Lakukan Kontekstualisasi pada Kitab Kuning

- Editor

Senin, 4 April 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Tradisi membaca dan mempelajari Kitab Ihya Ulumuddin atau Kitab Kuning di kalangan santri di pondok pesantren semakin terpinggirkan. Padahal, di dalam Kitab Kuning dapat ditemui sejumlah pengetahuan yang berguna untuk menjawab tantangan masa kini.

“Para santri di pondok pesantren harus optimistis. Bahkan, jika mampu melakukan kontekstualisasi atas ilmu-ilmu di dalam Kitab Kuning, yakinlah kelak santri akan menjadi pribadi yang berguna di masyarakat,” kata Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Sabtu (2/4), di Kaliwungu, Kendal, Jawa Tengah. Saat itu, ia datang menghadiri Musabaqoh Qiroatul Kitab Kuning di Pondok Pesantren Al-Fadlu wal Fadilah.

Musabaqoh Kitab Kuning diikuti utusan santri dan santriwati dari sejumlah pondok pesantren serta perguruan tinggi agama Islam di 11 kabupaten dan kota. Total ada 84 peserta. Kegiatan di Ponpes Al-Fadlu wal Fadilah Kaliwungu akan dilanjutkan di Ponpes API Tegalrejo, Magelang; Ponpes Al Ihya Ulumaddin Kesugihan, Cilacap; serta PP Al Hikmah Benda, Sirampog, Brebes.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Imam hadir didampingi Wakil Ketua Dewan Syuro DPP Partai Kebangkitan Bangsa KH Badawi Basyir, pengasuh Ponpes Al-Fadlu wal Fadilah KH Alamudin Dimyati Rois, serta pemimpin Ponpes Al-Fadlu wal Fadilah KH Dimyati Rois.

Menurut Imam, tradisi mengkaji Kitab Kuning di kalangan kaum muda, khususnya santri di pondok pesantren, harus dihidupkan kembali. Tradisi ini dapat menangkal ekses kehidupan yang semakin kapitalis dan berbagai problem di masyarakat yang tidak lagi berpegang teguh pada Ahlus Sunnah Wal Jama’ah.

Kitab Kuning, misalnya, sudah mengajarkan pentingnya ekonomi syariah sebagai salah satu solusi bagi problem kemiskinan. Keberadaan bank-bank syariah dinilai merupakan bagian dari kontekstualisasi kajian pengetahuan di dalam Kitab Kuning.

Alamudin menyatakan, kegiatan musabaqoh Kitab Kuning menjadi bagian dari upaya mengajak para santri untuk melakukan kontekstualisasi terhadap ajaran-ajaran Islam di tengah kebutuhan kehidupan saat ini. Kitab Kuning dinilai mengajarkan banyak hal yang bermanfaat bagi kehidupan manusia.

Pengajaran itu meliputi antara lain politik, ekonomi, ilmu kesehatan, dan matematika. “Jika santri mampu mempelajari dan mempraktikkan dalam hidupnya, tentu santri tak perlu pesimistis dalam hidup ini,” ujar Alamudin yang akrab disapa Gus Alam.

Sementara Dimyati Rois menyebutkan, pengajaran politik dalam Kitab Kuning sangat relevan. Politik disebutkan tiada lain usaha-usaha yang diperlukan manusia untuk memperoleh keselamatan.

Politik pada hakikatnya adalah baik. Karena itu, jangan sampai, dengan politik, justru berlangsung praktik-praktik yang dapat merusak kehidupan.(WHO)
————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 4 April 2016, di halaman 12 dengan judul “Lakukan Kontekstualisasi pada Kitab Kuning”.

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi
Dari Molekul hingga Krisis Ekologis
Galodo dan Ingatan Air
Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri
Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?
Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan
Gen, Data, dan Wahyu
Bobibos: Api Kecil dari Sebuah Gudang Jerami
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Jumat, 23 Januari 2026 - 20:18 WIB

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Minggu, 18 Januari 2026 - 17:45 WIB

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Senin, 29 Desember 2025 - 19:06 WIB

Ketika Kereta Menghasilkan Listriknya Sendiri

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:41 WIB

Siapa yang Berhak Menyebut Ilmu?

Jumat, 26 Desember 2025 - 11:38 WIB

Ketika Forensik Digital Bertemu Kekuasaan

Berita Terbaru

Artikel

Klip Kertas dan Dunia yang Terjepit Rapi

Jumat, 23 Jan 2026 - 20:18 WIB

Artikel

Apakah Mobil Listrik Solusi untuk Kemacetan?

Kamis, 22 Jan 2026 - 11:08 WIB

Artikel

Manusia, Tanah, dan Cara Kita Keliru Membaca Wahyu

Kamis, 22 Jan 2026 - 10:52 WIB

industri

Dari Molekul hingga Krisis Ekologis

Minggu, 18 Jan 2026 - 17:45 WIB