Home / Berita / Kompetisi Rancang Bangun Memacu Pendidikan Teknik

Kompetisi Rancang Bangun Memacu Pendidikan Teknik

Sampai dengan pukul 19.00 WIB, Kamis (8/3), 5 tim dari 26 tim mahasiswa Indonesia telah lulus inspeksi teknis untuk balapan dalam Shell Eco-marathon 2018 di Singapura. Kompetisi tahunan rancang bangun mobil masa depan hemat energi itu dianggap amat menantang sekaligus salah satu tolok ukur kualitas dan pencapaian pendidikan teknik di Indonesia.

Inspeksi teknis untuk tim-tim lainnya dilanjutkan pada Jumat (9/3) ini. Diharapkan semua mobil tim mahasiswa Indonesia lulus inspeksi teknis untuk selanjutnya mengikuti lomba jelajah sirkuit. Seperti tahun lalu, kompetisi yang diinisiasi dan didukung penuh oleh perusahaan energi internasional, Shell, diadakan di Changi Exhibition Center. Kompetisi berlangsung sampai Minggu (11/8) dengan penghujung acara ialah Driver’s World Championship Asia. Kompetisi diikuti oleh 126 tim dari 18 negara dimana Indonesia dengan 26 tim menjadi kontestan terbanyak diikuti Filipina (17 tim) dan Thailand (13 tim).

–Tim mahasiswa Universitas Syiah Kuala, Aceh, mempersiapkan mobil untuk inspeksi teknis di area kompetisi rancang bangun mobil masa depan hemat energi Shell Eco-marathon 2018, Kamis (8/3), di Changi Exhibition Center, Singapura. Di kompetisi tingkat Asia yang memasuki tahun kesembilan ini, Indonesia mengirim 26 tim dari 20 perguruan tinggi. Indonesia bersaing dengan 120 tim dari kampus-kampus 17 negara di Asia.–Kompas/Ambrosius Harto (BRO)

Mobil yang lulus inspeksi teknis ialah milik tim Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Institut Teknologi Bandung, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Institut Teknologi Medan, dan Universitas Lambung Mangkurat (Unlam). Tahun ini, tiga perguruan tinggi untuk pertama kali ikut dalam persaingan yakni Universitas Syiah Kuala, Universitas Lampung, dan Universitas Muhammadiyah Pontianak.

Presiden Direktur Shell Indonesia Darwin Silalahi mengatakan, dalam kompetisi berformat festival yang terbuka untuk umum itu, tim-tim ditantang untuk mengeksplorasi solusi transportasi untuk tantangan energi masa kini dan masa depan. Tim merancang dan membangun kendaraan masa depan yang dapat dipacu sejauh-jauhnya dengan konsumsi energi seminim mungkin.

–Tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember, Surabaya, Jawa Timur, menunggu inspeksi teknis di area kompetisi rancang bangun mobil masa depan hemat energi Shell Eco-marathon 2018, Kamis (8/3), di Changi Exhibition Center, Singapura. Di kompetisi tingkat Asia yang memasuki tahun kesembilan ini, Indonesia mengirim 26 tim dari 20 perguruan tinggi. Indonesia bersaing dengan 120 tim dari kampus-kampus 17 negara di Asia.–Kompas/Ambrosius Harto (BRO)

Dua kategori
Adapun untuk Driver’s World Championship Asia, yang dilombakan ialah kendaraan yang dapat dipacu secepat mungkin menempuh jarak tertentu dengan konsumsi energi seminim mungkin. Dalam kompetisi ada dua kategori rancang bangun. Prototipe ialah lomba untuk memaksimalkan efisiensi sumber energi melalui elemen desain inovatif. Urban ialah lomba desain mobil hemat energi dengan kebutuhan riil transportasi perkotaan.

Hanya ada dua jenis sumber energi untuk mobil yang dipakai dalam kompetisi. Pertama ialah bahan bakar mesin pembakaran dalam meliputi bensin, solar, etanol, dan cairan dari gas alam. Kedua ialah mobilitas listrik dengan sel bahan bakar hidrogen dan baterai berbasis lithium. “Kompetisi ini pada prinsipnya mengajak dunia akademik terlibat aktif dalam pencarian solusi hemat energi di masa depan,” kata Darwin.

Ketua Program Studi Teknik Mesin Unlam Achmad Khusairi Samlawi yang mendampingi tim di Singapura mengatakan, kompetisi mendorong mahasiswa untuk meningkatkan diri dalam kerja sama rancang bangun mobil masa depan. Dalam tataran praktis, mobil rancangan tim merupakan modifikasi dari mesin sepeda motor yang akrab dengan kehidupan masyarakat di Kalsel dan Indonesia pada umumnya. “Kami berupaya menciptakan paten-paten suku cadang yang dapat membuat kerja mesin menjadi amat irit bahan bakar,” katanya.

–Suasana di area inspeksi teknis kompetisi rancang bangun mobil masa depan hemat energi Shell Eco-marathon 2018, Kamis (8/3), di Changi Exhibition Center, Singapura. Di kompetisi tingkat Asia yang memasuki tahun kesembilan ini, Indonesia mengirim 26 tim dari 20 perguruan tinggi. Indonesia bersaing dengan 120 tim dari kampus-kampus 17 negara di Asia.–Kompas/Ambrosius Harto (BRO)–08-03-2018

Meningkatkan reputasi
Dosen Fakultas Teknik UPI Sriyono mengatakan, prestasi seperti diraih pada 2016 dengan menjadi juara dunia Driver’s World Championship meningkatkan gengsi kampus di dunia internasional. “Dengan berprestasi di kompetisi ini, kampus-kampus Indonesia diperhitungkan sehingga baik untuk pengembangan akademik di masa depan,” katanya.

Dosen Fakultas Teknik UNY Sutiman menambahkan, keikutsertaan di kompetisi internasional dari sisi keuangan memang cukup berat. Untuk rancang bangun, suatu tim bisa menghabiskan minimal Rp 100 juta. Untuk berbagai kebutuhan kompetisi, dana yang dihabiskan kurang lebih sama.

Namun, ada kepuasan, kebanggaan, dan tantangan pengembangan di masa depan jika mobil menjadi pemenang. “Mahasiswa yang terlibat dalam kompetisi ini juga bisa dianggap memiliki kelebihan bukan sekadar dalam hal teknis rancang bangun melainkan kepemimpinan dan kerja sama yang pasti bermanfaat bagi perusahaan besar,” katanya.

Kompetisi ini memperebutkan dua kategori penghargaan. On track atau dalam sirkuit dimana mobil-mobil harus mencatatkan capaian kilometer terjauh dengan konsumsi energi terhemat atau efisiensi energi terbaik. Off track atau luar sirkuit dengan turunan anugerah yakni Inovasi Teknik, Keselamatan, Desain, Komunikasi, Terfavorit Publik lewat pilihan melalui sistem dalam jaringan (online).

Menurut data Shell Eco-marathon sejak 2010, capaian tim-tim Indonesia membaik. Misalnya pada 2011, dari 28 penghargaan yang diperebutkan, 4 di antaranya diraih Indonesia. Pada 2017, dari 30 penghargaan, 8 di antaranya diraih oleh Indonesia.

Capaian terbaik Indonesia terjadi pada 2016 dengan meraih 7 dari 33 penghargaan. Indonesia menjadi negara terbanyak peraih penghargaan saat itu dengan mengungguli 117 tim dari 17 negara di Asia. Selain itu, Indonesia mengirim tiga tim ke Final Driver’s World Championship di London, Inggris. Tim Bumi Siliwangi dari UPI menjadi juara di edisi perdana kejuaraan dunia itu dengan mengalahkan pesaing dari Asia, Amerika, dan Eropa.

Chairman Shell Singapura Goh Swee Chen mengatakan, acara ini penting bagi Singapura sendiri dan Asia. Singapura merasa terhormat dalam menyelenggarakan edisi kedua Shell Eco-marathon untuk Asia. Acara ini diharapkan membuka pemahaman publik Asia tentang ide penemuan dan pemanfaatan sumber energi secara hemat untuk kehidupan lebih baik.–AMBROSIUS HARTO

Sumber: Kompas, 9 Maret 2018

Share

Leave a Reply

Your email address will not be published.

*

code

%d blogger menyukai ini: