Home / Artikel / Kursi Lontar, Peranti Penyelamat Sang Pilot

Kursi Lontar, Peranti Penyelamat Sang Pilot

Kecelakaan pesawat terjadi lagi 16 Oktober lalu. Pesawat tempur Hawk 200 milik TNI Angkatan Udara jatuh di Riau. Berdasarkan keterangan pilot Letnan Dua Reza Yori Prasetyo, pesawat jatuh karena kerusakan mesin. Pilot selamat, karena dapat keluar dari pesawat melalui kursi pelontar.

Pada umumnya, pesawat tempur didesain memiliki kursi pelontar (ejection seat) yang berfungsi untuk menyelamatkan pilot saat terjadi kecelakaan atau juga dalam situasi sulit yang terjadi di pesawat.

Sampai saat ini, penggunaan kursi lontar masih didominasi pesawat tempur. Sementara untuk pesawat helikopter, penggunaan masih terbatas pada helikopter Kamov Ka-50 Hokum dengan kursi lontar Zvesda-K-37-800.

Keterbatasan penggunaan kursi lontar pada helikopter dikarenakan bobot kursi lontar yang umumnya pada kisaran 90 kilogram.  Selain itu, baling-baling rotor helikopter juga  menyulitkan proses pelepasan kursi lontar. Di samping itu, otorotasi tidak bisa dilaksanakan jika terbang berada pada ketinggian di bawah 300 meter, sedangkan helikopter umumnya terbang sangat rendah.

Untuk pesawat sipil, kursi lontar belum dapat diterapkan. Selain karena teknologinya, juga mempertimbangkan faktor keselamatan, mengingat penggunaan kursi lontar dapat membahayakan penggunanya bila dilakukan tidak tepat.

Kursi Lontar Pertama

Penemuan kursi lontar berawal dari upaya penyelamatan penerbang, baik pada masa damai maupun pada masa perang. Hal ini disebabkan karena penerbang, khususnya yang sudah cukup andal, adalah aset dalam sebuah angkatan udara dan memerlukan waktu yang cukup lama untuk menjadikannya sebuah penerbang yang berpengalaman.

Beberapa angkatan bersenjata di dunia, khususnya yang cukup berpengalaman, memiliki prosedur yang baik dalam manajemen penyelamatan. Disebut-sebut Luftwaffe (Angkatan Udara Jerman) dan Royal Air Force Inggris dalam Perang Dunia II, memiliki manajemen penyalamatan penerbang yang cukup baik.

Pada umumnya, setiap penerbang dilengkapi dengan parasut yang bekerja cukup baik. Namun ketika pesawat tempur dirancang semakin gesit, penerbang sukar untuk menyelematkan dirinya ketika pesawat tersebut rusak, terutama ketika terkena tembakan lawan. Penerbang baru bisa keluar setelah berusaha dengan susah payah membuka pintu kokpit pesawat selama beberapa puluh detik. Meski berhasil, adakalanya penerbang mengalami nahas terkena hantaman ekor pesawat ketika berusaha keluar dari kursinya melawan arus angin. Langkah yang dilakukan umumnya, pilot menukikkan pesawat, membuka kokpit dan melepas sabuknya, lalu melepaskan tongkat kemudi.

Adakalanya penerbang langsung meloncat dari pesawat yang mengalami kerusakan atau terkena tembakan. Tercatat pada bulan Januari 1942, Letnan Chisov dari Angkatan Udara Uni Soviet meloncat dari pesawat Ilyushin II-A yang rusak berat dengan ketinggian 6700 meter. Dia mengalami patah pada bagian pinggul dan cedera pada tulang punggung. Sementara Sersan Alkemande dari Royal Air Force mengalami keberuntungan ketika meloncat dari pesawat Pembom Lanchaster yang terbakar pada ketinggian 5500 meter pada bulan Maret 1944. Karena tertahan pohon pinus dan jatuh pada lapisan es setebal 40 sentimeter, Alkemande hanya mengalami benjol dan tergores.

Kursi lontar pertama diterapkan pada pesawat Heinkel He-119. Kursi lontar ini ditekan oleh udara. Pesawat ini memang populer pada penerbangan uji coba, namun karena jumlahnya sedikit, prestasi kursi lontarnya tidak diketahui.

James Martin dari Inggris merancang sistem pengaman yang lain. Dalam konsepnya, pilot dilontarkan keluar kokpit oleh lengan panjang yang digerakkan oleh pegas yang dipasangkan pada harnas parasutnya. Mekanisme ini cocok untuk dipasang pada pesawt Spitfire dan Hurricanes, tapi tidak cocok untuk pesawat modern. Pesawat Jet mengharuskan daya lontar besar sehingga Martin memilih mekanisme dengan menggunakan dinamit.

Peluncuran kursi lontar pertama, tercatat pada tanggal 24 Juli 1946, oleh Bernard Linch, salah seorang karyawan Martin-Baker. Linch dilontarkan secara sukarela dengan kursi lontarnya pada ketinggian 2600 meter dengan kecepatan 253 km/jam dari pesawat tempur Gloster Meteor. Sejak itu, kursi lontar Martin-Baker menjadi populer di seluruh dunia. (24)

Faisal, penulis lepas, tinggal di Semarang

———–

Diawali dari Penarikan Pemantik

SISTEM kerja kursi lontar mengikuti bentuk kokpit pesawat tempur yang diaplikasikannya. Pada kokpit pesawat tempur klasik, di mana atap dan kaca depan terpisah, seperti pada F-5 Tiger II, MiG-29 Fullchrum, atau pesawat latih jenis Hawk 100, pilot duduk di belakang kaca depan yang menahan angin (windshield) dan benturan burung di udara. Atapnya tipis, sehingga kursi lontar bisa langsung menembusnya.

Umumnya, pesawat-pesawat ini, pada kokpitnya dilengkapi tali tembak seperti pada pesawat Hawk Mk-53, Hawk 100, ataupun Hawk 200 dan Alpha Jet. Jika kursi lontar diaktifkan, timbul api yang memecahkan atap dalam pecahan-pecahan kecil yang ditiup keluar untuk menjauhi pesawat sehingga kursi lontar dapat meluncur dengan aman. Kekurangan dari penerapan teknologi ini adalah pada atap pesawat, khususnya pesawat tempur latih, di mana instruktur duduk di bagian belakang.

Sementara pada model F-16, atap dan kaca depan kokpit menjadi satu kesatuan, sehingga cukup kuat menahan benturan, tetapi pandangan pilot tidak dibatasi pembatas antara kaca depan dan atapnya. Dalam penggunaan kursi lontar, ketika kursi diaktifkan, atap terlontar ke udara sebelum kursi lontar tersebut meluncur.

Adapun langkah-langkah peluncuran secara umum adalah sebagai berikut.

Pertama, penumpang menarik pemantik, alat peledak pertama menyala selama sabuk pengaman dan sabuk kaki mengencang secara otomatis dalam 0,2 detik (dapat juga dengan sabuk yang mengikat lengan), kursi mulai berakselerasi. Gaya gravitasi maksimum yang dialami dapat mencapai 17 G sehingga dalam waktu singkat pilot harus dapat menopang 17 kali berat badannya.

Ledakan Pertama

Bersamaan dengan ledakan pertama, ada dua ledakan lain. Hubungan dengan pesawat terlepas, botol atau tabung zat asam (oksigen) darurat membuka. Kabel penyulut motor roket meluncur turun dan penghubung pada sabuk kaki putus. Atap kokpit yang disesuaikan pada tipe pesawat dilepaskan, dipecah atau diledakkan dengan tali tembak.

Kedua, setelah mencapai ketinggian dua meter, kursi sampai pada ujung pipa tembak yang dapat digeser yang merupakan tempat kekuatan ledak disatukan. Kabel peledak lepas dan motor roket pada kursi lontar mulai berjalan. Pada 0,25 detik setelah awal peluncuran, motor roket akan habis terbakar. Ketiga, setengah detik setelah pergerakan kursi, payung stabilisasi lepas. Payung kecil menarik payung besar keluar. Kecepatan terbang kursi menurun.

Keempat, satu setengah detik setelah start, atau ketinggian aman telah tercapai, skakelar waktu/baromatis melepaskan penumpang dari kursi. Pada saat yang sama, daya tarik payung stabilisasi diteruskan ke payung besar.

Kelima, selama parasut besar mengembang, kursi menahan muatannya dengan pelekat. Kalau payung sudah membuka, kursi lepas dengan cepat. Waktu turun, kursi masih bisa menyetel paket penyelamat sehingga rakit penyelamat otomatis tertiup bila harus mendarat di atas air. Pelampung renang bisa ditiup saat kursi lepas. (Faisal-24)

Sumber: Suara Merdeka, 29 Oktober 2012

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Masa Depan Pendidikan Tinggi dan Universitas

Banyak ahli membayangkan sebuah dunia di mana universitas dan perusahaan bekerja sama untuk menata kembali ...