Home / Berita / Kemaslahatan adalah Inti Syariat Islam

Kemaslahatan adalah Inti Syariat Islam

Ibadah di masjid memang lebih mulia dalam kondisi normal. Namun, karena dunia sedang mengalami masa darurat wabah Covid-19, ibadah di rumah justru menjadi kewajiban.

REUTERS/GANOO ESSA–Pemandangan Kabah di Masjidil Haram, Mekkah, Arab Saudi, Jumat (6/3/2020). Pemerintah Arab Saudi menangguhkan layanan umrah di tengah meluasnya wabah Covid-19 di seluruh dunia.

Sebagai agama rahmatan lil alamin atau rahmat bagi semesta, kemaslahatan semua orang adalah inti dari syariat atau hukum Islam. Atas dasar itu, umat Islam dituntut menunjukkan solidaritasnya dalam memutus rantai penyebaran virus korona baru penyebab Covid-19. Salah satu bentuknya, umat Islam diimbau beribadah di rumah selama Ramadhan dan tidak mudik menjelang Idul Fitri nanti.

”Syariat Islam itu ada untuk kemaslahatan manusia. Untuk itu, umat Islam wajib mengikuti semua anjuran ataupun protokol kesehatan yang dibuat pemerintah dalam wabah Covid-19. Sebab, anjuran ataupun protokol itu dibuat untuk kebaikan semua orang, terutama untuk menekan penyebaran Covid-19,” ujar Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama Profesor Kamaruddin Amin dalam konferensi daring via kanal Youtube BNPB, Jumat (17/4/2020).

Kamaruddin mengatakan, tahun ini, umat Islam harus beradapatasi dalam ibadah selama Ramadhan karena adanya wabah Covid-19. Bentuknya, umat Islam diimbau menjalani semua ibadah di rumah.

Ibadah di masjid memang lebih mulia dengan catatan dalam kondisi normal. Namun, karena saat ini sedang situasi darurat akibat ada wabah Covid-19, ibadah di rumah justru menjadi kewajiban. ”Sekarang, ibadah berjamaah justru membahayakan semua orang karena (kita) bisa tertular dan menularkan Covid-19. Lagi pula Rasulullah Muhammad SAW berpesan, umat Islam tidak boleh menjemput dan menyebabkan bahaya. Jadi, jangan melempar diri kepada kehancuran,” katanya.

Menurut Kamaruddin, kualitas ibadah tidak akan berkurang walaupun harus dilakukan di rumah. Sebab, kualitas ibadah itu tidak dinilai berdasarkan lokasi ibadah, tetapi dari kesucian jiwa, keikhlasan, dan kekhusyukan. ”Allah SWT berfirman, kesucian jiwa, keikhlasan, dan kekhusyukan merupakan penentu kualitas ibadah umat Islam,” ujarnya.

Lagi pula, beribadah di rumah bisa menjadi momentum merekatkan hubungan keluarga di rumah. Mungkin selama ini banyak yang lalai atau tidak mengoptimalkan kesempatan berkumpul dengan keluarga karena kesibukan masing-masing. ”Ini juga kesempatan umat Islam menerangi rumahnya dengan ibadah dan lantunan ayat Al Quran,” ujarnya.

Kamaruddin menuturkan, tidak ada kejadian ataupun peristiwa di muka bumi ini tanpa izin Allah SWT. Semua itu bisa menjadi berkah dan sebaliknya bisa menjadi mudarat. ”Agar situasi ini tidak menjadi mudarat, kita wajib berusaha mengikuti semua anjuran pemerintah terkait anjuran jaga jarak dan semua protokol kesehatan yang ada. Jangan lupa pula, kita semua wajib berdoa agar wabah ini segera berakhir,” katanya.

KOMPAS/ISMAIL ZAKARIA–Warga memasuki Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Nusa Tenggara Barat, di Mataram, Minggu (22/3/2020), untuk mengikuti shalat Dzuhur berjamaah. Dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya, warga yang mengikuti shalat berjamaah di masjid tersebut kali ini lebih sedikit karena pembatasan sosial untuk menekan penyebaran Covid-19.

Ramadhan jadi solusi
Sebelumnya, Sekretaris Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Muhammad Asrorun Ni’am Sholeh mengutarakan, MUI mengajak umat Islam menjadikan Ramadhan sebagai wujud peneguhan habluminallah (hubungan dengan Allah SWT) dengan menjadikan rumah sebagai episentrum ibadah. ”Lalu, jadikan Ramadhan sebagai peneguhan habluminannas (hubungan sesama manusia) dengan menjadi solusi masalah saat ini, yakni turut berkontribusi meredakan wabah Covid-19,” tuturnya.

Selain fokus beribadah di rumah, umat Islam diimbau mengoptimalkan semua ibadah terkait Ramadhan menjadi solusi membantu pemerintah memutus rantai penyebaran Covid-19 ataupun mengurangi dampak dari wabah ini. Sedekah wajib atau zakat dan sunnah yang identik dalam Ramadhan diminta untuk membantu saudara yang terdampak Covid-19 secara langsung ataupun tidak.

Untuk yang terdampak langsung, orang-orang yang berkecukupan harta bisa membantu dalam pengobatan, perawatan, pengadaan alat pelindung diri (APD), atau pemakaman. Untuk yang terdampak tak langsung, orang-orang yang berkecukupan harta bisa membantu dengan memberikan sembako dan sejenisnya.

MUI pun meminta mempercepat pengumpulan zakat maal (kekayaan) walaupun belum setahun. Hal itu memungkinkan. ”Dengan mengumpulkan zakat maal lebih cepat, itu bisa disegerakan untuk kepentingan beri dukungan mengurangi beban orang-orang kurang mampu yang terdampak Covid-19. Zakat yang biasa digunakan untuk kepentingan fisik masjid kini mari dimanfaatkan untuk menyediakan APD hingga urus jenazah korban Covid-19,” kata Ni’am.

Bagi orang-orang yang tidak bisa membantu secara materi, mereka masih bisa berkontribusi di tengah wabah Covid-19 ini. Mereka bisa memberi bantuan paling sederhana, seperti tidak berkata yang buruk ataupun menyebar informasi bohong atau hoaks yang bisa memicu keresahan.

Umat Islam pun diminta tidak pulang kampung jelang Idul Fitri ini. ”Tuntutan Rasulullah, apabila ada wabah di suatu daerah, jangan pernah memasuki daerah tersebut. Sebaliknya, apabila kamu berada di daerah yang ada wabah, jangan pernah meninggalkan daerah tersebut. Kalau dipaksa, itu akan merugikan diri sendiri maupun orang lain. Ini jadinya dosa. Jadi, kalau mengaku Islam, ikuti anjuran Rasulullah itu,” tuturnya.

Selain umat Islam, agama lain juga sepakat mengajak umatnya masing-masing berkontribusi dalam upaya percepatan penanganan Covid-19. Setidaknya, dalam peringatan Paskah kemarin, umat Kristiani diajak memperkuat diakonal karitatif berbasis keluarga. Kesadaran pelayanan yang kuat dari tingkat keluarga kepada orang-orang sekitar merupakan kunci utama mendukung upaya para petugas yang sedang berjuang menghentikan penyebaran virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, China, itu.

”Dalam pengertian ini (peringatan Paskah kali ini), kita (umat Kristiani) tidak boleh membiarkan pandemi korona bermutasi sebagai epidemi keputusasaan. Keyakinan Tuhan kita adalah Tuhan kehidupan. Tentu (itu) memberikan konsekuensi etis bagi kita untuk selalu mengembangkan prilaku pro hidup yang membela dan merawat kehidupan secara khusus dalam korona ini,” kata Pendeta Jacky Manuputty, Sekretaris Umum Persatuan Gereja-gereja Indonesia.

Oleh ADRIAN FAJRIANSYAH

Editor: ALOYSIUS BUDI KURNIAWAN

Sumber: Kompas, 17 April 2020

Share
x

Check Also

Mahasiswa Universitas Brawijaya ”Sulap” Batok Kelapa Jadi Pestisida

Mahasiswa Universitas Brawijaya Malang membantu masyarakat desa mengubah batok kelapa menjadi pestisida. Inovasi itu mengubah ...

%d blogger menyukai ini: