Konservasi Air Rumah Ibadah Menjadi Gerakan Nasional

- Editor

Sabtu, 20 Februari 2016

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Konservasi air dan sanitasi perlu diterapkan untuk mewujudkan masjid ramah lingkungan. Itu karena aktivitas ibadah umat Islam memakai air bagi kesucian serta kesehatan lingkungan masjid.

Konservasi air dan sanitasi dilakukan melalui penghematan air wudu, panen air hujan, sumur resapan, dan biopori. Penguatan kapasitas masjid dalam mengelola air sejalan dengan program Rumah Ibadah Ramah Lingkungan (Eco-RI), selain penghijauan dan pengelolaan sampah.

Ketua Lembaga Pemuliaan Lingkungan Hidup dan Sumber Daya Alam Majelis Ulama Indonesia Hayu Prabowo menyatakan, masjid butuh kesinambungan sumber daya air bersih sebagai syarat menyucikan diri sebelum shalat. Konservasi air meningkatkan efektivitas penggunaan air di masjid.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Umat Islam paling banyak memakai air pada kegiatan ibadah, seperti wudu dan sanitasi. Penghematan air penting untuk mengatasi krisis air,” kata Hayu, pada peresmian eco-Masjid Az-Zikra di Bogor, Jumat (19/2).

Penghematan air wudu di Masjid Az-Zikra dengan teknik penahan laju air keran. Keran air dengan alat sumbat menghemat air 70 persen. Keran tanpa penyumbat mengeluarkan air 13 liter per menit dan waktu wudu 42 detik, sementara keran dengan alat sumbat 3 liter air per menit dan lama wudu 50 detik.

Pembangunan sarana konservasi air bisa dengan teknologi daur ulang air wudu. Air hujan dialirkan ke sumur resapan. Sistem panen air hujan memakai tandem tangki dari air tanah dan air hujan. Karena itu, MUI menerbitkan buku panduan yang siap diedarkan ke masjid-masjid.

tempat-wudhuMenurut Sekretaris Jenderal Dewan Masjid Indonesia Imam Addaruquthni, program masjid ramah lingkungan mengajak umat Islam merevolusi pemahaman soal air. Ada sekitar 850.000 masjid di Indonesia. “Gerakan sumur resapan, daur ulang air wudu, dan aktivitas konservasi air lain bermakna peduli air,” ujarnya.

Ketua Dewan Pengarah Gerakan Siaga Bumi Din Syamsuddin menambahkan, tata kelola masjid ramah lingkungan perlu disesuaikan dengan karakteristik masjid. “Untuk memulainya, bisa pakai dana umat,” katanya. (C07)
—————–
Versi cetak artikel ini terbit di harian Kompas edisi 20 Februari 2016, di halaman 13 dengan judul “Konservasi Air Menjadi Gerakan Nasional”.

Informasi terkait

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026
Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026
Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026
Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya
Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan
Tiga Huruf di Belakang Nama yang Bisa Membuka Dunia
Di Balik Listrik yang Menyalakan Masa Depan
Biomedis atau Teknik Biomedis?
Berita ini 76 kali dibaca

Informasi terkait

Selasa, 13 Oktober 2026 - 11:43 WIB

Alga Kecil, Terobosan Besar: Rahasia Chlamydomonas di Balik Nobel Kedokteran 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 18:42 WIB

Misteri Molekul Kiri dan Kanan Antar Dua Ilmuwan ke Nobel Kimia 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:56 WIB

Francis Halzen, Pemburu Partikel Hantu dari Kutub Selatan, Raih Nobel Fisika 2026

Senin, 12 Oktober 2026 - 17:48 WIB

Nobel Kedokteran 2026: Tiga Ilmuwan Menemukan Cara Mengendalikan Sel Saraf dengan Cahaya

Sabtu, 26 September 2026 - 21:10 WIB

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Berita Terbaru

Artikel

Gunung yang Belum Selesai Dilahirkan

Sabtu, 26 Sep 2026 - 21:10 WIB