Home / Berita / Isolasi Jangka Panjang Menurunkan Kemampuan Bersosialisasi pada Anak

Isolasi Jangka Panjang Menurunkan Kemampuan Bersosialisasi pada Anak

Dalam jangka panjang, isolasi sosial berdampak pada rendahnya keterampilan sosial anak. Sejumlah stimulasi dari orangtua dibutuhkan agar keterampilan sosial anak berkembang selama di rumah.

Isolasi sosial jangka panjang pada anak dapat menurunkan keterampilan sosialnya saat dewasa. Orangtua berperan memberi stimulasi terus-menerus dan membangun kemampuan sosial anak.

Ketua Ikatan Psikologi Klinis Indonesia Wilayah Jakarta Anna Surti Ariani mengatakan, anak usia balita dikhawatirkan paling terdampak isolasi jangka panjang. Itu karena kelompok usia balita baru belajar bersosialisasi. Kebiasaan bergaul pun terbentuk di masa ini.

”Secara sosial, dampak isolasi pada anak balita berbeda dengan anak yang sudah SD, SMP, hingga SMA. Anak yang sudah sekolah punya pengalaman bergaul yang nyata dengan teman-teman di sekolah dan lingkungan rumah. Kemampuan kognitif mereka lebih baik dibanding anak balita. Sementara itu, anak usia balita saat ini terpaksa bersosialisasi dengan teman secara virtual,” kata Anna saat dihubungi dari Jakarta, Selasa (1/9/2020).

Adapun dampak sosialisasi virtual dan langsung berbeda terhadap perkembangan anak. Anna menjelaskan, sosialisasi virtual menghambat individu membaca emosi dan bahasa tubuh lawan bicara. Ini turut menghambat kemampuan individu membaca situasi dan memberi respons yang sesuai. Akhirnya, interaksi yang ada menjadi tidak nyaman.

Keterampilan sosial seperti itu sulit dibangun secara virtual. Untuk membangunnya, anak butuh praktik terus-menerus di dunia nyata. Anna menambahkan, anak yang kurang terlatih bergaul dapat tumbuh menjadi orang yang canggung.

Profesor psikologi anak dari Temple University, Amerika Serikat, Amy Learmonth, berpendapat bahwa anak-anak merupakan salah satu kelompok yang paling terdampak peraturan jaga jarak dan isolasi. Teman-teman sebaya merupakan bagian terpenting untuk perkembangan sosial mereka. Kehilangan kontak dengan teman menjadi tidak mudah.

”Anak-anak kecil sedang belajar basis menjadi makhluk sosial. Orangtua dan saudara mereka bisa memberikan apa yang mereka butuhkan (untuk belajar),” kata Learmonth kepada Healthline.

Stimulasi
Anak yang menghadapi isolasi jangka panjang diprediksi kemampuan sosial dan kognitifnya terhambat. Keterlambatan tersebut dapat dikejar, bahkan dikembangkan lagi saat dewasa. Untuk itu, anak-anak butuh stimulasi yang bisa membangun kemampuan kognitif dan sosialnya.

Salah satu cara mempertahankan kemampuan sosial anak ialah memperbolehkan mereka rutin menelepon teman. Orangtua harus mendampingi anak saat itu.

Stimulasi lain, mengizinkan anak bermain bersama teman di tempat terbuka. Ini hanya boleh dilakukan oleh keluarga di zona hijau Covid-19 dengan melakukan protokol kesehatan.

Orangtua juga bisa memberi stimulasi melalui permainan peran (role play). Permainan ini melibatkan mainan, seperti boneka dan robot, yang memerankan tokoh tertentu. Orangtua dan anak lantas bisa membuat skenario untuk memainkan tokoh-tokoh yang ada (seperti pada film Toy Story).

”Melalui permainan, anak-anak diajari caranya bersikap terhadap isu sosial yang muncul. Ini membantu mengembangkan kemampuan sosial mereka. Tidak apa-apa jika kemampuan anak terhambat. Ini adalah kondisi yang normal karena pandemi,” kata Anna.

Memengaruhi otak
Tim peneliti dari Icahn School of Medicine di Mount Sinai, New York, Amerika Serikat, menemukan bahwa isolasi sosial di usia muda berpengaruh pada kerja otak, tepatnya di korteks prefrontal. Lebih lanjut, hal ini berdampak ke keramahan (sociability) dan respons sosial seseorang.

Korteks prefrontal (PFC) adalah otak bagian depan yang berperan pada pemikiran jangka panjang, pengambilan keputusan secara cepat dan tepat, serta imaji tentang masa depan. Bagian ini juga mengatur pemikiran rasional dan kesadaran diri. PFC hanya ada pada otak manusia sehingga berperan penting pada kemanusiaan manusia (Kompas, 8/4/2014).

Penelitian tersebut diuji coba pada tikus. PFC—yang juga mengatur perilaku sosial—berada dalam keadaan rentan saat obyek studi diisolasi. Sirkuit otak yang menyebabkan rasa bahagia rentan terganggu. Jika terjadi pada manusia, ini menyebabkan gangguan kejiwaan dan perkembangan saraf (social behavior deficit).

Profesor psikiatri, neurosains, dan oftalmologi di Icahn School of Medicine di Mount Sinai, Hirofumi Morishita, mengatakan, social behavior deficit bisa diperbaiki dengan sejumlah tindakan. ”Melalui stimulasi di sirkuit PFC yang spesifik, kami bisa mengatasi sociability deficits yang disebabkan oleh isolasi sosial,” katanya.

Oleh SEKAR GANDHAWANGI

Editor: KHAERUDIN KHAERUDIN

Sumber: Kompas, 1 September 2020

Share
x

Check Also

Belajar dari Sejarah Indonesia

Pelajaran sejarah Indonesia memang sangat menentukan dalam proses pendidikan secara keseluruhan. Dari sejarah Indonesia, siswa ...

%d blogger menyukai ini: