Home / Berita / Mahasiswa Unsoed Kembangkan Teknologi Hibrida Atasi Wereng

Mahasiswa Unsoed Kembangkan Teknologi Hibrida Atasi Wereng

Mahasiswa Fakultas Pertanian dan Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto mengembangkan teknologi hibrida untuk mengatasi hama wereng. Teknologi ultrasonik dan lampu LED dikombinasikan untuk mencegah serangan wereng dengan cara yang ramah lingkungan karena menghindari pemakaian obat kimia.

“Gelombang ultrasonik membuat wereng yang tadinya terbang aktif maka bisa menjadi pasif atau gerakannya berkurang dan diam,” kata Hatika Rahmawan (21), mahasiswi Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Soedirman Purwokerto, di Desa Piasa Kulon, Kecamatan Somagede, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Senin (16/7/2018).

Hatika bersama dengan Ria Elsani (21) yang juga berasal dari Jurusan Agroteknologi Fakultas Pertanian serta Aris Budiyanto (22), Muhammad Yusuf Fadillah (20), dan Imaludin Sopandi (21) dari Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Jenderal Soedirman mengembangkan teknologi hibrida yang disebut dengan Teknologi Hibrida Ultrasonik-LED (light-emitting diode). Mereka mengembangkan alat itu melalui Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat (PKM-M) yang didanai oleh Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi.

KOMPAS/MEGANDIKA WICAKSONO–Alat penghalau wereng karya mahasiswa Univesitas Jenderal Soedirman Purwokerto yang memanfaatkan teknologi hibida ultrasonik-LED, Senin (16/7/2018), dikembangkan dan diuji coba di Desa Piasa Kulon, Somagede, Banyumas, Jawa Tengah.

Hatika memaparkan, teknologi gelombang ultrasonik itu diatur pada frekunesi 5-128 kHz (kilohertz) dan dapat menjangkau areal persawahan dalam radius 3.846 meter persegi. “Gelombang ultrasonik ini dinyalakan pada siang hari dan dapat mengganggu wereng sehingga mencegahnya untuk mendekat atau memakan tanaman padi di sawah,” katanya.

Elsani menambahkan, alat yang dikembangkan ini juga dapat diatur frekuensinya, misalnya frekuensi 40 kHz untuk menghalau hama wereng, frekuensi 20 kHz dapat menghalau burung, dan frekuensi 50 kHz dapat menghalau tikus. “Alat ini dapat disesuaikan sesuai kebutuhan di lapangan,” ujar Elsani.

Elsani mengatakan, selain gelombang ultrasonik, alat ini juga dilengkapi dengan lampu LED 5 Watt. Lampu yang juga dilengkapi dengan kotak perangkap serangga dinyalakan pada malam hari dan menarik wereng untuk mendekat cahaya.

“Salah satu sifat wereng adalah mendekati cahaya. Wereng atau serangga yang terjebak dalam perangkap tidak bisa keluar lagi,” kata Elsani.

Pengembangan penelitian
Menurut Elsani, teknologi kombinasi tersebut dikembangkan dari penelitian sebelumnya, yaitu penelitian “Sistem Proteksi Tanaman Padi dari Serangan Hama Wereng menggunakan Gelombang Ultrasonik dan Penunjuk Arah Angin” dari Rian Agusdian, Firda Agung R, dan Widayanti mahasiswa dari Jurusan Fisika Fakultas Sains dan Teknologi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan penelitian “Rancang Bangun Alat Pengendali Hama Wereng Mekanik Menggunakan LED dan Alat Penyedot” dari Satria Pinandita yang diterbitkan di Jurnal Nasional Teknik Elektro dan Teknologi Informasi (JNTETI) Universitas Gadjah Mada.

Aris mengatakan, biaya pembuatan alat kombinasi gelombang ultrasonik dan lampu LED ini mencapai Rp 4 juta serta diperkirakan mampu digunakan hingga 5 tahun ke depan. “Dengan bahan besi galvalum setinggi 3 meter, alat ini dilengkapi panel surya dan aki sehingga dapat dipasang di tengah sawah tanpa harus menarik kabel dari rumah,” katanya.

Ke depan, kata Elsani, alat ini masih akan terus dikembangkan dan diteliti lebih lanjut terkait imunitas atau kekebalan wereng atau tikus terhadap gelombang ultrasonik. Para mahasiswa berharap alat itu dapat diproduksi secara massal dan efektif membantu petani menghalau hama.

Sutiyono (60) anggota Kelompok Tani Organik Ngudi Meratani di Desa Piasa Kulon menyampaikan, meskipun sudah menanam padi secara organik, tahun lalu serangan hama wereng tetap merusak sawahnya seluas 1.400 meter persegi. Akibatnya panennya berkurang 50 persen.

“Biasanya saat tidak terkena wereng, panen bisa mencapai 8 kuintal. Tapi tahun lalu hanya bisa panen 3,5 kuintal. Akar dan batang rusak akibat wereng,” katanya.

Saat ini, setelah adanya alat dari mahasiswa Unsoed itu, kata Sutiyono, tanaman padinya yang berusia 2,5 bulan masih aman dari hama. “Ini sekarang belum ada wereng. Belalang saja tidak ada. Semoga hasilnya baik,” ujarnya.

Kepala Desa Piasa Kulon Ratno mengatakan, luas sawah di desanya mencapai 101 hektar dan pada saat hama wereng menyerang tahun lalu, sebanyak 90 persen tanaman padi rusak dan gagal panen. “Semoga alat ini bisa mengendalikan hama wereng dan petani bisa panen dengan optimal,” ujar Ratno.

Ardiansyah pengajar di Jurusan Teknik Pertanian Fakultas Pertanian Unsoed yang juga menjadi pembimbing para mahasiswa mengatakan, teknologi hibrida ini ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan kimia yang membahayakan kesehatan manusia dan tidak mencemari lingkungan.–MEGANDIKA WICAKSONO

Sumber: Kompas, 17 Juli 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: