economic Forum, produksi plastik telah mencapai 322 juta ton pada 2015.

China, Amerika Utara dan Eropa adalah penghasil plastik terbanyak di dunia. Sementara konsumen plastik terbanyak per kapita per tahun pada 2015 sesuai data EuroMap adalah Amerika Utara 80 kilogram, Eropa 65 kg dan China hampir 60 kg.

Buruknya pengelolaan sampah di daratan membuat tiap tahun, 8 juta ton atau 3 persen dari total sampah plastik mengalir ke laut (Jambeck dkk, 2015). Sebagian besar sampah plastik itu adalah plastik kemasan sekali pakai. Paparan sinar Matahari dan gelombang laut memecah plastik itu menjadi bulir-bulir kecil.

Buruknya pengelolaan sampah di daratan membuat tiap tahun, 8 juta ton atau 3 persen dari total sampah plastik mengalir ke laut.

Plastik yang tersebar di perairan akhirnya dikonsumsi berbagai fauna, mulai organisme kecil seperti plankton atau binatang berukuran besar seperti paus. Masuknya plastik dalam tubuh binatang laut itu membuka jalan bagi masuknya plastik ke tubuh manusia sebagai konsumen tertinggi dalam rantai makanan.

Nyatanya, plastik juga ditemukan pada feses penganut diet vegetarian. Plastik di tubuh mereka diduga masuk melalui air yang diminum atau plastik dari udara yang jatuh di air minum.

Serat plastik yang ada di air minum atau udara berasal dari pakaian berbahan poliester dan akrilik yang masuk ke lingkungan saat dicuci atau tindakan yang membuat serat plastik berguguran, seperti disentuh atau dikibaskan. Bulir halus plastik juga bisa berasal dari ban kendaraan, cat, hingga campuran plastik yang ada di sejumlah kosmetik.

Semua serat plastik super halus itu akhirnya masuk ke sistem air tanah. Tak heran jika studi Orb Media, organisasi media nirlaba di Amerika Serikat, pada 2017 menemukan 83 persen sampel air keran di berbagai negara terkontaminasi mikroplastik. Kontaminasi plastik tertinggi ditemukan di AS dan Lebanon. Sedang di Jakarta, 76 persen sampel air mengandung plastik.

Tak hanya air keran, mikroplastik juga ditemukan pada air minum kemasan. Investigasi Orb Media 2017 juga menemukan 93 persen sampel air minum kemasan dari 11 merek terkemuka di sembilan negara, termasuk Indonesia, mengandung plastik jenis PP, nilon, dan PET. Meski belum jelas asalnya, namun jenis plastik itu digunakan sebagai bahan pembuat botol dan tutup botol air minum kemasan.

Investigasi Orb Media 2017 juga menemukan 93 persen sampel air minum kemasan dari 11 merek terkemuka di sembilan negara, termasuk Indonesia, mengandung plastik jenis PP, nilon, dan PET.

KOMPAS/HERU SRI KUMORO (KUM)–Pekerja menata galon air minum di Kalibata, Jakarta, Senin (5/8/2013). Tak hanya air keran, air minum kemasan yang diteliti di sejumlah negara juga terbukti mengandung mikroplastik.

Sebaran plastik di beberapa sumber pangan itu membuat tubuh manusia pun akhirnya mengandung plastik. Manusia tak hanya memproduksi dan menggunakan plastik, namun akhirnya, juga memakannya.

“Salah urus plastik membuat manusia memakan sendiri limbahnya,” kata ekolog Universitas Toronto Kanada Chelsea Rochman dikutip dari nationalgeographic.com, 22 Oktober 2018.

Belum jelas
Meski keberadaan plastik dalam tubuh manusia adalah keniscayaan, dampak plastik bagi kesehatan manusia belum jelas. Belum ada bukti yang bisa memastikan bahwa mikroplastik memengaruhi kesehatan manusia. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) masih mengkajinya.

“Mengacu pada kandungan kimia plastik, maka pertanyaan dasarnya adalah apakah ada racun di dalamnya, sejauh mana komposisi itu bisa menarik material berbahaya dan bagaimana plastik memengaruhi tubuh. Belum banyak penelitian yang mengungkapkannya,” kata Bruce Gordon, koordinator kerja global untuk air dan sanitasi WHO seperti dikutip BBC, 15 Maret 2018.

Amy V Kontrick dalam Journal of Medical Toxicology, Juni 2018 menulis mikroplastik bisa melukai insang dan usus hingga mengganggu pola makan dan memicu kematian binatang laut. Senyawa kimia plastik bisa mengganggu sistem endokrin yang memengaruhi pertumbuhan dan reproduksi mereka. Plastik juga mampu menyerap bakteri dan bahan beracun, seperti pestisida dan sejumlah logam berat.

Keadaan itu membuat plastik bisa memengaruhi sistem pencernaan, mengubah keragaman mikrobioma tubuh, mengganggu metabolisme energi dan lemak, hingga memicu stres oksidatif atau berlebihannya jumlah radikal bebas di luar kemampuan tubuh menetralkannya.

KOMPAS/MACHRADIN WAHYUDI RITONGA–Direktur Klinik Harapan Sehat, Dokter Yusuf Nugraha memberikan penjelasan kepada pasien terkait program penukaran sepuluh botol plastik untuk voucher berobat gratis di ruang tunggu pasien klinik, Cianjur, Jawa Barat, Senin (16/7/2018). Pengelolaan sampah plastik yang baik bisa membantu mengurangi jumlah sampah plastik di alam.

Tak hanya via saluran pencernaan, plastik bisa masuk tubuh lewat saluran napas. Partikel plastik bisa mengiritasi saluran pernapasan, memapar paru-paru dengan senyawa kimia, hingga masuk ke pembuluh darah.

Semua dampak itu baru terbukti pada binatang, belum ada bukti kuat berdampak pada manusia. Meski demikian para ahli yakin, jika plastik berbahaya bagi binatang maka plastik berbahaya juga bagi manusia.

Sembari ahli mengkaji dampak plastik bagi kesehatan, manusia perlu mengubah perilaku memproduksi dan mengonsumsi plastik. Jika penggunaannya sulit dihindari, pengolahan kembali sampah plastik harus dipikirkan sejak plastik diproduksi.

KOMPAS/PRIYOMBODO–Berbagai bentuk kemasan plastik dipamerkan dalam pameran Plastics & Rubber Indonesia 2018 di Jakarta International Expo Kemayoran, Jakarta Pusat, Rabu (14/11/2018). Pemilihan plastik untuk wadah makanan dan minuman perlu memerhatikan kode keamanan (food grade) serta masa pakainya.

Selain itu, Yadi Haryadi dalam Keamanan Pangan Kemasan Plastik (2013) mengingatkan perlunya kehati-hatian menggunakan wadah plastik. Pemakaian plastik yang bersentuhan dengan makanan perlu memerhatikan kode keamanan (food grade) dan masa atau frekuensi pakainya.

Semua kebijakan itu diperlukan jika manusia tak ingin plastik yang digunakan akan ditelan sendiri. Bahkan, bisa jadi manusia akan terbunuh oleh limbahnya sendiri, sama seperti yang terjadi pada binatang laut tak berdosa.–M ZAID WAHYUDI

Sumber: Kompas, 9 Desember 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Ekuinoks September Tiba, Hari Tanpa Bayangan Kembali Terjadi

Matahari kembali tepat berada di atas garis khatulistiwa pada tanggal 21-24 September. Saat ini, semua ...

%d blogger menyukai ini: