Home / Berita / Imbangi Kecanduan Gawai dengan Senam

Imbangi Kecanduan Gawai dengan Senam

Sikap permisif orangtua terhadap anak-anak bermain gawai hingga berjam-jam berisiko bagi perkembangan motorik sang anak. Selain berpotensi abai pada lingkungan, kebiasaan anak memelototi layar gawai terus-menerus tanpa diselingi kegiatan fisik lain bisa memicu gangguan motorik yang tak terdeteksi sejak awal.

“Ada baiknya kegiatan anak dibuat beragam dengan memberikan rangsangan dalam bentuk gerak, salah satunya melalui senam,” ujar dosen psikologi Universitas Indonesia Mayke Sugianto Tedjasaputra, Sabtu (19/3), di sela-sela Perlombaan Gerakan Senam Tanggap oleh Dancow Batita di Jakarta.

Mayke adalah salah satu perumus gerakan senam bersama orangtua dan anak yang dinamakan gerakan senam tanggap. Ia menambahkan, anak akan menjadi lebih bergairah karena melakukan senam bersama orangtua mereka.

“Anak menjadi aktif bergerak. Selain itu, anak pun bersikap tanggap terhadap aba-aba yang diberikan,” kata Mayke.

Senam tanggap diiringi musik yang ringan dan pendek membuat mereka jadi nyaman. Namun, ia menuturkan, orangtua harus memperhatikan situasi dan kondisi agar anak cukup bahagia untuk mengikuti senam. Kondisi anak-anak yang sedang tidak bahagia membuat kegiatan itu tak berarti buat mereka.

Psikolog anak dari Karisma Consulting, Lucia Bulan, sepakat dengan perlunya perkembangan motorik anak-anak yang terkontrol.

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga dan Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Erni Guntarti Tjahjo Kumolo menekankan, tumbuh kembang anak saat ini tidak hanya dilihat dari pertumbuhan fisik dan kesehatannya saja.

“Pengukuran motorik juga diperhatikan karena anak memiliki tahapan perkembangan tertentu sesuai dengan usianya. Perkembangan motorik yang baik akan menumbuhkan karakter anak yang positif,” kata Erni.

Membaca-menulis
Secara terpisah, Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud Ella Yulaelawati berpendapat, di usia emas (0-5 tahun), anak-anak membutuhkan berbagai kegiatan yang merangsang gerak mereka. Sayangnya, banyak orangtua membatasi gerak anak karena ingin buah hati mereka cepat dalam membaca, menulis, dan berhitung. (C02)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Maret 2016, di halaman 11 dengan judul “Imbangi Kecanduan Gawai dengan Senam”.

——-

Kontrol Perkembangan Motorik Anak sejak Dini

Tumbuh kembang anak saat ini tidak hanya dilihat dari pertumbuhan fisik dan kesehatannya saja. Oleh karena itu, orangtua dan guru juga perlu mengontrol perkembangan motorik anak sejak dini.

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga dan Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Erni Guntarti Tjahjo Kumolo saat ditemui dalam acara Gerakan Senam Tanggap di Jakarta, Sabtu (19/3/2016), mengatakan, setiap anak memiliki tahapan perkembangan tertentu sesuai dengan usia mereka.

“Selama ini anak-anak hanya dilihat kesehatan dan pertumbuhan fisiknya saja. Kita harus memperhatikan lebih perkembangan anak-anak,” ujar Erni.

Ia menambahkan, perkembangan motorik yang baik akan menumbuhkan karakter anak yang positif. Selain orangtua, tumbuh kembang anak saat ini juga dipantau oleh guru-guru dari sekolah PAUD.

Erni meminta para guru harus memahami betul pendidikan anak sejak usia dini. Menurut dia, PAUD sendiri adalah sekolah bagi anak untuk belajar bersosialisasi dan memahami nilai-nilai pendidikan sejak dini.

“Pola asuh yang baik lebih diutamakan dengan fokus kepada anak. Jangan lupakan cinta kasih,” ujarnya.

Di tempat yang sama, psikolog anak dan perkembangan Karisma Consulting, Lucia Bulan, sepakat dengan perlunya perkembangan motorik anak-anak untuk dikontrol. Motorik halus dan kasar anak akan berkembang sehingga lebih mudah dalam belajar dan bersosialisasi.

“Konsentrasi mereka (anak-anak) akan lebih fokus. Mereka juga akan mudah mendengarkan orang lain,” kata Lucia.

Anak-anak dari usia 0-5 tahun masuk dalam usia potensi terbaik untuk bertumbuh.

Lucia menjelaskan, selama ini masih banyak orangtua yang membiarkan anak-anaknya bermain gawai terlalu lama. Akibatnya, mereka akan menjadi cuek dengan lingkungan sekitar. Pervasive developmental disorders (PDD), yang merupakan bentuk gangguan anak di usia emas, tidak akan terpantau apabila tidak diajak untuk bergerak.(C02)

Sumber: Kompas Siang | 19 Maret 2016

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

x

Check Also

Indonesia Dinilai Tidak Memerlukan Pertanian Monokultur

Pertanian monokultur skala besar dinilai ketinggalan zaman dan tidak berkelanjutan. Sistem pangan berbasis usaha tani ...

%d blogger menyukai ini: