tumbuh kembang anak; Perhatikan Gizi dan Cara Berkomunikasi

- Editor

Selasa, 23 September 2014

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Untuk mengoptimalkan tumbuh kembang anak, orangtua perlu memperhatikan semua aspek yang dibutuhkan anak sejak usia dini. Selain aspek fisik berupa asupan gizi yang baik, aspek mental perlu diperhatikan melalui komunikasi sehat dalam pengasuhan anak.

”Dari aspek fisik, orangtua harus memberi nutrisi lengkap sejak anak dalam kandungan dan memberi imunisasi. Dari aspek mental, anak harus diberi contoh perilaku baik dan kesempatan mencoba hal baru, serta diberi pujian,” papar dokter spesialis anak dan konsultan tumbuh kembang anak, Soedjatmiko, dalam seminar ”Anak yang Sehat untuk Masa Depan Lebih Baik”, Minggu (21/9), di Jakarta.

Di Indonesia, jumlah kasus gizi buruk tinggi karena banyak ibu hamil malnutrisi. Menurut Riset Kesehatan Dasar 2013, prevalensi berat-kurang atau malnutrisi 19,6 persen, terdiri dari gizi buruk 5,7 persen dan gizi kurang 13,9 persen (Kompas, 16/9).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

”Sebenarnya, gizi baik tak perlu mahal, yang penting seimbang antara komposisi karbohidrat, protein, vitamin, dan zat-zat lain,” tutur Soedjatmiko. Orangtua juga harus mengikutsertakan anak dalam program imunisasi, terutama imunisasi wajib.

Selain itu, aspek perkembangan mental perlu diperhatikan. Pakar komunikasi, Hana Yasmira Nashar, mengatakan, orangtua jangan memberi tanggapan yang menutup komunikasi pada anak. Sebab, hal itu akan membuat anak takut dan tidak percaya diri mengungkapkan pendapat.

Ia mencontohkan, saat anak mengatakan temannya tinggal di rumah kecil, orangtua sebaiknya tidak mengatakan pernyataan anaknya itu tak benar. Sebaliknya, orangtua mesti mengajarkan kepada anak bahwa hal-hal seperti ukuran rumah yang kecil adalah hal biasa. Dengan demikian, anak tidak menganggap berkata jujur bukan hal baik.

Soedjatmiko menambahkan, orangtua perlu memberi kesempatan anak berkembang sesuai potensinya. ”Anak jangan dipaksa selalu punya nilai Matematika bagus, bisa saja ia berbakat di bidang lain,” katanya.

Orangtua mesti mendengarkan pendapat anak, tak melecehkan dan memotong saat anak berbicara, dan memberi contoh baik. Sebab, anak belajar dari orang dewasa dengan melihat, mengingat, dan meniru. (A01)

Sumber: Kompas, 23 September 2014

Yuk kasih komentar pakai facebook mu yang keren

Informasi terkait

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern
Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan
Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026
Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?
Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM
Langkah Strategis BYD dan Visi Haryadi Kaimuddin untuk Menuju Kemandirian Energi Indonesia
Membaca “Buku Harian” Bumi. Rahasia Lingkaran Tahun dan Masa Depan Dendrokronologi
Zirah Berduri di Dasar Ciliwung. Mengapa Jakarta “Memerangi” Ikan Sapu-Sapu?
Berita ini 23 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 2 Mei 2026 - 07:11 WIB

Dari Persia untuk Dunia. Tiga Ilmuwan Iran yang Warisannya Masih Mengubah Peradaban Modern

Jumat, 1 Mei 2026 - 08:15 WIB

Teknik Sipil Tradisional dalam Perspektif Global, Ketika Pengetahuan Leluhur Menjadi Teknologi Masa Depan

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:40 WIB

Dari Air EV hingga Ioniq 5, Inilah Peta Lengkap Mobil Listrik dan Pabrik EV di Indonesia 2026

Jumat, 1 Mei 2026 - 06:29 WIB

Mengapa Desain Jembatan Mahasiswa ITB Ini Dianggap Unggul di Kompetisi Internasional?

Kamis, 30 April 2026 - 08:24 WIB

Melawan Arus Waktu, Kisah Kiki, Pemuda 22 Tahun yang Meraih Gelar Master di UGM

Berita Terbaru