Imbangi Kecanduan Gawai dengan Senam

- Editor

Senin, 21 Maret 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Sikap permisif orangtua terhadap anak-anak bermain gawai hingga berjam-jam berisiko bagi perkembangan motorik sang anak. Selain berpotensi abai pada lingkungan, kebiasaan anak memelototi layar gawai terus-menerus tanpa diselingi kegiatan fisik lain bisa memicu gangguan motorik yang tak terdeteksi sejak awal.

“Ada baiknya kegiatan anak dibuat beragam dengan memberikan rangsangan dalam bentuk gerak, salah satunya melalui senam,” ujar dosen psikologi Universitas Indonesia Mayke Sugianto Tedjasaputra, Sabtu (19/3), di sela-sela Perlombaan Gerakan Senam Tanggap oleh Dancow Batita di Jakarta.

Mayke adalah salah satu perumus gerakan senam bersama orangtua dan anak yang dinamakan gerakan senam tanggap. Ia menambahkan, anak akan menjadi lebih bergairah karena melakukan senam bersama orangtua mereka.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Anak menjadi aktif bergerak. Selain itu, anak pun bersikap tanggap terhadap aba-aba yang diberikan,” kata Mayke.

Senam tanggap diiringi musik yang ringan dan pendek membuat mereka jadi nyaman. Namun, ia menuturkan, orangtua harus memperhatikan situasi dan kondisi agar anak cukup bahagia untuk mengikuti senam. Kondisi anak-anak yang sedang tidak bahagia membuat kegiatan itu tak berarti buat mereka.

Psikolog anak dari Karisma Consulting, Lucia Bulan, sepakat dengan perlunya perkembangan motorik anak-anak yang terkontrol.

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga dan Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Erni Guntarti Tjahjo Kumolo menekankan, tumbuh kembang anak saat ini tidak hanya dilihat dari pertumbuhan fisik dan kesehatannya saja.

“Pengukuran motorik juga diperhatikan karena anak memiliki tahapan perkembangan tertentu sesuai dengan usianya. Perkembangan motorik yang baik akan menumbuhkan karakter anak yang positif,” kata Erni.

Membaca-menulis
Secara terpisah, Direktur Pembinaan Pendidikan Anak Usia Dini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Kemdikbud Ella Yulaelawati berpendapat, di usia emas (0-5 tahun), anak-anak membutuhkan berbagai kegiatan yang merangsang gerak mereka. Sayangnya, banyak orangtua membatasi gerak anak karena ingin buah hati mereka cepat dalam membaca, menulis, dan berhitung. (C02)
—————-
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 21 Maret 2016, di halaman 11 dengan judul “Imbangi Kecanduan Gawai dengan Senam”.

——-

Kontrol Perkembangan Motorik Anak sejak Dini

Tumbuh kembang anak saat ini tidak hanya dilihat dari pertumbuhan fisik dan kesehatannya saja. Oleh karena itu, orangtua dan guru juga perlu mengontrol perkembangan motorik anak sejak dini.

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga dan Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Erni Guntarti Tjahjo Kumolo saat ditemui dalam acara Gerakan Senam Tanggap di Jakarta, Sabtu (19/3/2016), mengatakan, setiap anak memiliki tahapan perkembangan tertentu sesuai dengan usia mereka.

“Selama ini anak-anak hanya dilihat kesehatan dan pertumbuhan fisiknya saja. Kita harus memperhatikan lebih perkembangan anak-anak,” ujar Erni.

Ia menambahkan, perkembangan motorik yang baik akan menumbuhkan karakter anak yang positif. Selain orangtua, tumbuh kembang anak saat ini juga dipantau oleh guru-guru dari sekolah PAUD.

Erni meminta para guru harus memahami betul pendidikan anak sejak usia dini. Menurut dia, PAUD sendiri adalah sekolah bagi anak untuk belajar bersosialisasi dan memahami nilai-nilai pendidikan sejak dini.

“Pola asuh yang baik lebih diutamakan dengan fokus kepada anak. Jangan lupakan cinta kasih,” ujarnya.

Di tempat yang sama, psikolog anak dan perkembangan Karisma Consulting, Lucia Bulan, sepakat dengan perlunya perkembangan motorik anak-anak untuk dikontrol. Motorik halus dan kasar anak akan berkembang sehingga lebih mudah dalam belajar dan bersosialisasi.

“Konsentrasi mereka (anak-anak) akan lebih fokus. Mereka juga akan mudah mendengarkan orang lain,” kata Lucia.

Anak-anak dari usia 0-5 tahun masuk dalam usia potensi terbaik untuk bertumbuh.

Lucia menjelaskan, selama ini masih banyak orangtua yang membiarkan anak-anaknya bermain gawai terlalu lama. Akibatnya, mereka akan menjadi cuek dengan lingkungan sekitar. Pervasive developmental disorders (PDD), yang merupakan bentuk gangguan anak di usia emas, tidak akan terpantau apabila tidak diajak untuk bergerak.(C02)

Sumber: Kompas Siang | 19 Maret 2016

Informasi terkait

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin
Pesawat Kecil, Pelajaran Besar
Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik
Ketika Printer Menjadi Pabrik
Jejak 100 Hari Pemburu Kayu
Terkubur untuk Hidup
Batas yang Menentukan Nasib Bintang
Padamnya Lentera Malam
Berita ini 27 kali dibaca

Informasi terkait

Sabtu, 5 September 2026 - 19:07 WIB

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Kamis, 27 Agustus 2026 - 08:00 WIB

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agustus 2026 - 07:43 WIB

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Rabu, 26 Agustus 2026 - 20:38 WIB

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Sabtu, 18 Juli 2026 - 09:20 WIB

Terkubur untuk Hidup

Berita Terbaru

Berita

Ketika Mobil Berhenti Minum Bensin

Sabtu, 5 Sep 2026 - 19:07 WIB

Artikel

Pesawat Kecil, Pelajaran Besar

Kamis, 27 Agu 2026 - 08:00 WIB

Artikel

Teknik Elektro, Bukan Sekadar Listrik

Kamis, 27 Agu 2026 - 07:43 WIB

Berita

Ketika Printer Menjadi Pabrik

Rabu, 26 Agu 2026 - 20:38 WIB

Artikel

Ketika Kekacauan Ternyata Punya Aturan

Minggu, 9 Agu 2026 - 14:50 WIB