Madura di Mata Guru Besar UTM Profesor Khoirul Rosyadi, Perubahan Sosial Lunturkan Kebudayaan Taretan Dibi’

- Editor

Selasa, 21 November 2023

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sebagai orang yang hidup di desa, Khoirul Rosyadi tidak terlepas dari pelajaran agama yang cukup kental.

Saat menempuh pendidikan SMP, dia sembari ngaji di Pondok Pesantren (Ponpes) KH Mohammad Kholil Gresik. Salah satu ponpes yang didirikan oleh murid KH Muhammad Kholil Bangkalan.

”Kalau siang, saya sekolah SMP-nya di SMP NU 2 Gresik. Malam dan paginya saya ngaji di Ponpes KH Mohamamd Kholil Gresik,” kenangnya kepada Jawa Pos Radar Madura (JPRM) Senin (9/10).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Setelah lulus SMP, dia melanjutkan ke SMAN Sidayu, Gresik. Dalam waktu bersamaan, dia nyantri di Ponpes Baiturrahim, Kecamatan Bungah, Gresik. Pada 1993, lulus SMA, lalu melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.

RAMAH: Profesor Khoirul Rosyadi menunjukkan buku tentang budaya Madura di ruang kerjanya, Senin (9/10). (ZEINAL ABIDIN/JPRM)

Dia diterima sebagai mahasiswa di Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta melalui jalur Penelusuran Bibit Unggul Daerah (PBUD).

Saat itu, dia diterima di jurusan filsafat. Selama kuliah, Rosyadi aktif di pers mahasiswa Balairung UGM hingga lulus.

”Proses intelektual saya sebenarnya banyak dibangun dan dibentuk di pers mahasiswa,” katanya.

Setelah lulus, pria berkacamata itu melanjutkan pascasarjana di kampus yang sama. Tepat 1998, Rosyadi melanjutkan studi di jurusan sosiolosi UGM dan 2001 dia dinyatakan lulus S-2.

Setelah lulus, Rosyadi juga sempat bekerja sebagai wartawan majalah Forum Keadilan, Jakarta. Namun, oleh keluarganya diminta menjadi guru. Karena itu, dia melamar jadi dosen. Pada 2001, dia diterima di Universitas Airlangga (Unair).

Akhir 2002, dia ditelepon Mutmainnah, dosen sosiologi Universitas Trunojoyo Madura (UTM) yang juga teman karibnya saat kuliah di UGM.

Dia diminta untuk mengajar di Prodi Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Budaya (FISIB) UTM. Tidak lama kemudian, Rosyadi diterima melanjutkan kuliah di sosiologi RUDN Moscow, Rusia.

Saat melanjutkan studi di Rusia, dia menjabat sebagai ketua tanfidziyah PCINU Rusia pada 2010–2012.

Kemudian, kembali ke UTM pada 2014 dan mulai aktif mengajar kembali. Saat ini diberi amanah sebagai wakil dekan III FISIB UTM.

Hampir 20 tahun dia mengabdi di UTM hingga menyandang guru besar.

”Jalani semuanya dengan ikhlas dan istiqamah meskipun banyak dinamika dalam setiap proses,” ucapnya.

Konsistensi dan keistiqamahan Rosyadi patut menjadi teladan bagi mahasiswa. Pria kelahiran Gresik, 12 April 1974, itu belum lama ini dinobatkan sebagai guru besar ilmu sosiologi di UTM.

Dalam catatan hidup Rosyadi tidak pernah terlintas untuk menjadi guru besar. Semua itu mengalir laksana air meskipun proses yang dilalui tidak mudah.

Selama menjadi dosen sosiologi UTM, Rosyadi konsentrasi meneliti kebudayaan Madura. Khususnya, penelitian berkenaan dengan sosiologi ekonomi dan sosial kapital. Menurut dia, masyarakat Madura mengalami banyak perubahan di bidang sosial.

”Harusnya, sosiologi ini menjadi kekuatan di luar modal ekonomi untuk menciptakan masyarakat yang lebih makmur dan sejahtera,” terangnya.

Faktanya, kata dia, masyarakat Madura memiliki problematika sosial kemiskinan. Meskipun pada kenyataannya, secara sosial kapital masyarakat Madura sangat mampu.

Hal itu disebabkan oleh kesenjangan yang mengakibatkan watak individualisme masyarakat. Hal tersebut bisa terjadi karena pengaruh teknologi dan kebudayaan populer.

”Kebudayaan taretan dibi’ itu sudah mulai luntur akibat pengaruh beberapa hal tadi,” urainya.

Untuk mengatasi kesenjangan sosial di Madura, dia menyarankan agar ada peran masyarakat kelas menengah. Meliputi kiai, tokoh masyarakat, serta kaum intelektual dan ekonomi kelas menengah.

”Kesadaran sosial masyarakat kelas menengah ini sangat penting dengan melakukan gerakan yang berpihak pada masyarakat kelas menengah ke bawah untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan yang merata,” papar penulis buku Budaya Pasar Madura Eksotisme, Kapitalisme, dan Moralitas Pasar Tradisional itu. (za/luq)

Berta SL Danafia

Sumber: RadarMadura.id – Rabu, 11 Oktober 2023

Informasi terkait

Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Titik Temu di Ujung Semesta
Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains
Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern
Menyusuri Jejak Awal Semesta
Memahami Manusia dari Dua Jalan
Kosmologi Sebuah Upaya Memahami Kosmos dan Memahami Keberadaan
Berita ini 148 kali dibaca

Informasi terkait

Kamis, 25 Juni 2026 - 20:11 WIB

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Juni 2026 - 14:21 WIB

Padamnya Lentera Malam

Senin, 22 Juni 2026 - 15:10 WIB

Titik Temu di Ujung Semesta

Minggu, 21 Juni 2026 - 09:56 WIB

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Sabtu, 20 Juni 2026 - 20:51 WIB

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Berita Terbaru

Artikel

Batas yang Menentukan Nasib Bintang

Kamis, 25 Jun 2026 - 20:11 WIB

Artikel

Padamnya Lentera Malam

Kamis, 25 Jun 2026 - 14:21 WIB

Artikel

Titik Temu di Ujung Semesta

Senin, 22 Jun 2026 - 15:10 WIB

Artikel

Keajaiban Makhluk Kecil yang Menggetarkan Dunia Sains

Minggu, 21 Jun 2026 - 09:56 WIB

Artikel

Membaca Rahasia Langit Melalui Al-Qur’an dan Sains Modern

Sabtu, 20 Jun 2026 - 20:51 WIB