Home / Berita / Kriminalitas Remaja; Rasio Tak Matang, Emosional

Kriminalitas Remaja; Rasio Tak Matang, Emosional

KIAN hari, kenakalan sebagian remaja mengarah ke kriminalitas. Tak sekadar mengganggu orang atau melanggar norma, mereka mencelakai hingga membunuh sesama. Inilah alarm atas buruknya pola asuh dan pendidikan yang membuat mereka hilang pegangan saat melalui masa-masa penuh gejolak.

Semasa kanak-kanak, anak adalah sosok polos dan jujur. Seiring perkembangan fisik, kognitif, emosi, dan sosial, anak berubah. Pergaulan dengan orang-orang sekitar membentuk kepribadian dan pola pikir mereka menjadi manusia dewasa.

Psikolog perkembangan di Klinik Terpadu Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Anna Surti Ariani atau Nina, di Jakarta, Rabu (27/11), mengatakan, otak anak sudah berkembang pesat saat usia remaja. Pemahaman abstraknya mulai berkembang, mengganti pemahaman konkret masa kanak-kanak.

Saat itulah remaja mulai merencanakan tindakan, termasuk kekerasan. Mereka memiliki gambaran tentang apa yang akan dilakukan beserta akibatnya, tetapi belum mampu memikirkan dampak jangka panjangnya, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Dalam sejumlah perkelahian remaja, baik oleh anak SMP maupun SMA di Jakarta, sebagian anak membekali diri dengan pedang, samurai, gir motor, hingga air keras. Remaja pembawa berbagai senjata tajam tersebut paham itu dapat melukai atau membunuh orang lain. Namun, mereka belum paham, jika seseorang mati, banyak orang kehilangan. Ia pun terancam dipenjara, mempermalukan orangtua, dikucilkan, kehilangan kesempatan bersekolah, hingga masa depannya terancam. Semua dampak panjang itu belum muncul dalam pikiran remaja.

”Bagian otak yang mengelola emosi pada remaja matang lebih dulu dibandingkan bagian otak yang mengelola pikiran rasional,” kata Nina.

5002948hSistem limbik atau bagian otak yang mengelola emosi matang saat anak berumur 16-18 tahun. Sementara korteks prefrontalis atau bagian depan otak yang bertanggung jawab pada kemampuan berpikir kritis atau rasional baru matang pada usia 18-20 tahun. Ini membuat emosi remaja sering meledak-ledak, tetapi pengambilan keputusannya kurang bagus.

Secara terpisah, Ketua Program Magister Psikologi Profesi Universitas Gunadarma yang juga ahli hipnosis MM Nilam Widyarini mengatakan, berbagai pengalaman kekerasan yang dilihat, didengar, dan dirasakan anak akan menjadi kekuatan laten yang siap meledak.

Kekerasan oleh anak merupakan bentuk perlawanan atas tekanan dan meniru perilaku orang dewasa di sekitarnya. Pola asuh orangtua atau cara guru mendidik yang penuh kekerasan dan tak mengembangkan berpikir kritis, pertengkaran orang dewasa, senioritas di sekolah, hingga tayangan kekerasan di televisi atau video gim tertanam dalam bawah sadar anak.

Saat datang ancaman, pikiran kekerasan itu muncul. Kekerasan dianggap satu-satunya solusi menyelesaikan persoalan. Rasa empati dan kasih sayang yang ditanamkan pada anak sejak kecil tak mampu melawan berbagai perilaku kekerasan yang telanjur memenuhi otak anak.

”Selama orangtua atau guru yang menyampaikan nilai-nilai luhur kepada anak mampu menumbuhkan rasa percaya, pesan itu tertanam dan menjadi pegangan anak,” kata Nilam.

Rasa percaya anak pada omongan orang dewasa tumbuh jika hubungan anak dengan orangtua atau guru hangat. Jika hubungan mereka diwarnai kekerasan, indoktrinasi, tanpa contoh, serta mengabaikan rasionalitas, rasa percaya anak pada mereka sulit tumbuh.

Nina menambahkan, kepercayaan anak pada orangtua atau guru bisa membentengi mereka dari perilaku-perilaku melanggar norma. Namun, kepercayaan itu harus dipupuk terus karena bisa mengendur.

Sejumlah penelitian menunjukkan anak yang dibesarkan dengan kekerasan berpotensi melakukan kekerasan dengan tingkat lebih tinggi lagi atau menjadi pelaku kriminal.

Adapun pengabaian anak dapat bersumber dari perilaku sehari-hari akibat orangtua tak punya waktu atau tak mampu berdiskusi hangat dengan anak. ”Banyak orangtua lebih mementingkan meng-update status di jejaring sosial ketimbang mengasuh anaknya,” tambahnya.

Sementara itu, anak yang dimanja akan hidup ”semau gue”. Anak jadi kehilangan empati, sulit menghormati orang lain, dan sulit bekerja dalam tim.

Di luar persoalan psikososial, kriminalitas pada remaja juga bisa dipicu kerusakan otak, misalnya akibat tumor, kurangnya enzim monoamin oksidase A di otak, hingga persoalan genetika. Namun, penyebab non-psikososial itu belum banyak diteliti di Indonesia, sedangkan penyebab psikososial yang nyata di sekitar kita belum ditanggapi serius.
Soal sanksi

Bagaimana dengan sanksi? Nina tak sepakat hukuman mengeluarkan atau memindahkan mereka ke sekolah lain untuk mengatasi kenakalan remaja. Itu hanya memindahkan kenakalan anak dari satu sekolah ke sekolah lain. Persoalan mental emosional anak yang jadi sumber kenakalan tidak ditangani.

”Sekadar mengeluarkan anak dari sekolah itu gampang, yang sulit mendidiknya kembali,” katanya. Orangtua dan guru perlu bekerja sama dengan psikolog atau psikiater untuk menata kembali perilaku remaja.

Penjara bagi anak juga belum tentu menyelesaikan masalah. Penjara cocok bagi anak yang hidup dalam kekerasan orangtua, lingkungan, dan anak tanpa pengawasan.

”Hipnoterapi bisa dijadikan upaya menata kembali mental, mengubah otak anak menjadi cinta damai,” katanya. Namun, penanganan orangtua dan guru setelah hipnoterapi tetap menentukan.

Oleh: M Zaid Wahyudi

Sumber: Kompas, 5 Desember 2013

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: