Home / Berita / Perkawinan Dini; Seks Usia Remaja Ganggu Otak

Perkawinan Dini; Seks Usia Remaja Ganggu Otak

Tahapan perkembangan manusia mengelompokkan seseorang yang berumur 16 tahun sebagai remaja. Pada masa itu, fisik, kognitif, dan mental emosional mereka sedang berkembang pesat. Keadaan tersebut membuat hubungan seks yang dilakukan pada usia remaja akan memengaruhi suasana hati dan perkembangan otak mereka hingga menjadi dewasa.
Keputusan Mahkamah Konstitusi yang menolak permohonan perubahan usia minimal kawin perempuan dari 16 tahun menjadi 18 tahun yang tercantum pada Pasal 7 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan pada Kamis (18/6) disesalkan banyak kalangan. Putusan itu dinilai sebagai pelegalan perkawinan remaja yang kondisi fisik, mental emosional, dan psikososialnya belum matang.

Mahkamah Konstitusi menilai penetapan batas usia perkawinan adalah kebijakan hukum terbuka yang bisa diubah sewaktu-waktu oleh pembuat undang-undang sesuai dengan perkembangan zaman.

Tantangan yang dihadapi remaja berubah. Daripada 41 tahun lalu saat UU Perkawinan disahkan, masalah yang dihadapi remaja kini lebih kompleks.

Kemampuan kognitif remaja jauh lebih maju daripada remaja seusia mereka beberapa dekade lalu akibat kemudahan mengakses pengetahuan dan informasi. Membaiknya mutu gizi dan konsumsi berbagai zat tambahan pangan membuat kematangan seksual atau pubertas terjadi pada usia lebih awal.

Namun, butuh waktu lebih lama bagi remaja masa kini untuk jadi dewasa dengan memiliki kematangan mental emosional dan psikososial. Dulu, umur 18-20 tahun sudah dianggap dewasa. Namun, kini di negara maju dan kawasan urban Indonesia, seseorang dikatakan dewasa jika berusia 18-25 tahun.

“Bahkan sejumlah ahli menilai kematangan mental emosional kini baru tercapai pada usia 29-30 tahun,” kata psikolog klinis Universitas Bina Nusantara, Jakarta, Pingkan CB Rumondor, Senin (15/6).

Masa transisi
Usia remaja ialah masa transisi dari anak menjadi dewasa. Hubungan seks di usia remaja, baik dalam ikatan perkawinan maupun di luar pernikahan atas kemauan sendiri, sama-sama berisiko. Bukan hanya karena organ reproduksinya belum matang, otak dan mental emosional mereka juga belum matang.

Saat berhubungan seksual, otak mengeluarkan hormon oksitosin dan vasopressin yang memunculkan ikatan di antara pasangan seksual. Pelepasan oksitosin itu membuat perempuan merasa percaya kepada pasangannya. Oksitosin juga dilepaskan otak perempuan saat persalinan atau menyusui.

496c18e4fc9e44648c745512fcea93f5Namun, lanjut Pingkan, keluarnya oksitosin akan menurunkan fungsi otak bagian depan yang disebut korteks prefrontal (KP). Padahal, KP berfungsi sebagai pusat penilaian, pertimbangan moral, perancangan masa depan, dan pemikiran rasional. “Penurunan fungsi KP itu justru terjadi saat KP pada remaja belum matang. KP baru matang pada usia 23-25 tahun,” ujarnya.

Pada usia remaja, otak seseorang baru mampu memikirkan hal abstrak, melihat dan menghubungkan antar-kejadian, serta membuat dan menguji hipotesis. Mereka belum mampu mengambil keputusan tepat, menimbang nilai moral, dan memikirkan dampak jangka panjang atas tiap perbuatannya, termasuk saat berhubungan seksual.

“Hubungan seks yang dilakukan saat KP belum matang bukan didasari atas tanggung jawab dan nilai, tetapi sekadar pemenuhan hasrat dan pemuasan nafsu,” kata Kepala Pusat Studi Otak dan Perilaku Sosial Universitas Sam Ratulangi Manado yang juga Sekretaris Jenderal Masyarakat Neurosains Indonesia Taufiq Pasiak.

Meski demikian, Taufiq mengakui, kematangan KP dipengaruhi pengalaman hidup dan lingkungan. Itu membuat dalam sejumlah kasus ada seseorang yang matang emosional dan psikososialnya meski berusia kurang dari 20 tahun atau sebaliknya, belum matang meski berumur lebih dari 20 tahun.

Candu
Hormon lain di otak yang terlibat saat berhubungan seksual adalah dopamin yang bertanggung jawab atas rasa senang. Pada usia remaja, kadar dopamin di KP akan naik. Namun, jumlah dopamin yang ada di nukleus akumbens (NA) yang ada di pusat penghargaan otak justru turun.

Turunnya dopamin di NA bisa memicu stres, gangguan tidur, nafsu makan, atau rasa tak nyaman. “Itu membuat remaja butuh lebih banyak stimulasi dan kegembiraan untuk mencapai tingkat kesenangan sama seperti orang dewasa,” kata Pingkan.

Hal itu membuat remaja selalu ingin mencoba hal-hal berisiko memuaskan rasa senangnya, termasuk ingin lagi berhubungan intim. Karena itu, remaja yang berhubungan seks rentan berganti-ganti pasangan.

Dopamin adalah hormon yang berperan dalam berbagai perilaku adiktif, seperti penggunaan obat terlarang, judi, gim video, pornografi, dan pengalaman seksual. Karena otak remaja tumbuh dan berkembang, tingginya kadar dopamin di KP dan rendahnya dopamin di NA membuat mereka lebih mudah kecanduan hingga dewasa.

Hallfors DD dan rekan dalam “Adolescent Depression and Suicide Risk: Association with Sex and Drug Behavior” di American Journal of Preventive Medicine, Oktober 2014, menyatakan, remaja yang terlibat perilaku adiktif, pemakaian obat terlarang atau hubungan seks dini, rentan depresi dan bunuh diri.

Menurut Pingkan, hubungan seks di usia remaja di luar pernikahan rentan memunculkan kecemasan karena takut hamil, tertular penyakit menular seksual, menyesal, dan mudah curiga kepada pasangan. Dalam jangka panjang, kecemasan itu bisa menimbulkan depresi yang akan memengaruhi suasana hati (mood) hingga mereka dewasa.

Sementara remaja berhubungan seks dalam ikatan pernikahan bukan tanpa risiko psikologis. Mereka menghadapi masalah jauh lebih kompleks, baik masalah diri, pasangan, keluarga, maupun lingkungan.

Banyak faktor psikososial sebagai akibat terbentuknya rumah tangga lewat perkawinan harus diperhitungkan secara matang bagi siapa pun yang ingin menikah. Bagaimana komunikasi dengan pasangan, mekanisme mengatasi soal rumah tangga, mengatur keuangan, hingga merencanakan rumah tangga yang diinginkan bersama.

“Isi dari rumah tangga bukan hanya tentang hubungan seksual. Perkawinan menuntut tanggung jawab jauh lebih besar,” kata Taufiq.

Tanggung jawab besar perkawinan sulit ditanggung remaja berusia 16 tahun. Masalah psikososial dalam perkawinan sulit dipikirkan dan ditanggung remaja dengan otak dan emosional belum matang.

Tunggu dewasa
Beragam risiko dalam hubungan seks pada usia remaja itu membuat banyak ahli keluarga di negara-negara Barat mendorong hubungan seks baru dilakukan saat otak dan mental mereka matang. Namun, itu sulit mengingat hubungan seks remaja umum dilakukan. Jadi, hal yang dilakukan ialah membekali remaja dengan pengetahuan kesehatan reproduksi.

Survei Pusat Pengendalian Penyakit (CDC) Amerika Serikat pada 2010 menyebutkan, 46 persen siswa SMA di negara itu telah berhubungan seks. Di sisi lain, lembaga perkawinan telah banyak ditinggalkan. Pada 2012, dari 1.000 penduduk AS, hanya 6,8 orang yang menikah.

Di Indonesia, dengan budaya berbeda, banyaknya kasus seks bebas di kalangan remaja tanpa ikatan perkawinan membuat sebagian kalangan menyikapinya dengan mendorong pernikahan remaja. Perkawinan juga kerap untuk menutupi kasus seks remaja yang berakhir dengan kehamilan tak diinginkan.

Hubungan seks bebas di usia remaja memang harus dicegah. Namun, upaya negara melegalkan perkawinan remaja juga tak tepat. Negara seharusnya mendorong pembangunan remaja lebih baik agar energi mereka yang besar digunakan untuk hal positif dan perkawinan baru dilakukan saat mereka matang secara emosional dan psikososial.–M ZAID WAHYUDI
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 25 Juni 2015, di halaman 14 dengan judul “Seks Usia Remaja Ganggu Otak”.

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: