KTP-el Bisa Jadi Alat Otentikasi Penduduk

- Editor

Selasa, 5 Desember 2017

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kartu tanda penduduk elektronik dapat dioptimalkan fungsinya, tidak hanya sebagai alat bukti identitas penduduk, tetapi juga dapat menjadi alat otentikasi penduduk dalam menerima layanan publik. Layanan publik ini seperti layanan kesehatan, perbankan, subsidi nontunai, dan verifikasi calon pemilih pada pemilihan kepala desa.

Pengkajian optimalisasi pemanfaatan KTP elektronik (KTP-el) dilakukan di Laboratorium Teknologi Informasi dan Komunikasi Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Selain itu juga dikaji sistem pengaman agar kartu elektronik ini tidak disalahgunakan.

“Jika KTP elektronik sudah dapat digunakan untuk urusan perbankan, pelayanan publik akan semakin mudah,” kata Deputi Teknologi Informasi Energi dan Material BPPT Hammam Riza, Selasa (28/11), di Jakarta. Dalam hal ini, katanya, data yang tersimpan dapat digunakan untuk verifikasi identitas pemegang kartu sebagai nasabah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Penggunaan KTP-el di Indonesia, lanjut Hammam, juga berpotensi membesarkan industri nasional, antara lain dalam pembuatan cip, alat baca KTP-el, dan bahan baku kartu KTP-el.

Untuk meningkatkan kemanfaatan KTP-el, Hammam mengatakan, pihaknya siap mendukung industri lokal dan pemangku kepentingan lain untuk dapat bersinergi dengan swasta dalam meningkatkan pemanfaatan KTP elektronik.

“Kartu elektronik ini memiliki sistem pengaman yang baik, yaitu biometrik sidik jari,” kata perekayasa teknologi informasi dan komunikasi BPPT, Anto Satriyo Nugroho.

Verifikasi identitas
Teknologi ini digunakan dalam verifikasi identitas penduduk. Untuk itu, kata Anto, biometrik sidik jari diterapkan pada perangkat pembaca KTP-el. Dengan sarana ini, identitas penduduk yang tertulis pada kartu dapat dipastikan kebenarannya dengan memadankan sidik jarinya dengan data sidik jari yang tersimpan dalam cip di KTP-el.

Pada KTP-el data biometrik penduduk meliputi data sidik 10 jari, data iris mata, dan wajah. Data ini direkam dan dikirimkan ke data center untuk dilakukan pencocokan dengan seluruh data penduduk Indonesia yang telah melakukan perekaman. Dalam cip KTP-el, informasi sidik jari kiri dan kanan disimpan dengan mengacu pada aturan standar internasional ISO/IEC 19794-2 (ISO template).

Perbedaan representasi antara proprietary template dan ISO template ada pada tujuannya. Proprietary template ditujukan untuk memaksimalkan kinerja tahap pencocokan data. Sedangkan ISO template ditujukan untuk kepentingan interoperabilitas.

Dalam pengujian berskala besar yang dilakukan oleh National Institute of Standars and Technology, MINEX (Minutiae Interoperability Exchange Test), proprietary template memperlihatkan kinerja lebih baik dibandingkan dengan template standar. Karena itu, dalam penyimpanan di cip, standar ISO/IEC 19794-2 dijadikan acuan sehingga semua pihak lain dapat membacanya.

Data yang disimpan dalam cip KTP elektronik bukan citra sidik jari, melainkan informasi titik-titik minutiae pada sidik jari, antara lain koordinat x, y pada citra, orientasi dan tipe minutiae. Minutiae adalah titik-titik perhentian atau percabangan garis pada sidik jari yang jumlahnya bervariasi.

Apabila terjadi kegagalan dalam pencocokan, bisa jadi karena sidik jari pada cip dan iris berasal dari orang yang berbeda. Hal ini, menurut Anto, sangat sulit untuk terjadi selama proses pemasukan data biometrik berlangsung dengan benar, sesuai dengan prosedur standar operasi (SOP).(YUN)

Sumber: Kompas, 29 November 2017

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern
Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia
Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara
Menjadi Ilmuwan Politik di Era Digital. Lebih dari Sekadar Hafalan Tata Negara
Saksi Bisu di Balik Lensa. Otopsi Bioteknologi Purba dalam Perburuan Minyak Bumi
Drama Jutaan Tahun di Balik Tangki BBM Anda: Saat Lempeng Bumi Menulis Peta Kekayaan Indonesia
Berita ini 14 kali dibaca

Informasi terkait

Senin, 20 April 2026 - 07:37 WIB

Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi

Minggu, 19 April 2026 - 08:06 WIB

Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?

Sabtu, 18 April 2026 - 20:45 WIB

Bilangan Imajiner, “Angka Khayalan” yang Menggerakkan Dunia Modern

Sabtu, 11 April 2026 - 18:47 WIB

Sains atau Siasat: Menakar Marwah Jajak Pendapat di Indonesia

Sabtu, 11 April 2026 - 17:49 WIB

Harta Karun Tersembunyi di Balik Hangatnya Perairan Tawar Nusantara

Berita Terbaru