Home / Berita / Mengasuh Anak, Membentuk Kekuatan Jiwa di Masa Depan

Mengasuh Anak, Membentuk Kekuatan Jiwa di Masa Depan

Proses tumbuh kembang anak, baik secara fisik maupun psikis, sangat berpengaruh pada kondisi mereka di masa depan. Tumbuh kembang tidak hanya ditentukan sejak anak dilahirkan, melainkan sejak masa kehamilan dimulai. Bahkan, pola asuh serta pola komunikasi yang buruk bisa menyebabkan kerentanan pada jiwa seseorang saat usia remaja dan dewasa.

Fenomena yang terjadi saat ini, orangtua terkadang abai dengan kualitas pola asuh dan pola komunikasi pada anak mereka. Kebutuhan material, baik secara sadar maupun tidak, dinilai sebagai kebutuhan utama yang perlu diberikan. Padahal, kasih sayang dan perhatian lebih berpengaruh pada kualitas tumbuh kembang seorang anak.

KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO–Foto dokumentasi yang diambil pada Senin (27/7/2015) ini menunjukkan, sejumlah orang tua menemani anaknya sebagai siswa baru saat hari pertama sekolah di SD Negeri Langensari, Bandung, Jawa Barat. Mendampingi anak ikut membantu perkembangan mental anak dengan menumbuhkan rasa percaya diri serta membangun psikologis pertumbuhannya.

Berdasarkan teori yang dikemukakan psikolog asal Jerman, Erik Erison, ada delapan tahap perkembangan psikososial pada manusia. Perkembangan ini dimulai sejak usai bayi (0-12 bulan), balita (2-3 tahun), prasekolah (3-6 tahun), usia sekolah (7-12 tahun), remaja (12-18 tahun), dewasa muda (20 tahun), dewasa (20-50 tahun), dan lansia (50 tahun ke atas). Pada setiap tahap tersebut memiliki fungsi perkembangan psikososial yang berbeda.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Pada anak usia 0-1 tahun, ikatan ibu dan bayi akan menentukan perkembangan emosi anak. Foto dokumentasi ini memperlihatkan seorang anak balita mendapatkan Vitamin A saat pemeriksaan rutin di Posyandu III Kamboja, Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Rabu (20/2/2019).

Secara singkat, pada usia 0-1 tahun, ikatan ibu dan bayi akan menentukan perkembangan emosi anak. Usia 1–3 tahun, anak akan mengembangkan rasa otonom atau menjalankan sesuatu berdasarkan keinginan diri.

Pada usia 3–6 tahun, rasa inisiatif anak berkembang. Di usia 6–12 tahun anak akan mengembangkan sifat kompetisi dan menjalankan tugasnya sesuai peran di keluarga dan lingkungan.

Psikiater dari Departermen Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Sylvia Detri Elvira di Jakarta, Rabu (9/10/2019) menuturkan, pada tahap perkembangan manusia di usia bayi, tahap psikososial yang dibentuk bertujuan untuk menumbuhkan rasa kepercayaan dan harapan pada seseorang. Oleh karena itu, kasih sayang dan perlindungan dari orangtua ke anak sangat dibutuhkan di tahap ini.

Sementara di usia balita, anak mengalami tahap pengendalian diri. Di usia ini, dukungan orang di sekitar, terutama orangtua sangat diperlukan dalam memberikan perlindungan, tetapi sebaiknya tidak dengan batasan yang berlebihan.

“Orangtua biasanya terlalu hati-hati dan melarang anak dalam melakukan aktivitasnya, seperti memajat atau berlari. Anak dilarang melakukan ini dan itu, Akibatnya, anak cenderung mudah takut dan tidak percaya diri ketika bertindak,” kata Sylvia.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Psikiater dari Departermen Kesehatan Jiwa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM) Sylvia Detri Elvira

Pada usia prasekolah, tahap psikososial yang terjadi berpengaruh pada sifat inisiatif yang dibentuk. Eksplorasi yang optimal pada anak sangat dibutuhkan sehingga ia bisa memaksimalkan kemampuan yang dimiliki. Ia pun lebih mudah menerima kegagalan yang terjadi.

Jika tidak, perkembangan psikososial yang terjadi justru menyebabkan anak mudah kecewa dan mudah menyalahkan dirinya sendiri. Komunikasi orangtua yang terlalu menyalahkan anak ketika tidak bisa mendapatkan prestasi yang diharapkan bisa memicu rasa bersalah yang berlebihan.

Menurut Sylvia, tahapan yang paling penting untuk membentuk kekuatan jiwa seseorang pada rentang usia 0-12 tahun. Biasanya, ketika anak bisa melewati tahapan perkembangan psikososial dengan baik hingga usia sekolah, kualitas keseahatan jiwa yang dimiliki relatif lebih baik dibandingan dengan anak yang mengalami gangguan pada fase tersebut.

KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA–Tahapan yang paling penting untuk membentuk kekuatan jiwa seseorang pada rentang usia 0-12 tahun. Dalam foto dokumentasi ini tampak seorang petugas mengukur tinggi badam balita saat pemeriksaan rutin di Posyandu III Kamboja, Desa Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo, Rabu (20/2/2019).

Hal itu juga penting untuk menyiapkan seseorang ketika memasuki usia remaja. “Usia remaja adalah usia paling rentan untuk mengalami gangguan kejiwaan. Fase remaja menjadi fase pembentukan identitas, baik identitas diri maupun identitas seksual. Jika fase sebelumnya bisa dilalui dengan baik, stresor yang timbul di usia remaja akan lebih mudah dihadapi,” ucapnya.

Bunuh diri
Krisis identitas yang terjadi pada remaja sangat berisiko pada keinginan untuk bunuh diri. Pada umumnya, gangguan jiwa pada seseorang yang memicu tindak bunuh diri dipengaruhi oleh faktor biologis, psikologis, dan sosial. Faktor biologi ini bisa dipicu oleh genetika yang dimiliki.

Dari aspek psikologis, gangguan jiwa sangat dipengaruhi oleh perkembangan psikososial pada tahapan kehidupan yang dilalui. Kualitas emosional ibu saat masa kehamilan pun bisa berpengaruh pada kondisi kejiwaan anak di masa depan.

Sementara aspek sosial karena dipicu kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Sistem pendukung ini seharusnya bisa didapatkan dari keluarga, terutama orangtua. Apabila lingkungan terdekat tidak mendukung dan akses ke layanan kesehatan jiwa sulit dijangkau, potensi bunuh diri bisa meningkat.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2016 mencatat, prevalensi bunuh diri di Indonesia mencapai 3,7 per 100.000 penduduk. Sementara di dunia, sekitar 800.00 orang bunuh diri setiap tahun. Jumlah ini bisa semakin besar karena upaya pencegahan yang masih lemah, sementara tekanan dan kompetisi hidup semakin tinggi.

KOMPAS/DEONISIA ARLINTA–Psikiater dari Departermen Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, Heriani

Psikiater dari Departermen Kesehatan Jiwa FKUI-RSCM, Heriani menambahkan, pengaruh sosial media turut menambah tekanan yang dihadapi remaja saat ini. Perundungan yang diterima remaja di sosial media bisa lebih berdampak buruk.

“Ketika anak memiliki jiwa yang rentan, dalam arti memiliki kepribadian yang ambang, bisa semakin memicu keinginan bunuh diri. Belum lagi jika tidak ada sistem pendukung di sekitarnya. Anak merasa tidak berarti dan tidak dibutuhkan. Kesadaran ini harus dipahami secara baik oleh orangtua. Inilah mengapa curhat dibutuhkan oleh remaja” katanya.–DEONISIA ARLINTA

Editor PASCAL S BIN SAJU

Sumber: Kompas, 9 Oktober 2019

Share
%d blogger menyukai ini: