Home / Berita / Laboratorium BSL-3; Andal Mengendus Keganasan Virus

Laboratorium BSL-3; Andal Mengendus Keganasan Virus

Salah satu fasilitas yang penting dalam penanggulangan penyakit menular yang mewabah adalah laboratorium untuk mendiagnosis mikroorganisme penyebab penyakit. Tanpa laboratorium yang memenuhi unsur keselamatan biologi tinggi, ketahanan sistem kesehatan negara belum lengkap. Seiring merebaknya virus ebola di Afrika Barat, kesiapan laboratorium itu makin dibutuhkan.

Di Indonesia, Kementerian Kesehatan mengandalkan laboratorium dengan tingkat keamanan biologi level tiga (BSL-3) di Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balitbangkes). Hal itu untuk mendukung penanggulangan penyakit jika ada wabah.

Menurut panduan keamanan biologi laboratorium Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2004, ada 4 level keamanan biologi pada laboratorium. Laboratorium BSL-4, level tertinggi, difungsikan untuk meneliti mikroorganisme paling berbahaya, yakni berisiko tinggi bagi individu dan komunitas di sekitar individu itu. Ebola tergolong mikroorganisme yang hanya boleh diteliti di laboratorium itu. Di Indonesia, belum ada satu pun laboratorium BSL-4.

Indonesia yang berpengalaman menanggulangi flu burung mempunyai laboratorium BSL-3. Laboratorium ini yang jadi andalan jika ada wabah penyakit. Kini, ada sejumlah lembaga yang memiliki laboratorium BSL-3 di Indonesia, di antaranya Balitbangkes, Institute of Human Virology and Cancer Biology (IHVCB) Universitas Indonesia (UI), Institut Penyakit Tropis Universitas Airlangga, Surabaya, dan Lembaga Biologi Molekuler Eijkman.

PrintManajer Fasilitas Laboratorium BSL-3 Lembaga Eijkman Wanny Basuki, Jumat (22/8), menjelaskan, penamaan BSL lebih bernuansa Amerika. Oleh karena, di Inggris, misalnya, memiliki penamaan sendiri, yakni CL atau containment laboratory.

Perbedaan level
Lalu apa yang membedakan BSL-1, 2, 3, dan 4? Kepala Pusat Biomedis dan Teknologi Dasar Kesehatan Balitbangkes Pretty Multihartina menjelaskan, prinsip penentuan level keamanan biologi adalah sistem di fasilitas riset mikroorganisme yang menjamin keamanan dari bahaya infeksi, terutama jika mikroorganisme berbahaya. Jadi, BSL ditetapkan pada fasilitas pembiakan mikroorganisme untuk riset, terutama vaksin.

Menurut Wanny, perbedaan level keamanan biologi antarlaboratorium berdasarkan aktivitas dan sifat mikroorganisme yang bisa dikerjakan di laboratorium. Dari sisi peralatan, di BSL-1, hanya ada alat minimal yang dibutuhkan laboratorium, misalnya alat sentrifugasi guna mengendapkan larutan protein atau deoxyribonucleic acid (DNA).

Mikroorganisme yang dikerjakan di dalam laboratorium level itu tak berbahaya, dalam artian tak menimbulkan gangguan kesehatan bagi manusia dan lingkungan sekitar. ”Paling kalau tertelan akan mulas, misalnya bakteri e-coli,” kata Wanny.

Permukaan lantai, meja, pintu, dinding, di laboratorium BSL-1 harus mudah dibersihkan. Jadi, jika ada sampel penelitian tumpah, bisa mudah dibersihkan. Jendela laboratorium level ini harus ditutup. Tempat mencuci tangan juga harus tersedia. Alat pelindung diri peneliti yang bekerja di laboratorium BSL-1 tak terlalu rumit dan ketat. Dengan hanya memakai baju laboratorium biasa, peneliti bisa bekerja di laboratorium.

Pada laboratorium BSL-2, ada semua peralatan pada BSL-1 ditambah alat kerja kabinet keselamatan biologi (biosafety cabinet). Aktivitas yang bisa dikerjakan di laboratorium level ini adalah pekerjaan bersifat diagnostik atau ekstraksi bahan berbahaya. Salah satu bakteri yang bisa dikerjakan di laboratorium itu adalah Bacillus anthracis penyebab antraks.

Akan tetapi, jika aktivitas yang dilakukan pada bakteri antraks adalah kultur atau perbanyakan, maka harus dilakukan di laboratorium BSL-3 karena lebih berbahaya. Bakteri hasil kultur bisa disimpan di laboratorium BSL-3. Ini yang membedakan BSL-2 dengan BSL-3.

Peneliti yang bekerja pada BSL-2 harus mengenakan alat pelindung diri lebih banyak dibandingkan bekerja di BSL-1, yaitu baju laboratorium, kacamata (goggles), dan sarung tangan nitril yang memiliki pori-pori lebih kecil dibandingkan sarung tangan lateks biasa.

BSL-2 juga harus dilengkapi alat untuk mensterilkan peralatan, perlengkapan, dan sampah dari dalam laboratorium yang disebut autoclave. Alat itu memanfaatkan tekanan uap 121 derajat celsius selama 15 menit untuk mendekontaminasi alat atau sampah kerja di laboratorium. Setelah melalui alat itu, sampah bisa dibuang ke luar.

BSL-3
Adapun BSL-3 merupakan laboratorium yang memiliki fasilitas BSL-2, ditambah fasilitas penyimpanan mikroorganisme dan ada inkubator. Menurut Wanny, BSL-3 umumnya menangani agen infeksius, yang berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan serta menular lewat udara, misalnya bakteri tuberkulosis dan virus flu burung.

Oleh karena itu, mereka yang masuk ke laboratorium BSL-3 harus mendapat pelatihan khusus. Alat kelengkapan diri yang dipakai lebih ketat, berupa baju khusus yang menutupi seluruh badan, seperti baju montir, alat pernapasan dengan penyaring udara yang dihubungkan dengan baju, dua lapis sarung tangan nitril, dan pelindung kaki.

Udara yang ada di dalam BSL-3 juga tak sembarangan. Aliran udara harus negatif, diatur pada tekanan -60 pascal. Sirkulasi udara pun disaring oleh lapisan HEPA (high efficiency particulate air). Lapisan itu mampu menyaring partikel berukuran di bawah 0,3 mikron. ”Efisiensi filter HEPA yang dibutuhkan BSL-3 harus 99,9997 persen. Jika lapisan ini rusak, biaya penggantian bisa ratusan juta rupiah,” tutur Wanny.

Pretty menambahkan, standar keamanan BSL-3 sudah canggih. Pengaturan tekanan udara pada beberapa lapis ruangan laboratorium membuat udara hanya mengalir ke satu arah, yaitu ke dalam laboratorium. ”Jadi, kontaminasi mikroorganisme tersedot ke arah dalam. Ini memastikan udara di luar laboratorium BSL-3 tak terkontaminasi,” katanya.

Untuk menambah keamanan, ada teknologi yang tak memungkinkan satu pintu terbuka sebelum pintu sebelumnya ditutup. ”Sebelum pintu yang satu tertutup, pintu lain tak akan bisa dibuka. Kontaminasi virus semakin sulit keluar,” ujarnya.

Menurut Wanny, ada juga BSL-3 yang dilengkapi pengamanan sistem terkomputerisasi atau dengan manual yang memanfaatkan pesan singkat pada telepon genggam. Pada sistem yang disebut terakhir itu, sistem akan mengirim pesan singkat kepada petugas jika ada alat tak berfungsi baik atau indikator standar keamanan terganggu.

Meski biaya perawatannya amat mahal, keberadaan laboratorium BSL-3 menjadi aspek yang menguatkan sistem kesehatan nasional untuk mencegah, mendeteksi, dan merespons kemunculan wabah penyakit. Satu hal penting adalah, aspek keamanan dari laboratorium itu harus tetap terjaga. (A03)

Oleh: ADHITYA RAMADHAN

Sumber: Kompas, 24 Agustsu 2014

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: